MONITOR, Jakarta – Anak bangsa berprestasi kembali mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Basudewa, tim yang terdiri dari mahasiswa Departemen Teknik Perkapalan dan Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berhasil meraih peringkat dua dalam ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition yang diadakan oleh Worldwide Ferry Safety Association di Amerika Serikat.
Keberhasilan tim Basudewa yang terdiri dari Jangka Ruliyanto, Raja Andhika RR, Rahmat Diko Edfi, Novario Adiguna P, Alvinur, Yudha A, dan Riyan Bagus P. Seakan menegaskan bahwa Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia.
Di bawah bimbingan, Agoes Santoso, dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) dan Hasanuddin ST MT dari Departemen Teknik Perkapalan.
Agoes mengatakan, dalam kompetisi ini ada 19 negara yang mengikuti. Semua harus siap dengan kualitas hasil dan mental.
"Kita tidak menyangka bisa juara dua, yang kami tanamkan adalah terus semangat menghasilkan desain kapal yang nyaman, handal, ramah lingkungan dan efisien,” ujar Agoes, Jakarta, Minggu (25/3).
Pada Worldwide Ferry Safety Design Competition ini, penilaian desain kapal ditentukan pada keamanan, faktor ramah lingkungan, mudah dibangun, dan biaya pembangunan yang murah. Desain kapal sendiri dirancang berdasarkan studi kasus yang berada pada selat antara Singapura, Malaysia dan Batam. Penilaian terhadap desain kapal ferry peserta kompetisi ini dilakukan secara online jarak jauh.
Secara struktur, desain kapal ferry rancangan Tim Basudewa memiliki keunggulan di bagian stabilitas, konstruksi kapal, serta disesuaikan dengan karakter dermaga dan laut yang mengacu pada ombak di Selat Singapura sebagai studi kasus. Sementara sistem keamanan kapal ferry ini dirancang berdasarkan regulasi Safety of Life at Seas (Solas) 3 dan 4, di mana kapal memiliki pemadam api dan rute evakuasi sebagai standar keselamatan.
Selain itu, kapal ferry yang didesain tim mahasiswa ITS ini digerakkan menggunakan teknologi twin screw water jet sebagai tenaga penggerak dengan menggunakan bahan bakar hibrida sebagai sumber energi. Menurut Jangka, penggunaan bahan bakar hibrida lebih hemat dari segi biaya operasional dibanding kapal ferry di Selat Singapura pada umumnya.
