Pendaftaran Capres dan Cawapres Pilpres 2019 hanya tinggal lima bulan. Tanggal 4-10 Agustus merupakan tanggal yang menentukan dalam sejarah bangsa kedepan. Karena pada tanggal tersebut akan diketahu siapa saja Capres dan Cawapres untuk Pilpres 2019. Lima bulan merupakan waktu yang sangat singkat dalam mencari dan menentukan pasangan Capres dan Cawapres terbaik.
Baru dua Capres yang berencana maju dalam Pilpres 2019 nanti, yaitu Jokowi sang incumbent dan Rizal Ramli. Rizal Ramli yang mantan menteri pada era Gus Dur dan Jokowi –Rizal Ramli “Menko Maritim” diganti oleh Luhut B. Panjaitan—sudah mendeklarasikan diri maju sebagai Capres. Dan juga melakukan road show dan lobi-lobi politik mendatangi tokoh-tokoh nasional guna memuluskan langkah politiknya.
Ikhtiar Rizal Ramli untuk menjadi Capres patut didukung dan diapresiasi. Semakin banyak tokoh yang muncul dan dimunculkan menjadi Capres semakin baik. Karena masyarakat akan banyak diberi pilihan pemimpin bangsa kedepan. Namun Rizal Ramli perlu untuk meraih simpati rakyat agar elektabilitasnya naik dan menyaingi Jokowi. Dan juga harus mendapat dukungan dan rekomendasi dari partai politik. Langkah dan ikhtiar Rizal Ramli memang tidak mudah. Tapi harus tetap jalan.
Sedangkan Jokowi sang petahana. Walaupun belum melakukan deklarasi untuk pencapresan dirinya. Sudah dapat dipastikan akan maju dan bertarung kembali menjadi Capres yang kedua kalinya di 2019 mendatang. Bahkan Jokowi sudah membentuk koalisi gemuk dengan sudah mendapat dukungan dari Partai Nasdem, PDIP, Golkar, PPP, dan Hanura. Dan juga dari partai baru PSI dan Perindo.
Dilain pihak, ada Prabowo Subianto yang menjadi pesaing serius Jokowi di Pilpres 2019. Jika Ketua Umum Partai Gerindra tersebut deklarasi dan maju menjadi Capres 2019, maka kemungkinan pertarungan Pilpres 2014 yang lalu akan terulang kembali. Dimana terjadi head to head antara Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa. Dan jika terjadi head to head lagi di Pilpres 2019, maka kemungkinan Jokowi akan unggul kembali.
Namun politik selalu menghadirkan kejutan. Politik bukan matematik. Namun politik itu seni kemungkinan. Jadi mungkin menang, mungkin juga kalah, mungkin naik, mungkin juga turun. Karena serba kemungkinan itulah dipolitik apapun bisa terjadi. Jokowi mungkin saja akan memenangkan pertarungan Pilpres 2019 karena memang elektabilitasnya paling tinggi jika dibandingkan Capres lainnya. Itupun jika ekonomi dan politik stabil.
Namun jika dolar terus naik, ekonomi carut-marut dan politik tidak stabil mungkin saja Prabowo yang akan terpilih menjadi Presiden RI di 2019 nanti. Kemungkinan-kemungkinan itu selalu ada dan terbuka. Laiknya seni, politik menjadi sesuatu yang indah dan menarik bagi para politisi.
Jika demokrasi di Indonesia mau sehat, maka Prabowo harus maju sebagai Capres untuk menantang Prabowo. Apapun resikonya. Karena kalah dan menang itu biasa dalam pertarungan. Dan jangan biarkan Jokowi melawan kotak kosong. Demokrasi mendorong kompetisi yang sehat antara para pemimpin bangsa untuk menjadi yang terbaik. Demokrasi yang sehat juga menghendaki adanya keseimbangan politik.
Mungkinkah Prabowo menjadi cawapresnya Jokowi. Dalam politik kemungkinan itu selalu ada. Namun sepertinya kemungkinan tersebut sangat kecil. Boleh saja elit politik dan masyarakat menjodohkan Jokowi dengan Prabowo, alasannya bisa jadi agar masyarakat yang selama ini terpolarisasi mejadi dua kubu –Prabowo dan Jokowi—menjadi bersatu dan agar terjadi konsensus nasional.
Sepertinya Jokowi tidak akan mau berpasangan dengan Prabowo. Jika Jokowi jadi berpasangan dengan Prabowo, dapat dipastikan Jokowi tidak akan bisa tidur. Ya tidak akan bisa tidur. Karena jika pasangan Jokowi-Prabowo terpilih pada Pilpres 2019 nanti, maka akan ada dua matahari kembar. Matahari itu akan ada dua yaitu Jokowi dan Prabowo. Jika itu terjadi, maka Jokowi tidak akan bisa tenang, was-was, dan akan dihantui oleh bayang-bayang kejatuhan.
Prabowo juga akan mengalami kerugian jika menjadi cawapresnya Jokowi. Karena level Prabowo adalah presiden bukan wakil presiden. Dan Partai Gerindra yang dipimpinnya tidak akan naik elektabilitasnya jika hanya berpasangan dengan Jokowi. Jika Prabowo jadi cawapresnya Jokowi, Prabowo dan Partai Gerindra akan terhalang, tertutup, dan dibayang-bayangi oleh partai-partai pendukung Jokowi.
Namun jika Prabowo menjadi capres untuk menantang Jokowi. Hanya akan ada dua kemungkinan. Kemungkinan menang dan kemungkinan kalah. Prabowo bisa menang jika Jokowi banyak melakukan blunder, ekonomi goncang, atau politik tidak stabil sehingga menggerus elektabilitasnya. Namun jika Jokowi masih bisa menjaga stabilitas ekonomi dan politik, juga tidak melakukan blunder politik seperti Ahok, maka Jokowi bisa tenang dan melenggang ke istana kembali.
Prabowo harus maju menjadi capres demi untuk menaikan elektabilitas Partai Gerindra. Jika Prabowo maju, maka pemberitaan Prabowo dalam kampanye akan mengkatrol dan menaikan citra dan elektabilitas Partai Gerindra. Karena bagaimanapun masyarakat mengetahui dan meyakini bahwa Prabowo adalah Gerindra dan Gerindra adalah Prabowo. Jadi Prabowo tanpa Gerindra langkahnya akan berat. Dan Gerindra tanpa Prabowo seperti ayam kehilangan induknya.
Prabowo jangan mau dan jangan pernah mau ada dalam bayang-bayang Jokowi. Prabowo dan Partai Gerindra harus mengambil sikap untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2019 nanti. Jangan biarkan Jokowi melanggeng tanpa perlawanan. Rakyat pasti akan memilih pemimpin yang terbaik. Elektabilitas Jokowi yang masih dibawah 50% memungkinkan Prabowo untuk bisa menyalip dan memenangkan pertandingan.
Jangan mau menjadi cawapres. Jadilah capres yang mau dan mampu menantang dan menumbangkan sang petahana. Jika itu terjadi, maka sejarah akan menjadi milik anda. Cawapres adalah ban serep, sedangkan capres adalah ban utama. Menjadi ban utama tentu sangat menyenangkan dibandingkan hanya dengan menjadi ban serep. Menjadi capres lebih dahsyat daripada hanya menjadi cawapres.
