Categories: NASIONAL

Jika Politik Diperbincangkan di Meja Makan, Tanda Negara Penuh Gejolak

MONITOR, Jakarta – "Situasi politik Indonesia sedang genting" begitu Pengamat Politik dari Kantor Konsultan Politik dan Lembaga Survei Konsepindo Research & Consulting, Veri Muhlis Arifuzzaman menggambarkan kondisi politik nasional saat ini. Indikasinya yakni perbincangan politik telah sampai pada tingkat keluarga, alias diperbincangkan di meja makan. Orang dimana-mana bicara politik. Situasinya mirip era politik jadi panglima.

Ia menuturkan, kondisi yang demikian pernah terjadi pada kurun waktu tahun 60-65, dimana masyarakat aktif berbincang mengenai situasi nasional politik mengingat peristiwa-peristiwa mencekam juga terjadi di kurun waktu tersebut. "Intinya kalau politik telah menjadi salah satu menu rutin di meja makan pada setiap rumah itu tandanya negara sedang bergolak," kata Veri saat berbincang dengan MONITOR  di kantornya, Rabu (2/8).

Situasi ini, jika berujung pada ketidakpuasan dan kekecewaan pasti akan memunculkan gejolak. Bisa juga dikhawatirkan dapat menimbulkan perpecahan, atau yang paling menakutkan yakni melahirkan pemberontakan.  

Suasana kekecewaan juga akan muncul di kalangan yang merasa dipergunakan sebagai alat bargain. Bisa saja itu kalangan aparat sipil negara atau aparat keamanan dan pertahanan negara. Bukan tidak mungkin ada perwira muda yang tidak suka melihat para pensiunan jenderal yang duduk di pemerintahan asyik dengan agenda politiknya masing-masing. "Jangan lupa, Pak Jokowi itu dikelilingi para jenderal didikan orde baru, mereka banyak pegang kendali kebijakan sekarang ini," ujarnya.

Veri menegaskan idealnya politik jangan jadi panglima. Jangan segala urusan jadi bargain. Sampai hal-hal kecil urusan bisnis jadi lari ke urusan politik. Kalau politik jadi panglima, pasti semua jadi arena adu kuat, negosiasi, transaksi.

Veri menekankan pentingnya hadir para negarawan yang menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Di tataran masyarakat juga perlu adanya tokoh yang mampu mendamaikan pihak-pihak yang tengah berkonflik secara politik. "Kita rindu ada tokoh sekaliber Gus Dur, sekaliber Cak Nur. Yang tampil di tengah mendamaikan tanpa pamrih. Sekarang ini bahkan para intelektual banyak yang berhadapan membela kelompok kepentingannya. Ini mengerikan," tegasnya.

Untuk itu ia berpesan, pemerintahan saat ini harus hati-hari dalam melaksanakan agenda kembali ke Pancasila dan UUD 1945. "Jangan sampai Pancasila dijadikan alat gebug seperti era orde baru. Alat negara tidak boleh jadi alat gebug, jadi alat politik penguasa. Jangan oposisi ditindas dan yang berbeda dihajar," pungkasnya.

Recent Posts

40 Guru Madrasah Dapat Beasiswa S1, STAI Syekh Manshur Apresiasi Program Madrasah Gemilang

MONITOR, Pandeglang - Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syekh Manshur Pandeglang mengapresiasi Program Beasiswa Madrasah…

11 jam yang lalu

Kemenhaj Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Uzbekistan Lewat Wisata Religi

MONITOR, Tashkent - Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf mendorong penguatan hubungan Indonesia…

12 jam yang lalu

Wakili Megawati Hadiri HUT Demokrat, Rokhmin Dahuri: Persatuan Nasional di Atas Kompetisi Politik

MONITOR, Jakarta - Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Ir. Rokhmin…

14 jam yang lalu

Bansos Bukan untuk Judol, SDM PKH Lumajang Perkuat Edukasi PKM

MONITOR, Lumajang - Upaya mencegah judi online (judol) menyasar keluarga penerima manfaat terus diperkuat hingga…

15 jam yang lalu

LPDB Koperasi Perkuat Tata Kelola dan Mitigasi Risiko Hukum untuk Jaga Dana Bergulir

MONITOR, Bandung - LPDB Koperasi terus memperkuat tata kelola, kepastian hukum, dan mitigasi risiko dalam…

17 jam yang lalu

Perkuat Tata Kelola Investasi, Pemerintah Integrasikan Perizinan TKA

MONITOR, Jakarta — Pemerintah memperkuat tata kelola investasi dengan mengintegrasikan pelayanan penggunaan Tenaga Kerja Asing…

17 jam yang lalu