Categories: DAERAHJABAR-BANTEN

Bupati Dedi Bicara Tentang Efisiensi

Monitor, Jawa Barat-Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi salah satu daerah yang patut dicontoh dalam pengelolaan anggarannya di tengah cekaknya APBD.

Realisasi pendapatan Kabupaten Purwakarta tahun 2013 sebesar Rp1,37 triliun kemudian naik menjadi Rp1,75 triliun pada 2014. Kemudian pada tahun 2015 pendapatan meningkat menjadi Rp1,97 triliun pada tahun 2015.

Namun, pendapatan tersebut memang masih didominasi oleh pendapatan transfer. Pada 2014 PAD Kabupaten Purwakarta tercatat sebesar Rp293 miliar atau 18,37% dari total pendapatan.

Sementara itu, pendapatan transfer mencapai Rp1,24 triliun atau 78% dari total pendapatan.

Menurut Dedi, satu kunci dalam merealisasikan prioritas pembangunan daerah adalah efisiensi. Yaitu bagaimana kemampuan mengalokasikan belanja yang prioritas dan penting secara proposional dibandingkan dengan belanja lainnya.

“Kuncinya efisiensi. Belanja publik diprioritaskan, yang lain ditekan semua,” ungkap pria yang hangat disapa Kang Dedi saat ditemui tim Majalah Keuangan Negara pada akhir Juni 2016 lalu, di rumah dinasnya.

Program efisiensi Kang Dedi memang bukan basa-basi. Terbukti realisasi belanja operasi dari tahun 2012-2014 terus ditekan sampai 5,21% (yoy).

Seiring dengan itu, belanja modal terus menanjak naik, dari 15,05% (yoy) pada tahun 2012 menjadi 42,49% (yoy) di tahun 2014.

Komponen belanja operasi yang terus mengalami penurunan paling tinggi adalah belanja bantuan keuangan, dari 72,49% (yoy) di tahun 2012 dikurangi menjadi 62,62% (yoy) pada tahun 2014.

Disusul kemudian alokasi belanja hibah yang juga terus ditekan sampai 36,11% (yoy), kemudian alokasi belanja Bansos yang ditekan sampai 24,97% (yoy) dan belanja barang ditekan hanya tumbuh 12,57% (yoy) di tahun 2014 dari 43,58% di tahun 2013. Sementara itu, alokasi belanja modal paling melejit persentase pertumbuhannya adalah belanja tanah dan belanja jalan, irigasi dan jaringan masing-masing pertumbuhannya 286% (yoy) dan 32,72% (yoy) di tahun 2014.

“Kami telah mampu membangun infrastruktur jalan hingga ke pelosok desa. Bahkan membelah hutan sepanjang 57 km, dengan lebar jalan 12 meter dan beton 30 cm,” papar Dedi.

Recent Posts

Kabel Menjuntai Sebabkan Siswi SMA Tewas, Mardani DPR Sebut Utilitas Kota Harus Pastikan Keselamatan Publik

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera menyampaikan keprihatinan atas insiden…

1 jam yang lalu

Legislator: Layanan Kesehatan Jiwa Bagi Korban Penyekapan Perempuan di Bandung Harus Jadi Bagian Proses Pemulihan

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher menyampaikan keprihatinan mendalam atas…

5 jam yang lalu

Soal Usul Pasien TBC Jadi Penerima MBG, Legislator Ingatkan Agar Ada Kajian Komprehensif

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadimempertanyakan komitmen Pemerintah dalam mewujudkan kemandirian vaksin…

5 jam yang lalu

UIN Jakarta Tuan Rumah AIUA 2026: Mengintegrasikan Sains, Teknologi, dan Perdamaian dalam Pendidikan Tinggi Islam Global

MONITOR, ​Jakarta — UIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi menjadi tuan rumah International Seminar and The…

6 jam yang lalu

Dugaan Permainan Politik Tingkat Tinggi, IPW Desak Kepastian Hukum Kasus Roy Suryo dan dr Tifa cs

MONITOR, Jakarta - Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso menilai terdapat sejumlah kejanggalan…

11 jam yang lalu

Menaker: Kolaborasi Pemerintah, Dunia Usaha, dan Organisasi Pekerja Kunci Penguatan Daya Saing Tenaga Kerja

MONITOR, Jakarta — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan…

12 jam yang lalu