Waketum MUI: Puasa Bukan Sekadar Menahan Haus dan Lapar

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhdi Saadi

MONITOR, Jakarta – Sejumlah kalangan memaknai bulan suci Ramadhan sebagai ajang instrospeksi diri dan berlomba-lomba menebarkan kebaikan. Hal demikian dilakukan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi.

Di bulan yang suci ini, Zainut ingin mengajak umat Islam untuk tetap tenang, damai serta mengembangkan sikap toleransi dalam menjalankan agama agar tidak terjebak pada sikap egoisme kelompok yang dapat melahirkan pertentangan dan perselisihan termasuk perbedaan paham keagamaan.

Selain itu, yang utama dikatakan Zainut, setiap Muslim harus menghindari perbuatan yang sia-sia dan pemborosan dan hal-hal lain yang mendatangkan kemudharatan bagi diri sendiri dan orang lain.

“Berpuasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang dapat membatalkannya. Namun, puasa juga dapat melatih kepekaan kita terhadap kesulitan orang lain, melatih empati kita kepada orang yang belum beruntung, dan keberpihakan kita kepada orang yang teraniaya,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima MONITOR, Kamis (17/5).

Lebih dari itu, menurutnya puasa dapat membentuk pribadi yang menghargai nilai-nilai kemanusian dan hak asasi manusia. Puasa dapat menjauhkan diri dari perbuatan zalim, aniaya, teror dan bentuk kerusakan lainnya.

Politikus PPP ini menyatakan, implementasi nilai-nilai Islam tentang perdamaian, kasih sayang dan keadilan akan lebih mudah ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah puasa. Sehingga diharapkan nilai-nilai tersebut akan terus menjadi bekas (atsar) dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi sesungguhnya tujuan berpuasa itu adalah membentuk seorang muslim yang memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial, yang dapat menyeimbangkan hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horisontal dengan manusia,” paparnya.