Rokhmin Dahuri dorong Perubahan Paradigma Ekonomi Dunia di KorAsia Forum

Prof. Rokhmin Dahuri saat menjadi panelis di KorAsia Forum di Seoul, Korea, Rabu (7/11/2018). Foto : dok. MONITOR

MONITOR, Seoul – Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarno Putri bersama Ketua Bidang Kemaritiman yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan IPB, Prof. Rokhmin Dahuri menghadiri Korea-Asia Forum di Dragon City, Seoul, Korea Selatan, Rabu (7/11/2018).

Dalam forum yang dihadiri oleh Perdana Menteri Kazhakstan, dan Mantan Presiden Mongolia beserta 1.500 peserta dari seluruh dunia itu, Megawati hadir untuk menyampaikan keynote speaker, semantara Rokhmin Dahuri bersama Dr. Timofei V Bordachev (Rusia) menjadi penelis yg dimoderatori oleh Dr. Jeong Se-hyun (Chairman of the Korean Peninsula Peace Forum). Keduanya menekankan pentingnya perubahan paradigma ekonomi konvensional dunia yang saat ini ada untuk pembangunan berkelanjutan demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan baik di Kawasan asia maupun dunia.

Megawati Soekarno Putri saat menyampaikan Keynote Spech di KorAsia Forum di Seoul, Korea, Rabu (7/11/2018). Foto : dok. MONITOR

Mengangkat topik “The Positive Influence of Permanent Peace in Korean Peninsula for a Better and Sustainable Asia and the World”, Megawati mengajak seluruh negara di Asia untuk bersama-sama menyokong proses perdamaian Korea Selatan dan Korea Utara di Semenanjung Korea yang dinilainya sebagai semenanjung kedaulatan negara-negara Asia.

“Bagi saya, Semenanjung Korea adalah semenanjung kedaulatan bangsa Asia. Tak ada lagi negara dan bangsa yang dapat mengucilkan diri dari bangsa-bangsa lain,” kata Megawati.

Sementara itu, Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi peradaban manusia di abad 21 adalah bagaimana mempertahankan pembangunan ekonomi dan, pada saat yang sama, mempertahankan daya dukung dan kualitas ekosistem alam. “Memang, pembangunan berkelanjutan zaman kita adalah di persimpangan jalan. Di satu sisi, kami berkewajiban untuk memanfaatkan sumber daya alam Bumi dan jasa lingkungan kami untuk memenuhi permintaan manusia yang terus meningkat untuk makanan, pakaian, obat-obatan, bahan bangunan, energi, mineral; dan lahan untuk perumahan, industri, pertanian, pariwisata, dan infrastruktur,” ujarnya.

Selain itu, lanjut mantan menteri kelautan dan perikanan tersebut pengembangan sumber daya alam termasuk perikanan, hutan, minyak dan gas, batubara, dan berbagai mineral juga telah digunakan sebagai sarana untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini terutama berlaku di negara-negara berkembang yang terdiri dari negara-negara miskin dan negara berkembang.

Sekarang ada sekitar 7,4 miliar orang di Bumi, kira-kira 9 kali lipat dari 800 juta orang yang diperkirakan hidup pada tahun 1750, pada awal Revolusi Industri. Dan, populasi dunia terus meningkat sekitar 75 juta orang per tahun. Sebentar lagi akan ada 8 miliar orang pada tahun 2030, dan mungkin 9 miliar orang pada tahun 2050,” tambahnya.

Populasi global yang sedang berkembang ini mencari pijakan mereka dalam ekonomi dunia. Orang miskin berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka termasuk makanan, air minum, pakaian, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan hanya untuk bertahan hidup. “Mereka yang berada di atas garis kemiskinan sedang mencari peningkatan kemakmuran dan masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka. Mereka yang berada di negara-negara berpenghasilan tinggi mengharapkan bahwa kemajuan teknologi akan menawarkan mereka dan keluarga mereka bahkan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Tampaknya warga super kaya juga berdesakan untuk tempat mereka di peringkat dunia orang terkaya di Bumi,” tandasnya.

“Singkatnya, 7,4 miliar orang menuntut perbaikan ekonomi. Mereka melakukannya dalam ekonomi dunia yang semakin terhubung melalui teknologi terutama informasi dan komunikasi, perdagangan, keuangan, arus produksi, migrasi, dan jaringan sosial,” tambahnya.

Megawati Soekarno Putri dan Rokhmin Dahuri menghadiri KorAsia Forum

Rokhmin menegaskan, sejak awal 1990-an dunia tidak hanya secara sosial-ekonomi tidak setara tetapi juga mengancam secara ekologis ke Bumi itu sendiri. “Ekonomi dunia yang sangat besar sedang menciptakan krisis lingkungan raksasa, yang mengancam kehidupan dan kesejahteraan populasi manusia dan kelangsungan hidup jutaan spesies lain di planet ini,” tegasnya.

Untuk mencapai dunia termasuk kawasan asia yang sejahtera, damai, dan berkelanjutan ditengah tantangan diatas, Rokhmin Dahuri menyerukan adanya perubahan paradigma ekonomi konvensional (yang ada) dengan ekonomi lingkaran yang dihasilkan oleh inovasi teknologi milik Revolusi Industri Keempat (Industri 4.0).

“Perkembangan Industri 4.0 mempengaruhi semua aspek pembangunan – ekonomi, industri dan pemerintah – dan bahkan ide-ide yang menantang tentang apa artinya menjadi manusia. Kemajuan pesat dalam sains dan teknologi di era revolusi industri keempat ini melakukan lebih dari sekadar memberikan manusia tidak hanya dengan kemampuan baru, tetapi juga mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain,” ungkapnya.

Adapun jenis teknologi milik era revolusi industri keempat sejak awal abad ke-21 meliputi: Artificial Intelligence (AI), robotika, Internet of Things (IoT), kendaraan otonom, pencetakan 3D, bioteknologi, nanoteknologi, ilmu material, baru dan terbarukan. energi, penyimpanan energi dan komputasi kuantum.