48 Ribu Warga Rohingya Melahirkan di Kamp Pengungsian

MONITOR, Washington DC – Tahun 2018 ini diperkirakan sebanyak 48.000 bayi Rohingya diperkirakan lahir di kamp-kamp pengungsi dan tempat-tempat penampungan darurat di Bangladesh. 

Badan amal yang mengurus masalah pengungsi, Save the Children, menyatakan bahwa sejak hari kelahiran, mereka akan menghadapi risiko yang kian meningkat, seperti mengidap penyakit, menderita kekurangan gizi dan dikuatirkan meninggal dalam usia balita.

Penasihat kesehatan Save the Children, Rachel Cummings, seperti dikutip dari VOA Indonesia, Minggu (7/1), mengatakan kamp-kamp pengungsi memiliki sanitasi yang buruk dan menjadi tempat penyebaran penyakit, seperti difteri, campak dan kolera, yang terutama rawan bagi bayi-bayi baru lahir. Rachel mengatakan kondisi di kamp-kamp itu sangat memilukan bagi anak-anak.

Survei badan urusan anak-anak PBB, UNICEF, bulan lalu mengungkapkan hingga 25% anak balita di kamp-kamp di Coxs Bazar, Bangladesh, menderita malnutrisi akut dan hampir setengah anak-anak di sana mengidap anemia. 40% anak-anak mengalami diare dan 60% menderita infeksi saluran pernapasan akut.

Save the Children sendiri telah mengoperasikan lebih dari 50 ruang ramah anak, tempat-tempat bermain anak dan program-program pendidikan dini bagi anak-anak Rohingya di berbagai kamp. Lembaga ini juga mengelola jaringan terdiri dari 9 Puskesmas di Coxs Bazar yang dilengkapi dokter,  perawat dan bidan.