MONITOR, Dili – Setelah memaparkan konsep pengembangan ekonomi biru di hadapan Wakil Perdana Menteri Timor-Leste Francisco Kalbuadi Lay dan jajaran pemerintah di Dili, Tim Ahli Pembangunan Kelautan, Perikanan dan Pariwisata Bahari DPP PDI Perjuangan yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri bergerak ke Pulau Atauro, Selasa (7/10/2026).
Kunjungan lapangan tersebut menjadi tahap penting untuk memastikan roadmap pengembangan kelautan dan perikanan Timor-Leste tidak berhenti pada gagasan dan pertemuan tingkat pemerintah, tetapi disusun berdasarkan kondisi ekologis, sosial, ekonomi, serta potensi nyata masyarakat pesisir.
Sebelumnya, dalam pertemuan di Kantor Wakil PM Timor-Leste, Dili, Rokhmin memaparkan potensi sekaligus sejumlah persoalan sektor kelautan Timor-Leste, mulai dari produktivitas nelayan yang masih rendah, armada dan alat tangkap tradisional, budidaya laut yang belum berkembang, keterbatasan cold chain, hingga pengelolaan ekowisata bahari yang masih dapat dikembangkan.
Wakil PM Francisco Kalbuadi Lay menyampaikan harapan agar Indonesia dapat berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan sektor kelautan dan perikanan. Pertemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan agenda observasi langsung ke Atauro.
Rokhmin mengatakan, Atauro menjadi laboratorium lapangan untuk melihat secara langsung bagaimana kekayaan laut dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Roadmap tidak boleh disusun di atas meja saja. Ia harus berbasis pada data lapangan dan kearifan lokal masyarakat Atauro dan Timor-Leste secara umum,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Dari Potensi Laut ke Industri Bernilai Tambah
Menurut Rokhmin, kekayaan laut Timor-Leste tidak semestinya dilihat hanya dari hasil tangkapan ikan atau keindahan kawasan pesisir untuk pariwisata.
Potensi ekonomi biru jauh lebih luas karena mencakup pemanfaatan biomassa laut untuk pangan, farmasi, kosmetik, biomaterial, energi, hingga berbagai produk industri berbasis bioteknologi.
Dalam pemaparannya, Rokhmin bahkan menyoroti potensi pemanfaatan limbah atau hasil samping biota laut sebagai bahan baku industri bernilai tinggi. Salah satunya adalah cangkang kepiting yang mengandung kitin dan kitosan, material yang telah menjadi objek pengembangan berbagai aplikasi biomedis dan industri.
Rokhmin menyebut potensi tersebut sebagai bagian dari “harta karun” ekonomi biru Timor-Leste yang selama ini belum sepenuhnya dikembangkan.
Dalam pemberitaan Askara, Rokhmin mengaitkan potensi biomaterial laut tersebut dengan perkembangan industri teknologi tinggi, termasuk penggunaan material berbasis laut dalam aplikasi kesehatan. Pernyataan mengenai nilai ekonomi yang mencapai beberapa kali industri cip dunia merupakan perhitungan atau proyeksi yang disampaikan Rokhmin dan perlu dilihat sebagai perspektif ekonominya, bukan angka industri yang telah diverifikasi secara independen.
Atauro Jadi Titik Awal
Karena itu, kunjungan ke Atauro diarahkan untuk mengidentifikasi secara langsung sumber daya yang dapat dikembangkan sekaligus memetakan persoalan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pesisir.
Atauro yang berada sekitar 25 kilometer di sebelah utara Dili dikenal memiliki ekosistem terumbu karang yang relatif terjaga dan telah diarahkan sebagai salah satu model pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Namun, bagi Rokhmin, keindahan alam saja tidak cukup.
Ekosistem tersebut harus dikembangkan menjadi basis kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah kepada masyarakat lokal tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya.
“Potensi Timor-Leste untuk menjadi kekuatan Ekonomi Biru di kawasan sangat besar. Namun, potensi itu harus diolah menjadi kegiatan ekonomi yang produktif, menguntungkan, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Rokhmin.
Empat Pilar Ekonomi Biru
Observasi Atauro akan menjadi salah satu bahan penyusunan Roadmap Pengembangan Kelautan dan Perikanan Timor-Leste yang mencakup empat sektor utama.
Pertama, perikanan tangkap berkelanjutan, dengan peningkatan produktivitas nelayan, modernisasi armada dan alat tangkap, serta penguatan tata kelola sumber daya ikan.
Kedua, marikultur atau budidaya laut, terutama untuk mengembangkan sumber pangan dan komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Ketiga, ekowisata bahari, dengan menjadikan ekosistem pesisir dan laut sebagai aset ekonomi yang dikelola berbasis masyarakat dan prinsip konservasi.
Keempat, industri pengolahan dan pemasaran hasil laut, sehingga Timor-Leste tidak hanya menjual komoditas mentah, tetapi mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Keempat sektor tersebut juga membuka ruang pengembangan ekonomi biru generasi baru berbasis blue biotechnology.
Bagi Rokhmin, inilah titik penting transformasi ekonomi biru: laut tidak hanya dipandang sebagai sumber daya untuk diambil, tetapi sebagai ekosistem yang menghasilkan pengetahuan, inovasi, industri, lapangan kerja, dan nilai tambah.
Diplomasi dari Ruang Pertemuan ke Lapangan
Kunjungan Atauro sekaligus memperlihatkan pola kerja tim ahli yang dipimpin Rokhmin setelah pertemuan dengan pemerintah Timor-Leste.
Jika pertemuan di Dili menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan dan menyamakan arah kebijakan, maka Atauro menjadi ruang untuk menguji gagasan tersebut dengan realitas masyarakat.
“Dari Dili kita diskusikan konsep, di Atauro kita lihat faktanya. Dari sanalah rekomendasi dan roadmap akan kita susun,” ujar Rokhmin.
Agenda tersebut merupakan tindak lanjut penugasan DPP PDI Perjuangan kepada Rokhmin untuk melakukan komunikasi dan kerja sama dengan Pemerintah Timor-Leste di bidang kelautan dan perikanan. Dalam pertemuan di Dili, kerja sama tersebut juga dikaitkan dengan komitmen yang dibangun dalam pertemuan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan Pemerintah Timor-Leste pada Juni 2026.
Bagi tim ahli, hasil observasi di Atauro diharapkan tidak berhenti sebagai laporan perjalanan. Data lapangan akan menjadi bahan untuk merumuskan rekomendasi mengenai bagaimana kekayaan laut Timor-Leste dapat dikembangkan menjadi fondasi ekonomi biru yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
Dengan demikian, perjalanan dari Dili menuju Atauro menjadi lebih dari sekadar kunjungan lapangan. Ia menjadi langkah dari diplomasi gagasan menuju diplomasi pembangunan: dari meja pertemuan, turun melihat laut, bertemu masyarakat, memetakan potensi, lalu menyusun jalan menuju ekonomi biru yang bernilai tambah.
