MONITOR, Medan — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM) memperkuat ekosistem kewirausahaan melalui Bursa Wirausaha Unggulan Provinsi Sumatera Utara sebagai jembatan bagi wirausaha hasil inkubasi untuk mengakses pembiayaan, pasar, teknologi, perizinan, sertifikasi, serta kemitraan usaha.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan, Bursa Wirausaha Unggulan bukan sekadar seminar atau pameran, melainkan bagian dari proses berkelanjutan untuk memastikan wirausaha yang telah memperoleh pelatihan, pendampingan, dan inkubasi dapat mengembangkan usahanya secara produktif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, produk dan usaha yang telah dipersiapkan dalam proses inkubasi dipertemukan dengan calon pembeli, lembaga pembiayaan, mitra usaha, penyedia teknologi, hingga jejaring pemasaran dan logistik.
“Kita mencoba menjadikan lembaga-lembaga inkubasi ini untuk menyiapkan sekitar 500 UMKM agar mendapatkan pembinaan dan pemberdayaan secara komprehensif, mulai dari perizinan, legalisasi, teknologi, peningkatan produksi, pelatihan, hingga akses pemasaran,” kata Menteri Maman dalam Bursa Wirausaha Unggulan Provinsi Sumatera Utara di Auditorium Universitas Sumatera Utara (USU), Kamis (20/8).
Menurut Menteri Maman, Kementerian UMKM juga mengoptimalkan keberadaan lembaga inkubasi di dalam maupun di luar kampus untuk memperluas jangkauan pendampingan terhadap sekitar 57 juta UMKM di Indonesia. Di Sumatera Utara, terdapat 17 lembaga inkubator yang berpotensi menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem kewirausahaan daerah.
Penguatan ekosistem tersebut dilakukan melalui tiga tahapan yang saling terhubung. Tahap pertama adalah memperkuat fondasi usaha melalui inkubasi, pendampingan, dan PRO-KESRA Produktif. Tahap kedua membuka akses pertumbuhan melalui Bursa Wirausaha Unggulan. Selanjutnya, keberlanjutan pendampingan pascainkubasi diperkuat melalui SAPA UMKM.
“PRO-KESRA Produktif kita siapkan untuk menyeragamkan kurikulum dan kebijakan, termasuk pembiayaan serta pembinaan dan pelatihan antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota agar lebih terukur dan tepat sasaran. Targetnya, sesuai arahan Presiden, sekitar 10 juta wirausaha dan pekerja,” ungkap Menteri Maman.
Pada tahap berikutnya, Bursa Wirausaha Unggulan menghadirkan business matching agar wirausaha yang telah siap dapat bertemu langsung dengan calon mitra dan memperoleh akses terhadap pembiayaan serta pasar.
Menteri Maman menekankan bahwa keberhasilan program kewirausahaan tidak cukup diukur dari banyaknya peserta atau produk yang dipamerkan. Ukuran yang lebih penting adalah tindak lanjut yang dihasilkan, baik berupa pembiayaan, transaksi, kemitraan, pembukaan pasar baru, maupun peningkatan skala usaha.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Maman juga menyampaikan perkembangan akses pembiayaan bagi UMKM di Sumatera Utara. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di provinsi tersebut telah mencapai sekitar Rp11 triliun kepada sekitar 168 ribu debitur. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp7,56 triliun mengalir ke sektor produksi.
Khusus melalui Bank Sumut, penyaluran KUR telah mencapai sekitar Rp954 miliar atau mendekati Rp1 triliun. Melihat kinerja penyaluran tersebut, Kementerian UMKM akan mengupayakan peningkatan kuota KUR Bank Sumut hingga sekitar Rp2 triliun untuk semakin memperluas akses pembiayaan bagi UMKM di Sumatera Utara.
Menteri Maman mengatakan, penguatan kewirausahaan nasional juga memperoleh landasan melalui Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional.
Target rasio kewirausahaan sebesar 3,6 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045 membutuhkan ekosistem yang sehat, kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Karena itu, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, inkubator, serta masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan lebih banyak wirausaha produktif.
“Kolaborasi tidak boleh berhenti pada penandatanganan, rapat, dan logo bersama. Kolaborasi harus membuka akses, melahirkan transaksi, memperluas pasar, menghadirkan pembiayaan, dan menciptakan lapangan kerja,” tegas Menteri Maman.
Menteri Maman juga berharap universitas terus mengambil peran sebagai simpul kolaborasi yang mempertemukan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, pembiayaan, dan dunia usaha. Kampus, menurutnya, tidak hanya menjadi tempat menyiapkan pencari kerja, tetapi juga ruang untuk melahirkan generasi pencipta lapangan kerja.
Di tempat yang sama, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan, Sumatera Utara memiliki sekitar 1,4 juta UMKM dengan rasio kewirausahaan sebesar 4,1 persen yang menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja. Namun, sebanyak 99,55 persen di antaranya masih berada dalam kategori usaha mikro.
Kondisi tersebut, menurut Bobby, menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan program pemberdayaan yang semakin terarah sehingga lebih banyak usaha mikro dapat berkembang menjadi usaha kecil dan usaha kecil tumbuh menjadi usaha menengah.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berkomitmen mendukung program pemerintah pusat agar UMKM terus bertumbuh, dari mikro menjadi kecil dan dari kecil menjadi menengah,” ujar Bobby.
Bobby juga menilai penguatan pembukuan, penyusunan studi kelayakan, dan peningkatan kesiapan bisnis menjadi bagian penting agar UMKM semakin mudah mengakses pembiayaan maupun investasi.
“Kita ingin program ini menghasilkan aksi nyata dan membawa UMKM naik kelas,” kata Bobby.
Senada, Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Muryanto Amin mengapresiasi dukungan Kementerian UMKM dalam memperkuat kapasitas dan akses UMKM melalui Bursa Wirausaha Unggulan. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan mitra dan dukungan yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha.
“Alhamdulillah, melalui ajang ini banyak UMKM bisa mendapatkan mitra. Support dari Pak Menteri luar biasa. Semoga ke depan semakin kuat. Komitmen USU untuk UMKM tidak perlu diragukan lagi, kami siap mendukung,” ujar Muryanto Amin.
