MONITOR, Bandung – Besarnya ekonomi Jawa Barat belum otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Di tengah PDRB yang mencapai sekitar Rp3.040 triliun, angka kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan rendahnya kualitas talenta masih menjadi pekerjaan besar.
Paradoks pembangunan itulah yang menjadi sorotan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, dalam Seminar Nasional Musyawarah Wilayah VII KAHMI Jawa Barat bertema “Transformasi Keumatan Menuju Jawa Barat Istimewa” di Grand Asrilia Hotel Convention, Bandung, Sabtu (8/8).
Di hadapan ratusan alumni HMI dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat, Prof. Rokhmin menantang Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Barat untuk keluar dari zona nyaman. Menurutnya, KAHMI tidak cukup berhenti sebagai kekuatan moral, tetapi harus tampil sebagai kekuatan transformatif yang ikut mencetak SDM unggul, menggerakkan riset, melahirkan inovasi, membuka lapangan kerja, dan memengaruhi arah kebijakan pembangunan.
“Inilah ironi kita. Basis industrinya luar biasa besar, tapi IPM Jawa Barat 2025 baru di angka 75,90. Tingkat kemiskinan per September 2025 masih 6,78 persen atau sekitar 3,55 juta jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Gini Ratio 0,397 menunjukkan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah,” tegas Prof. Rokhmin.

Menurutnya, Jawa Barat sesungguhnya memiliki modal ekonomi yang sangat besar. Pada 2025, PDRB Jawa Barat mencapai sekitar Rp3.040 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 5,32 persen. Sektor industri pengolahan menjadi tulang punggung dengan kontribusi 40,41 persen terhadap PDRB.
Namun kekuatan ekonomi tersebut belum sepenuhnya menghasilkan pekerjaan berkualitas dan peningkatan kesejahteraan yang merata.
Data yang dipaparkan Prof. Rokhmin menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat pada Februari 2026 mencapai 6,64 persen, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 4,68 persen. Pada saat yang sama, 55,80 persen pekerja Jawa Barat masih berada di sektor informal, sementara pekerja sektor formal baru mencapai 44,20 persen.
“Artinya, besarnya industri belum diikuti dengan penyediaan talenta yang link and match, penguatan inovasi, dan penciptaan pekerjaan berkualitas. Kita punya pabriknya, tapi SDM-nya belum siap,” ujarnya.
Dari Bonus Demografi ke Bonus Produktivitas
Prof. Rokhmin menilai Jawa Barat tidak bisa terus mengandalkan keunggulan sumber daya alam, bonus demografi, dan posisi geografis sebagai mesin utama pertumbuhan.
Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, termasuk disrupsi kecerdasan buatan dan otomasi, pembangunan harus bergeser menuju ekonomi berbasis SDM unggul, produktivitas, inovasi, daya saing, serta kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan.
Kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, tingginya informalitas tenaga kerja, rendahnya budaya inovasi dan produktivitas, serta ancaman otomatisasi menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan pembangunan konvensional.
“Kuncinya ada pada riset, kreativitas, kewirausahaan, hilirisasi pengetahuan, reskilling, dan pembelajaran sepanjang hayat. Tanpa itu, Jawa Barat Istimewa hanya akan menjadi slogan,” kata Prof. Rokhmin.
KAHMI: Dari Jejaring Alumni Menjadi Mesin Transformasi
Dalam konteks tersebut, Prof. Rokhmin melihat KAHMI memiliki posisi strategis yang tidak dimiliki banyak organisasi lain.
Jaringan alumni KAHMI tersebar di berbagai simpul strategis—birokrasi pemerintahan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas hingga media. Jejaring tersebut, menurutnya, merupakan modal sosial yang sangat besar apabila mampu dikonsolidasikan untuk kepentingan pembangunan.
Karena itu, KAHMI Jawa Barat didorong memainkan peran sebagai penghubung antara pengetahuan, kebijakan, modal, pekerjaan, media, dan kebutuhan masyarakat.
“Jejaring alumni KAHMI akan bernilai strategis apabila mampu menghubungkan enam hal sekaligus: ilmu, kebijakan, modal, pekerjaan, media, dan kebutuhan masyarakat. Kalau itu tersambung, modal sosial akan berubah menjadi modal produktif,” jelasnya.
Prof. Rokhmin menawarkan pendekatan kolaborasi pentahelix, yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan media. Dalam ekosistem tersebut, KAHMI dapat mengambil banyak peran: menjadi penghubung pengetahuan, mentor generasi muda, penggerak kebijakan, sekaligus investor dan pencipta lapangan kerja.
Bukan sekadar gagasan, Prof. Rokhmin bahkan menawarkan lima program yang dapat langsung dieksekusi KAHMI Jawa Barat.
Pertama, Talent and Leadership Academy, untuk mencetak pemimpin masa depan yang kompeten dan berintegritas.
Kedua, Alumni Mentoring Network, sebagai gerakan mentoring dari alumni senior kepada generasi junior.
Ketiga, Job and Apprenticeship Exchange, berupa bursa kerja dan program magang yang dikelola melalui jejaring alumni.
Keempat, Entrepreneur and Cooperative Accelerator, untuk mendorong lahirnya pengusaha dan koperasi alumni yang tangguh.
Kelima, Policy and Innovation Lab, sebagai laboratorium perumusan kebijakan pembangunan berbasis riset dan inovasi.
Prof. Rokhmin menegaskan, jika lima agenda tersebut dapat diwujudkan, KAHMI tidak hanya akan dikenal sebagai organisasi alumni besar, tetapi juga sebagai kekuatan yang mampu menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.
“Saya yakin KAHMI tidak hanya akan menjadi organisasi alumni terbesar, tetapi menjadi kekuatan transformator yang nyata. Mengubah Jawa Barat dari provinsi dengan ekonomi besar menjadi provinsi dengan kesejahteraan besar. Inilah jalan kita menuju Jawa Barat Istimewa dan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Gagasan tersebut sekaligus menempatkan KAHMI pada tantangan yang lebih besar: bagaimana mengubah kekuatan jejaring menjadi kekuatan produktif, mengubah pengetahuan menjadi inovasi, dan mengubah posisi strategis alumni menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
