Hafal 30 Juz di Usia 10 Tahun, Peserta MTQ Nasional ke-31 Asal Sumbar Ini Bagikan Kuncinya

MONITOR, Semarang – Menghafal Al-Qur’an 30 juz membutuhkan ketekunan dan konsistensi. Bagi Muslim Dermiwa Riko Putra, peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke-31 Tahun 2026 asal Sumatera Barat, proses itu dimulai sejak usia dini.

Muslim mulai menghafal Al-Qur’an ketika berusia 5 tahun. Saat itu, ia dimasukkan ke Taman Kanak-kanak (TK) Tahfiz. Dua tahun kemudian, saat berusia 7 tahun, ia telah menyelesaikan pendidikan di TK tersebut dengan hafalan mencapai 15 juz.

“Alhamdulillah, sejak kecil sudah mulai menghafal Al-Qur’an. Tepatnya dari umur 5 tahun. Alhamdulillah, saya sudah dimasukkan ke TK Tahfiz. Sampai umur 7 tahun, Alhamdulillah, tamat dari sana. Waktu itu hafalan saya sudah 15 juz,” ujar Muslim di sela pelaksanaan MTQN ke-31 di Semarang, Kamis (17/9/2026).

Perjalanan hafalan Muslim kemudian berlanjut ketika keluarganya pindah ke Makkah. Di sana, ia melanjutkan hafalan bersama masyarakat setempat hingga akhirnya berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz pada usia 10 tahun.

- Advertisement -

“Lalu, kami pindah ke Makkah. Kemudian, saya menghafal bersama masyarakat di sana. Alhamdulillah, pada umur 10 tahun, Allah mengizinkan saya untuk khatam Al-Qur’an,” tuturnya.

Kini, Muslim masih duduk di kelas 3 SMA di Pondok Pesantren Ashabul Qur’an Situjuah Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Di MTQN ke-31 Tahun 2026, ia mengikuti cabang hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Menghafal Sedikit demi Sedikit

Muslim memiliki cara tersendiri ketika menghafal ayat Al-Qur’an. Sebelum mulai menghafal, ia terlebih dahulu membaca seluruh bagian yang akan dihafalkan.

“Kalau cara praktiknya, saya dulu sebelum menghafal membaca dulu. Saya baca dulu. Diusahakan membaca semuanya. Kalau memang satu halaman yang akan dihafal, dibaca satu halaman,” jelasnya.

Setelah membaca, ayat tersebut kemudian dibagi menjadi bagian-bagian kecil. Untuk ayat yang pendek, Muslim mengulanginya beberapa kali sambil melihat Al-Qur’an. Setelah dirasa cukup, ia menutup Al-Qur’an dan mencoba melafalkan kembali ayat yang baru dihafalnya.

“Ketika sudah terasa, ketika membaca berulang-ulang ini sambil melihat Al-Qur’an sudah efektif, kita tutup Al-Qur’an. Setelah kita tutup Al-Qur’an, baru kita coba apakah lancar yang kita hafal tadi,” katanya.

Untuk ayat yang panjang, ia menerapkan cara yang sama dengan membaginya menjadi beberapa bagian. Misalnya, satu ayat terdiri atas tiga baris, ia menghafalkannya secara bertahap sesuai kemampuan.

“Kita hafal bagian pertama. Misalnya, satu baris kita mampu, kita hafal satu baris. Kemudian, kita lakukan seperti cara tadi. Kita baca berulang-ulang, kemudian kita tutup Al-Qur’an. Jika sudah lancar, kita lanjutkan ke baris yang kedua,” ujarnya.

Kunci Utamanya Murajaah

Bagi Muslim, menghafal Al-Qur’an tidak berhenti setelah seseorang berhasil menyelesaikan 30 juz. Hafalan harus terus diulang agar tetap terjaga.

“Ini yang penting. Setelah itu selesai semuanya maupun setelah satu halaman itu selesai, yang penting diulang lagi. Karena banyak sekali yang ditemukan, dia menghafal, tapi jarang mengulang,” tuturnya.

Ia bahkan menyebut murajaah sebagai bagian yang harus dilakukan sepanjang hidup.

“Kalau saya pribadi, Alhamdulillah, kalau saya menghafal sesuatu, langsung ulang biar tidak lupa. Memang harus diulang sampai selesai pun, sampai mati pun masih harus diulang,” katanya.

Kebiasaan tersebut juga tidak lepas dari dukungan keluarganya. Muslim mengatakan, seluruh keluarganya merupakan penghafal Al-Qur’an. Dalam kesehariannya, ia kerap menghafal dan melakukan murajaah bersama ibunya.

“Alhamdulillah, keluarga saya semuanya penghafal Al-Qur’an. Jadi, saya biasanya menghafal bersama ibu saya. Kalau ayah saya sedang sibuk bekerja di luar, saya dibantu oleh ibu saya,” ujarnya.

Bagi Muslim, menjadi penghafal Al-Qur’an bukan sekadar memiliki hafalan, tetapi juga berupaya menjaga dan mengamalkan keutamaan yang terkandung di dalamnya. Ia berharap hafalannya menjadi bekal untuk kehidupan dunia dan akhirat.

“Jika misalnya kita menghafal 30 juz, tentu kita akan diangkat oleh Allah SWT lebih tinggi lagi daripada yang menghafal, misalnya, satu surat atau dua surat. Ini tentu adalah sebuah keutamaan yang sangat masyaallah bagi kita,” ungkapnya.

Lahir pada 2008, Muslim kini berusia 18 tahun. Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang dimulainya sejak usia 5 tahun membawanya hingga ke panggung MTQN ke-31 di Semarang.

Di tengah kompetisi, hafalan 30 juz yang telah ia selesaikan sejak usia 10 tahun menjadi bagian dari perjalanan panjang yang terus ia jaga melalui satu kebiasaan sederhana: membaca kembali ayat-ayat yang telah dihafalnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER

BERITA TERKINI