Di Silatnas MA IPNU, Hery Haryanto Azumi Serukan Muktamar NU Riang Gembira

MONITOR, Jakarta – Kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Hery Haryanto Azumi, menyerukan agar Muktamar Nahdlatul Ulama Ke-35 menjadi ruang yang menghadirkan kegembiraan, memperkuat persaudaraan, sekaligus mempertemukan gagasan-gagasan terbaik bagi masa depan organisasi.

Pesan tersebut disampaikan Hery saat menjadi salah satu narasumber dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU, yang mempertemukan sejumlah tokoh dan kader Nahdlatul Ulama dalam suasana menjelang Muktamar Ke-35 di Jakarta, Jum’at (7/8/2026).

Forum yang dimoderatori Idy Muzayyad tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh NU, antara lain Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, KH. Zulfa Musthofa, KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Prof. Dr. Masykuri Abdillah, serta KH. Marsudi Syuhud.

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog dan pertukaran gagasan mengenai kepemimpinan serta arah masa depan Nahdlatul Ulama dalam memasuki abad keduanya.

- Advertisement -

Dalam pemaparannya, Hery menegaskan bahwa Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang harus dijaga marwahnya sebagai ruang deliberasi dan adu gagasan, bukan arena yang justru mengikis persaudaraan.

“Muktamar ke depan harus menjadi forum yang riang gembira bagi semua kandidat. Siapa pun yang maju adalah kader terbaik Nahdlatul Ulama yang memiliki niat mengabdi. Karena itu, yang harus dikedepankan adalah adu gagasan, kompetisi yang sehat, dan ukhuwah antarsesama Nahdliyin,” ujar Hery.

Menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar PMII periode 2005–2008 dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU periode 2015–2020 tersebut, dinamika kontestasi kepemimpinan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.

Namun, lanjutnya kontestasi harus tetap berada dalam koridor akhlak, etika organisasi, dan semangat persaudaraan yang selama ini menjadi karakter penting NU.

NU Harus Tetap Relevan

Tidak hanya berbicara mengenai suasana Muktamar, Hery juga menekankan pentingnya memperkuat relevansi Nahdlatul Ulama di tengah perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat dan kompleks.

Menurutnya, tantangan NU ke depan tidak lagi semata-mata berkutat pada persoalan internal organisasi, tetapi juga bersentuhan langsung dengan perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, geopolitik, transformasi sosial, hingga dinamika peradaban global.

“NU harus tetap relevan terhadap situasi yang semakin kompleks. NU harus relevan bagi jam’iyah, relevan bagi negara, dan relevan untuk dunia. Memasuki abad kedua, NU dituntut mampu menjaga tradisi sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai tantangan zaman,” tegasnya.

Hery menilai, kekuatan terbesar Nahdlatul Ulama terletak pada modal sosial dan intelektual yang dimilikinya: jaringan pesantren, kekuatan para ulama, serta jutaan warga Nahdliyin yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia maupun di berbagai negara.

Modal tersebut, kata dia, memberikan peluang besar bagi NU untuk memperkuat perannya sebagai organisasi keagamaan yang tidak hanya menjaga dan mengembangkan tradisi keislaman, tetapi juga mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan percaturan peradaban global.

Karena itu, memasuki abad kedua, relevansi NU tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mempertahankan eksistensi organisasi. NU dituntut untuk terus hadir menjawab kebutuhan zaman, tanpa kehilangan akar tradisi dan identitas keislamannya.

Muktamar Ruang Merawat Ukhuwah

Silatnas Majelis Alumni IPNU menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan semangat dialog dan keterbukaan menjelang Muktamar Ke-35. Beragam pandangan yang muncul diharapkan dapat memperkaya gagasan mengenai arah kepemimpinan dan masa depan Nahdlatul Ulama.

Lebih dari sekadar kontestasi kepemimpinan, Muktamar diharapkan menjadi momentum konsolidasi dan peneguhan kembali ukhuwah seluruh warga Nahdlatul Ulama.

Semangat riang gembira, adu gagasan, kompetisi yang sehat, dan persaudaraan menjadi penting agar proses Muktamar tetap berlangsung secara bermartabat dan tidak meninggalkan luka di antara sesama Nahdliyin.

Siapa pun yang terpilih memimpin Nahdlatul Ulama (NU) nantinya adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk membawa organisasi memasuki abad keduanya dengan lebih kuat, relevan, dan memberi manfaat yang semakin luas.

Muktamar Ke-35 diharapkan bukan hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk menjaga persatuan, merawat ukhuwah, dan memastikan Nahdlatul Ulama (NU) terus menghadirkan kemaslahatan bagi jam’iyah, bangsa, dan dunia.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER

BERITA TERKINI