MONITOR, Palu – Kontestasi menuju Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat di berbagai daerah. Di Sulawesi Tengah, Forum Muda Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar dialog publik bertajuk “Menakar Peluang Kader PMII dalam Kontestasi Ketua Umum PBNU” di Kedai Aswaja, Kota Palu, Sabtu (25/7/2026) malam.
Forum yang dihadiri tokoh Nahdlatul Ulama (NU), akademisi, alumni PMII, serta pengurus NU dari berbagai tingkatan itu membahas arah kepemimpinan PBNU sekaligus mengkaji peluang kader-kader PMII dalam kontestasi Ketua Umum PBNU mendatang.
Hadir sebagai narasumber Ketua PW LPPNU Sulawesi Tengah H.M. Amin Thahir, Ketua PW Pergunu Sulawesi Tengah Nasarudin Kadir, akademisi Universitas Tadulako Dr. Nur Alamsyah, Ketua PCNU Kota Palu Dr. Rusdin Ahmad, serta akademisi UIN Datokarama Palu Mohammad Sadiq.
Ketua PW Pergunu Sulawesi Tengah Nasarudin Kadir menegaskan bahwa pemilihan Ketua Umum PBNU tidak hanya menyangkut regenerasi kepemimpinan organisasi, tetapi memiliki konsekuensi strategis terhadap perjalanan bangsa.
“NU merupakan organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Karena itu, arah kepemimpinan PBNU akan ikut memengaruhi masa depan kehidupan sosial, pendidikan, hingga kebangsaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara historis PMII merupakan organisasi kader yang lahir dari rahim NU. Meski hubungan keduanya pernah mengalami dinamika, termasuk melalui Deklarasi Munarjati, ikatan ideologis PMII dengan NU tetap kuat hingga kini.
Menurutnya, dinamika politik menjelang Muktamar tidak perlu dipandang sebagai polarisasi yang permanen.
“Politik di tubuh NU sangat cair. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh proses tetap diarahkan untuk kemaslahatan organisasi dan umat,” katanya.
Sementara itu, akademisi Universitas Tadulako Dr. Nur Alamsyah mengingatkan pentingnya melihat kontestasi PBNU melalui perspektif jam’iyah dan jamaah. Menurutnya, kepemimpinan NU harus ditempatkan sebagai instrumen pelayanan kepada umat, bukan sekadar perebutan jabatan.
Ia juga menilai tokoh-tokoh NU dari luar Pulau Jawa memiliki kapasitas yang layak diperhitungkan untuk memimpin PBNU pada masa mendatang.
Pandangan serupa disampaikan Ketua PW LPPNU Sulawesi Tengah H.M. Amin Thahir. Ia mengajak seluruh elemen NU menjaga marwah organisasi yang sejak awal memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Amin, Muktamar PBNU mendatang harus menjadi momentum menghadirkan kepemimpinan yang berintegritas, mampu menjaga persatuan warga nahdliyin, serta tidak mengulang dinamika yang sempat muncul pada Muktamar 2021 di Lampung.
Dalam diskusi tersebut juga mengemuka informasi bahwa Ketua PWNU Sulawesi Tengah disebut telah menginstruksikan jajaran kepengurusan di wilayahnya untuk memberikan dukungan kepada Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari konsolidasi dukungan di tingkat wilayah menjelang Muktamar.
Ketua PCNU Kota Palu Dr. Rusdin Ahmad menilai kader-kader alumni PMII memiliki tanggung jawab moral dan struktural dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan.
Ia mengingatkan agar pengalaman Muktamar sebelumnya menjadi pelajaran sehingga proses pemilihan Ketua Umum PBNU berlangsung lebih solid dan mampu memperkuat organisasi.
Rusdin mengaku sejalan dengan sinyal politik yang telah disampaikan Ketua PWNU Sulawesi Tengah terkait dukungan kepada KH. Nasaruddin Umar.
“Saya melihat Prof. Nasaruddin Umar sebagai figur yang layak didukung,” ujarnya.
Namun demikian, Rusdin juga menyoroti pentingnya percepatan penerbitan Surat Keputusan (SK) kepengurusan PCNU. Menurutnya, legalitas kepengurusan bukan hanya berkaitan dengan administrasi organisasi, tetapi menentukan legitimasi kelembagaan dalam membangun kemitraan dengan pemerintah maupun memperkuat posisi politik organisasi menjelang Muktamar.
Dalam forum berkembang analisis bahwa belum terbitnya SK sejumlah kepengurusan di daerah berpotensi memengaruhi efektivitas konsolidasi dukungan politik menjelang Muktamar PBNU, termasuk terhadap kandidat yang memperoleh dukungan dari wilayah.
Sementara itu, akademisi UIN Datokarama Palu Mohammad Sadiq menilai Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar merupakan salah satu figur yang memiliki peluang besar dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.
Menurutnya, Nasaruddin Umar selama ini tidak pernah secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai calon, namun justru memiliki karakter kepemimpinan yang dibutuhkan NU.
“Beliau mempunyai kemampuan menyatukan berbagai kelompok, membangun komunikasi, dan menghadirkan kesejukan di tengah dinamika organisasi,” katanya.
Pada sesi dialog, peserta juga menekankan bahwa Ketua Umum PBNU ke depan harus memiliki perpaduan antara kapasitas keilmuan, keteladanan moral, pengalaman organisasi, serta kemampuan merawat persatuan warga Nahdlatul Ulama di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks.
Menutup diskusi, Ketua Forum Muda Alumni PMII Moh. Alwi Pakaya yang bertindak sebagai moderator merangkum tiga pokok penting hasil dialog. Pertama, perlunya kader-kader muda alumni PMII menghadirkan gagasan baru bagi masa depan NU.
Kedua, pentingnya konsolidasi internal alumni PMII dalam menghadapi Muktamar PBNU. Ketiga, kebutuhan akan figur pemimpin NU yang mampu menjadi perekat persatuan, menjaga tradisi keulamaan, sekaligus menjawab tantangan organisasi dan kebangsaan pada era yang terus berubah.
