Opera Batak Bangkit Kembali, ‘Tona Sian Huta’ Perkuat Pariwisata dan UMKM Danau Toba

MONITOR, Tapanuli Utara – Setelah puluhan tahun nyaris tenggelam dari panggung budaya, Opera Batak kembali tampil di hadapan publik melalui pagelaran Opera dan Konser Musik “Tona Sian Huta: Dari Danau Toba untuk Dunia” yang digelar di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sabtu (11/7/2026).

Kebangkitan seni pertunjukan khas Batak tersebut tidak hanya menjadi momentum pelestarian budaya, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat promosi pariwisata, menggerakkan ekonomi kreatif, dan memperluas pasar bagi pelaku UMKM di kawasan Danau Toba.

Mengusung tema “Dari Danau Toba untuk Dunia”, pertunjukan menghadirkan perjalanan panjang sejarah dan peradaban masyarakat Batak. Mulai dari kisah asal-usul Danau Toba, perjuangan Raja Sisingamangaraja XII melawan penjajahan, hingga kiprah misionaris Ludwig Ingwer Nommensen dalam pengembangan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat Batak. Narasi sejarah tersebut dipadukan dengan konser musik Batak yang menghadirkan kekayaan seni dan tradisi lokal dalam kemasan yang lebih segar dan atraktif.

Namun, pagelaran ini tidak berhenti sebagai pertunjukan budaya semata. Di sekitar arena acara, ratusan produk UMKM turut dipamerkan melalui eksibisi dan pasar kreatif yang menghadirkan aneka kerajinan tangan, kain ulos, kuliner khas, hingga berbagai produk unggulan dari kawasan Danau Toba.

- Advertisement -

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI) tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian UMKM. Kolaborasi lintas sektor itu menjadi upaya untuk menjadikan budaya sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat posisi Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan nasional.

Sejak siang hari, kawasan acara telah dipadati pengunjung yang memanfaatkan kesempatan untuk menikmati beragam produk UMKM dan kuliner khas Batak. Kehadiran pasar kreatif menjadi daya tarik tersendiri yang melengkapi pertunjukan budaya pada malam harinya.

Acara secara resmi dibuka oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan dihadiri perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian UMKM, serta Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga yang juga menjabat sebagai Ketua Penasehat kegiatan.

Dalam sambutannya, Lamhot Sinaga mengaku terharu dapat kembali menyaksikan Opera Batak yang menurutnya telah lama menghilang dari ruang publik.

“Opera Batak ini sudah punah lebih dari 40 tahun. Terakhir saya menyaksikannya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar,” ujar Lamhot.

Menurutnya, Opera Batak bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan warisan budaya yang sarat nilai moral dan pendidikan bagi generasi muda.

“Opera Batak memiliki nilai budaya yang sangat tinggi sekaligus mengandung pesan-pesan moral. Karena itu harus terus dilestarikan. Kami berharap melalui kegiatan ini Opera Batak dapat bangkit kembali dan dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun,” katanya.

Apresiasi serupa disampaikan Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik, Reghi Perdana, yang menilai kebangkitan kembali Opera Batak merupakan langkah strategis dalam menghubungkan budaya dengan pembangunan ekonomi masyarakat.

“Gagasan menghidupkan kembali Opera Batak merupakan sesuatu yang luar biasa. Apalagi kegiatan ini dikolaborasikan dengan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM,” ujarnya.

Menurut Reghi, kolaborasi ketiga sektor tersebut merupakan formula yang saling menguatkan. Ketika sebuah destinasi wisata menghadirkan atraksi budaya yang berkualitas, maka kunjungan wisatawan akan meningkat, industri kreatif berkembang, dan pelaku UMKM memperoleh peluang yang lebih luas untuk memasarkan produknya.

“Ketika destinasi seperti Danau Toba menghadirkan pagelaran seni dan budaya yang berkualitas, kunjungan wisata akan meningkat, ekonomi kreatif bergerak, dan UMKM mendapatkan ruang yang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang,” tambahnya.

Melalui “Tona Sian Huta: Dari Danau Toba untuk Dunia”, budaya Batak tidak hanya diwariskan kepada generasi muda, tetapi juga dihadirkan sebagai instrumen pembangunan yang mampu menciptakan peluang usaha, membuka lapangan kerja, meningkatkan kreativitas masyarakat, serta memperkuat daya saing produk-produk lokal.

Di tengah upaya menjadikan Danau Toba sebagai destinasi kelas dunia, kolaborasi budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM dinilai menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar kawasan Danau Toba.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER