MONITOR, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan hubungan diplomatik Indonesia dengan Perancis pertama kali terbangun pada tahun 1951, atau 6 tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia.
Hingga kini, dikatakan Sri Mulyani, beragam hubungan strategis antar kedua negara terus terjalin dan terjaga dengan apik. Ini disampaikan Sri Mulyani saat menerima kunjungan Direktur Jenderal AFD Mr. Rémy Rioux, Direktur Regional Asia Tenggara AFD Mr. Yazid Bensaid, Direktur AFD Indonesia, Mr. Emmanuel Baudran, serta Duta Besar Perancis H.E. Olivier Chambard.
Sri Mulyani menjelaskan, pertemuan itu membahas berbagai kerja sama strategis antara Indonesia dan Perancis, salah satunya adalah mengenai indoAID. Sebuah lembaga pengelola dana yang akan digunakan untuk memperkuat kontribusi dan peran Indonesia di panggung internasional.
“Banyak ruang kolaborasi yang bisa dibangun indoAID, termasuk dengan Kiwa Initiative yang diprakarsai oleh AFD. Baik pihak Kementerian Keuangan maupun AFD sepakat untuk mempelajari lebih lanjut tentang kolaborasi ini,” ujar Sri Mulyani.
Selain itu, ia menjelaskan sejumlah isu-isu strategis lain sepeti perubahan iklim, bio diversitas, blue economy, hingga sustainable development goals juga menjadi topik diskusi dalam pertemuan itu.
“Isu-isu tersebut juga merupakan topik-topik bahasan utama pada Presidensi G20 Indonesia tahun ini. Semoga, hubungan kerja sama antara Indonesia dan Perancis dapat menjadi semakin kokoh kedepannya,” imbuhnya.
