MONITOR, Kediri – Forum bedah buku dalam rangka pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2026 di Kediri menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi pemikiran mengenai masa depan organisasi. Dalam forum yang dihadiri para kiai, akademisi, aktivis, dan kader NU tersebut, Hery Haryanto Azumi menyatakan kesiapannya untuk turut berkhidmat dan mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah diskusi mengenai tantangan yang dihadapi NU pada era perubahan global, disrupsi teknologi, transformasi sosial, dan dinamika kebangsaan yang semakin kompleks. Menurut Hery, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga kesinambungan tradisi keulamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman.
“NU memiliki modal sosial, intelektual, dan kultural yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana modal tersebut dapat terus dikonsolidasikan untuk menjawab persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan global,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan di tubuh NU tidak semata-mata dipahami sebagai kontestasi organisasi, melainkan bagian dari ikhtiar kolektif untuk menjaga khidmat jam’iyah kepada umat dan bangsa. Karena itu, setiap kader yang memiliki kapasitas dan kesempatan berkewajiban memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi.
Menurut Hery, NU saat ini berada pada posisi strategis sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil terbesar di dunia yang memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan bangsa, memperkuat moderasi beragama, mengembangkan pendidikan, serta membangun peradaban yang berkeadaban.
Dalam forum tersebut, sejumlah peserta juga menyoroti pentingnya memperkuat tradisi intelektual NU sebagai fondasi pengambilan kebijakan organisasi ke depan. Bedah buku tidak hanya menjadi agenda akademik, tetapi juga ruang untuk merumuskan arah gerak NU dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Berbagai isu strategis seperti penguatan pendidikan pesantren, transformasi digital, pemberdayaan ekonomi warga, kaderisasi kepemimpinan, serta peran NU dalam percaturan global menjadi bagian dari diskusi yang mengemuka.
Hery menilai bahwa NU perlu terus memperkuat ekosistem keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas organisasi. Menurutnya, kekuatan NU lahir dari perpaduan antara tradisi keulamaan, kedalaman ilmu pengetahuan, dan komitmen kebangsaan yang telah teruji sepanjang sejarah Indonesia.
“NU harus terus menjadi rumah besar bagi gagasan-gagasan kemajuan, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menyiapkan kader-kader kepemimpinan yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, kemampuan manajerial, serta kepekaan terhadap persoalan umat dan bangsa. Menurutnya, regenerasi kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting agar NU tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
Munas-Konbes NU 2026 sendiri dipandang sebagai momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan berbagai agenda besar NU ke depan. Forum tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan organisatoris, tetapi juga melahirkan gagasan-gagasan yang dapat memperkuat kontribusi NU bagi pembangunan bangsa dan peradaban dunia.
Di tengah dinamika yang berkembang, Hery Haryanto Azumi menegaskan bahwa kesiapannya untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU dilandasi semangat pengabdian dan tanggung jawab moral terhadap organisasi yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia.
“Yang terpenting bukan soal jabatan, melainkan bagaimana NU terus hadir memberikan manfaat bagi umat, menjaga persatuan bangsa, dan menjadi kekuatan moral yang mampu menjawab tantangan zaman,” pungkasnya.
