INTERNASIONAL

Peluang Aliansi Negara Teluk Menguat di Tengah Melemahnya Pengaruh AS di Timur Tengah

MONITOR, Jakarta – Mantan Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2017, Mahfuz Sidik, menilai dinamika konflik di Timur Tengah membuka peluang bagi negara-negara Teluk untuk membangun aliansi kawasan yang lebih mandiri, seiring perubahan peta kekuatan global.

Pandangan tersebut disampaikan Mahfuz dalam diskusi Bola Liar Kompas TV bertema “Iran Unggul Strategis, Trump Mau Invasi Darat atau Negosiasi?” yang digelar di Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Menurut Mahfuz, negara-negara di kawasan Teluk perlu mulai mempertimbangkan pembentukan kerja sama strategis baru yang tidak hanya melibatkan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), tetapi juga negara-negara lain di Timur Tengah seperti Iran, Irak, dan Turki.

“Situasi konflik saat ini menjadi momentum bagi negara-negara kawasan untuk memperkuat kemandirian dan membangun aliansi bersama,” ujar Mahfuz dalam keterangannya, Sabtu (28/3/2026).

Perubahan Peta Kekuatan Kawasan

Mahfuz menilai konflik yang berlangsung turut memengaruhi posisi Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Ia melihat adanya pergeseran pengaruh yang selama ini didominasi oleh kekuatan eksternal.

Menurutnya, dinamika tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan baru dalam menjaga stabilitas kawasan, termasuk melalui kerja sama regional yang lebih solid.

Evaluasi Strategi AS dalam Konflik

Dalam kesempatan itu, Mahfuz juga menyoroti pendekatan Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Ia menilai strategi yang ditempuh belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam mencapai tujuan jangka panjang.

“Perkembangan yang ada menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak mudah dicapai hanya melalui pendekatan militer,” katanya.

Ia juga menilai opsi serangan darat yang sempat mengemuka masih perlu dilihat secara hati-hati, mengingat kompleksitas konflik dan risiko eskalasi yang lebih luas.

Negosiasi dan Tantangan Diplomasi

Terkait upaya diplomasi, Mahfuz menilai proses negosiasi masih menghadapi tantangan besar, terutama karena perbedaan kepentingan dan posisi masing-masing pihak.

“Dialog tetap penting, tetapi harus dibangun dengan pendekatan yang realistis dan saling menghormati,” ujarnya.

Risiko Eskalasi dan Dampak Global

Mahfuz mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi memicu dampak yang lebih luas, termasuk terhadap stabilitas energi global.

Ia menekankan pentingnya peran semua pihak untuk menahan eskalasi dan mendorong penyelesaian damai.

“Stabilitas kawasan sangat penting, tidak hanya bagi negara-negara Timur Tengah, tetapi juga bagi perekonomian global,” katanya.

Dorongan Peran Kawasan Lebih Besar

Di tengah dinamika tersebut, Mahfuz menilai negara-negara kawasan memiliki peluang untuk memainkan peran lebih besar dalam menentukan arah masa depan Timur Tengah.

“Kerja sama regional yang kuat dapat menjadi salah satu kunci untuk menjaga stabilitas dan kemandirian kawasan,” pungkasnya.

Recent Posts

Tertahan di Hormuz; Keterlambatan Diplomasi dan Ujian Politik Bebas Aktif Indonesia

Kapal tanker Malaysia dan Thailand sudah melintasi Selat Hormuz. Kapal Indonesia masih tertahan. Ada apa dengan…

3 jam yang lalu

Bersama Dirut Jasa Marga, Menteri PU Pastikan Kesiapan Infrastruktur Jalan Tol Periode Arus Balik Dalam Kondisi Baik

MONITOR, Semarang - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono mendampingi tinjauan…

3 jam yang lalu

PP Tunas Berlaku, Kemenag Perkuat Literasi Digital Bagi Siswa dan Santri

MONITOR, Jakarta - Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak (PP…

3 jam yang lalu

Teras Balongan Jadi Buruan Pemudik, Oleh-Oleh Khas Pesisir Indramayu Laris Manis

MONITOR, Indramayu – Arus balik Lebaran tak hanya identik dengan perjalanan panjang, tetapi juga tradisi membawa…

9 jam yang lalu

Arus Balik Membludak, 383 Ribu Kendaraan Padati Tol Trans Jawa Arah Jakarta

MONITOR, Cikampek – Gelombang arus balik Idulfitri 1447H/2026 dari wilayah Timur Trans Jawa menuju Jakarta melonjak…

12 jam yang lalu

Langkah Berani Anwar Ibrahim di Tengah Konflik Iran vs Israel dan Amerika Serikat

Adriansyah (Ketua Umum IKAL FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) Keputusan Perdana Menteri Anwar Ibrahim menolak…

13 jam yang lalu