Kabar Haji

Dirjen Haji Tekankan Integritas Anti Korupsi dan Waspada Gratifikasi

MONITOR, Jakarta – Pegawai Kementerian Haji dan Umrah, khususnya di Direktorat Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, dituntut memiliki integritas tinggi dalam menjalankan tugas pelayanan kepada jemaah. Hal ini ditekankan Direktur Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Harun Al-Rasyid.

Harun menegaskan bahwa integritas, terutama komitmen terhadap prinsip anti korupsi, menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi yang mengelola penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

“Pegawai di Kementerian Haji dan Umrah, khususnya di Ditjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, harus memiliki integritas yang tinggi, terutama integritas anti korupsi,” ujar Harun saat membuka kegiatan Review Pengawasan Penyelenggaraan Haji, Minggu (8/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menghadirkan pemateri dari Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai bagian dari penguatan pengawasan dan pencegahan praktik gratifikasi di lingkungan kementerian.

Waspadai Gratifikasi Sekecil Apa Pun

Dalam kesempatan itu, Harun mengingatkan bahwa berbagai bentuk pemberian, meskipun terlihat sederhana, tetap berpotensi melanggar aturan dan merusak integritas pegawai. Ia mencontohkan, dirinya pernah mengusulkan kepada Menteri agar disediakan sebuah lemari khusus yang berisi berbagai bentuk pemberian mulai dari batik, makanan ringan, hingga barang lainnya yang dapat dilihat oleh semua orang.

“Pemberian semacam inilah yang menyalahi undang-undang, karena integritas akan terganggu,” tegasnya.

Harun juga berbagi pengalaman ketika melakukan kunjungan kerja ke daerah. Saat hendak pulang dari kunjungan ke salah satu penyelenggara ibadah haji khusus, ia sempat ditawari sebuah sajadah sebagai oleh-oleh. Namun, ia memilih menolak pemberian tersebut demi menjaga prinsip integritas.

Pegawai Diminta Berhati-hati Saat Bertugas di Daerah

Menurut Harun, potensi gratifikasi sering terjadi ketika pegawai melakukan pengawasan atau kunjungan kerja ke berbagai lembaga penyelenggara haji dan umrah, seperti: KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah), PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus), PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) Ia mengingatkan agar pegawai berhati-hati terhadap berbagai bentuk pemberian yang bisa saja diberikan saat kunjungan.

“Bisa saja nanti diungkit ketika ada pelanggaran. Misalnya dikatakan, ‘Bapak/Ibu pernah datang ke sini, saya pernah memberi amplop, voucher hotel, dan lainnya’. Karena itu harus sangat berhati-hati,” ujar Harun.

Ia bahkan mengingatkan secara tegas agar tidak sampai ada pegawai yang tersangkut kasus hukum sebelum penyelenggaraan haji dimulai.

“Jangan sampai belum pelaksanaan haji sudah ada yang kepegang oleh KPK,” katanya.

Ajak Pegawai Aktif Memberi Masukan

Selain menekankan integritas, Harun juga mengajak seluruh pegawai Ditjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah untuk aktif memberikan saran dan masukan demi meningkatkan kinerja lembaga. Menurutnya, keterlibatan seluruh pegawai penting untuk memperkuat sistem pengawasan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada jemaah.

“Saran dan masukan diperlukan untuk meningkatkan kinerja Ditjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah ke depan,” ujarnya.

Antisipasi Dampak Konflik Global terhadap Haji

Dalam kesempatan yang sama, Harun juga menyinggung situasi global yang berpotensi memengaruhi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Ia menyebut saat ini tersisa sekitar 43 hari menuju pelaksanaan haji. Ia berharap konflik internasional yang sedang berlangsung dapat segera berakhir agar tidak berdampak pada pelaksanaan ibadah haji.

“Kita berharap perang segera selesai. Jika berlangsung panjang, Kemenhaj harus melakukan mitigasi risiko,” ujarnya.

Menurut Harun, pemerintah telah melakukan koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Beberapa skenario yang dimitigasi antara lain kemungkinan penutupan bandara di Arab Saudi hingga potensi pengurangan kuota jemaah haji.

Komitmen Tingkatkan Pelayanan Haji

Di akhir sambutannya, Harun menegaskan komitmen Kementerian Haji dan Umrah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan bagi jemaah haji dan umrah Indonesia.

“Secara kelembagaan kita memiliki keinginan yang kuat untuk menciptakan pelayanan haji yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Harun.

Ia pun mengajak seluruh pegawai untuk memperkuat niat dan komitmen dalam menjalankan amanah pelayanan kepada jemaah.

“Semoga penyelenggaraan haji tahun 2026 dapat berjalan dengan sukses dan terlaksana dengan baik,” tutupnya.

Recent Posts

OASE III PTKIN 2026 Berakhir Gemilang: Bukti Kampus Islam Siap Bersaing di Kancah Sains dan Teknologi Global

MONITOR, YOGYAKARTA — Ajang bergengsi Olimpiade Agama, Sains, dan Riset Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri…

1 jam yang lalu

Belajar dari Kampus Peringkat Kedua Nasional THE, PTKIS Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Internal

LPM UIN Sunan Kalijaga Berbagi Strategi Implementasi SPMI Berdasarkan Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026 MONITOR,…

17 jam yang lalu

Soroti 7 Persoalan Tata Kelola, Rokhmin Dahuri Dorong Reformasi Cagar Biosfer Indonesia

MONITOR, Wakatobi - Pengakuan UNESCO terhadap suatu kawasan sebagai cagar biosfer tidak otomatis menjamin keberhasilan…

17 jam yang lalu

Hasil Ubinan BPS, Panen Padi di Cirebon Tembus 9,2 Ton per Hektare berkat Aplikasi Pureplant

MONITOR, Cirebon - Hasil panen padi petani di Blok Makam Kidul, Desa Ujunggebang, Kecamatan Susukan…

24 jam yang lalu

Stafsus Menag Sambangi Ponpes Hamalatul Qur’an Sukoharjo, Tawarkan Trauma Healing untuk Santri

MONITOR, Sukoharjo – Kementerian Agama (Kemenag) RI menegaskan komitmennya untuk hadir memberikan pelayanan, pembinaan, dan…

3 hari yang lalu

OASE III PTKIN 2026 Resmi Dibuka Menag, Dorong Integrasi Sains dan Nilai Agama

MONITOR, Yogyakarta - Ajang Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam…

3 hari yang lalu