Minggu, 8 Maret, 2026

Kemenag Gelar Takjil Pesantren, Gaungkan Spirit Beragama dengan Asyik

MONITOR, Jakarta – Direktorat Pesantren Kementerian Agama kembali menggelar Takjil Pesantren yang dirangkai dengan Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Daarul Rahman, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026) sore.

Seri kedua ini mengangkat tema “Beragama dengan Asyik” sebagai penguatan budaya keberagamaan yang hidup di lingkungan pesantren.

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Arskal Salim menegaskan bahwa pesantren membentuk pengalaman beragama yang tidak kaku, melainkan tumbuh dari pembiasaan ibadah sehari-hari. Tradisi tersebut menjadikan agama hadir sebagai rutinitas yang menyenangkan sekaligus membangun karakter kebangsaan.

“Di dalam pesantren kita mampu memahami agama. Dalam pesantren menerapkan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalankan ibadah sehingga mampu memunculkan beragama itu asyik secara mendasar dan telah menjadi rutinitas, budaya dalam pondok pesantren. Membangun bangsa dari pondok pesantren,” ucap Arskal Salim.

- Advertisement -

Pengasuh Pesantren Daarul Rahman KH Faiz Syukron Makmum menjelaskan bahwa spirit beragama yang asyik harus tetap bertumpu pada kedalaman ilmu dan keterbukaan terhadap perkembangan zaman. Ia menekankan integrasi antara penguasaan ilmu agama dan literasi teknologi sebagai kebutuhan santri masa kini.

“Santri tidak boleh dibatasi hanya belajar agama, tetapi juga harus melek perkembangan zaman dan teknologi sehingga mampu memadukan antara ilmu agama dan perkembangan teknologi. Ngajinya jangan terlalu formal namun harus sesuai dengan forum yang akan menerima ilmu,” jelasnya.

Gus Faiz, nama akrabnya, menambahkan bahwa kultur, inovasi cara belajar, serta pembiasaan sejak dini menjadi fondasi agar santri mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah. Pesantren, menurutnya, harus melahirkan generasi yang tumbuh selaras dengan perjalanan zaman.

“Pesantren membutuhkan kultur, budaya, inovasi cara belajar, belajar bagaimana berinovasi, belajar bagaimana berbaur dan terjun di tengah masyarakat. Semoga santri dapat menikmati fasilitas yang diberikan negara kepada pondok pesantren,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pesantren Basnang Said menyebut bahwa negara harus hadir untuk memastikan pesantren semakin kuat dan mandiri. Kehadiran tersebut diwujudkan melalui ruang dialog serta penguatan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan pesantren.

“Dalam menguatkan pesantren, negara hadir untuk pesantren. Untuk itu perlu adanya forum mengumpulkan pesantren se-DKI Jakarta guna menampung masukan pondok pesantren yang ada di DKI Jakarta,” kata Basnang.

Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi Dana Abadi Pesantren sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. Skema inkubasi bisnis dinilai menjadi langkah konkret agar pesantren tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

“Dana Abadi Pesantren hadir untuk pesantren dalam bentuk bantuan inkubasi bisnis pesantren,” tegasnya.

Kegiatan ini juga dihadiri Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Helmi Halimatul Udhma yang turut memberikan motivasi kepada para santri. Kehadirannya memperkuat pesan tentang pentingnya menjalani agama dengan penuh kegembiraan, kasih sayang, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

Ramdhan Monitor.co.id

TERPOPULER