PARLEMEN

Soroti Impor 105 Ribu Mobil India, DPR: Industri Otomotif Kita Sedang Lesu

MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto mempertanyakan kebijakan impor 105 ribu unit kendaraan dari India di tengah kondisi industri otomotif nasional yang sedang melemah. Ia menilai keputusan tersebut perlu dievaluasi karena berpotensi menekan industri dalam negeri.

“Di saat industri otomotif kita sedang lesu, kenapa justru ada impor dalam jumlah besar?” ujar Darmadi dalam keterangan yang diterima Media di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Ia menyebut nilai impor tersebut mencapai Rp24,66 triliun. Pengadaan dilakukan oleh BUMN PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih, dengan rincian 35 ribu unit dari Mahindra & Mahindra dan 70 ribu unit dari Tata Motors.

Menurut Darmadi, kebijakan belanja publik seharusnya menjadi instrumen untuk menggerakkan industri nasional, bukan sebaliknya.

“Belanja negara itu harus menjadi pengungkit ekonomi dalam negeri. Kalau kapasitas produksi kita ada, mestinya itu yang diprioritaskan,” tegasnya.

Legislator Fraksi PDI-Perjuangan itu mengungkapkan, penjualan mobil domestik turun sekitar 7 persen, sementara permintaan kendaraan niaga dalam dua tahun terakhir juga mengalami penurunan. Kondisi ini, kata dia, menunjukkan bahwa industri sedang membutuhkan stimulus permintaan.

“Industri kita sedang butuh order. Kalau ada pesanan besar seperti ini, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjaga utilisasi pabrik dan lapangan kerja,” ujarnya.

Darmadi juga menyoroti dampak lebih luas dari kebijakan impor tersebut. Menurutnya, jika produksi dilakukan di dalam negeri, maka nilai tambah ekonomi akan berputar di sektor manufaktur, industri komponen, logistik, hingga UMKM pendukung.

“Kalau diproduksi di dalam negeri, efek gandanya jelas. Tenaga kerja terserap, rantai pasok bergerak, industri komponen hidup,” katanya.

Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa impor dalam jumlah besar berisiko membuat manfaat ekonomi justru mengalir ke luar negeri.

“Kita jangan sampai kehilangan momentum untuk memperkuat industri sendiri. Kemandirian ekonomi tidak dibangun dari impor yang sebenarnya bisa kita produksi,” pungkasnya. 

Recent Posts

Rokhmin Dahuri: Karhutla Bisa Diantisipasi, Jangan Tunggu Bencana Baru Bergerak

MONITOR, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus dicegah sebelum meluas, bukan baru ditangani…

2 jam yang lalu

GPK Desak Polemik Pemakzulan Gibran Diakhiri, DPR Diminta Fokus pada RUU Perampasan Aset dan Pemilu

MONITOR, Jakarta - Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) meminta DPR dan pemerintah tidak membiarkan polemik pemakzulan…

6 jam yang lalu

Ekonomi Biru Bisa Buka 45 Juta Lapangan Kerja, Hilirisasi Jadi Kunci

MONITOR, Jakarta - Indonesia memiliki potensi ekonomi kelautan yang diperkirakan mencapai 1,4 triliun dolar AS…

8 jam yang lalu

Menag Apresiasi Kerja Kehumasan ASN Kemenag atas Raihan Top GPR Figure Award 2026

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi kepada seluruh Aparatur Sipil Negara…

13 jam yang lalu

Jasa Marga Raih Top 10 BUMN Layanan Terbaik dalam Danantara Indonesia CX100 Award 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk berhasil meraih peringkat 10 dalam ajang Danantara…

13 jam yang lalu

Mahasiswa UIN Jakarta dan UI ungkap Model Keberlanjutan Wakaf Rumah Sakit di GLOW 2026

MONITOR, Jakarta - Integrasi tata kelola syariah dan model bisnis hibrida menjadi kunci keberlanjutan wakaf…

1 hari yang lalu