Menag Nasaruddin Umar saat menghadiri rapat kerja pimpinan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Jakarta. (Foto: kemenag.go.id)
MONITOR, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong percepatan transformasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Berbadan Hukum (PTKIN-BH) pertama di Indonesia untuk meningkatkan otonomi, fleksibilitas pengelolaan keuangan, dan daya saing global. Transformasi ini menargetkan kemandirian akademik dan tata kelola, dengan fokus pada optimalisasi pendapatan non-UKT.
Arahan ini disampaikan menag pada rapat kerja pimpinan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Jakarta, Sabtu (14/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, Menag juga menyampaikan apresiasi atas capaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu wajah keunggulan pendidikan Islam di Ibu Kota.
Berbagai prestasi yang diraih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan buah dari dedikasi panjang para dosen dan tenaga kependidikan. Menag menilai, kerja kolektif sivitas akademika telah mengantarkan kampus ini pada posisi yang diperhitungkan dalam peta pendidikan tinggi keagamaan.
“UIN Jakarta telah menjadi wajah keunggulan pendidikan Islam di Jakarta. Prestasi ini tentu tidak lahir tiba-tiba, tetapi hasil dari dedikasi dan kontribusi dosen serta seluruh staf pendidikan yang terus bekerja membangun kualitas institusi,” ujar Menag.
Di sisi lain, Menag menilai UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kini berada di persimpangan jalan yang menentukan arah transformasi ke depan. Ia menyebut setidaknya ada dua faktor utama yang mendorong perlunya akselerasi perubahan di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.
Pertama, perubahan sosial dan demografi generasi yang berdampak pada cara belajar. Menurut Menag, generasi muda saat ini memiliki pola belajar yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Waktu belajar cenderung lebih singkat, sementara media pembelajaran daring semakin diminati dibandingkan metode luring konvensional.
“Perubahan cara belajar generasi muda menuntut kampus untuk beradaptasi. Pola pembelajaran hari ini tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Kampus perlu membaca perubahan ini secara cermat agar tetap relevan,” katanya.
Kedua, perubahan tata kelola perguruan tinggi keagamaan menuju PTKIN-BH yang membuka ruang gerak lebih luas dan mandiri. Menag menilai, langkah ini merupakan peluang besar bagi kampus untuk mempercepat penguatan kelembagaan dan pengembangan kapasitas akademik.
“Transformasi kelembagaan menuju PTKIN-BH adalah langkah besar agar kampus dapat bergerak lebih luas dan mandiri. Namun, transformasi institusi tidak mungkin berjalan tanpa transformasi kepemimpinan,” tegasnya.
Menag juga menegaskan bahwa pemimpin transformatif adalah mereka yang mampu memberdayakan sumber daya manusia secara optimal. Ia meyakini, kekuatan utama institusi terletak pada kualitas manusia yang ada di dalamnya.
“Pemimpin yang transformatif adalah pemimpin yang pandai memberdayakan SDM. Ketika dosen dan tenaga kependidikan diberi ruang untuk tumbuh, maka institusi akan bergerak lebih cepat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menyoroti persoalan pelik dalam…
MONITOR, Jakarta - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono menyampaikan sebanyak…
MONITOR, Surabaya - Pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) pada pelaksanaan Seleksi Prestasi Akademik…
MONITOR, Jakarta - Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI), Sjafrie Sjamsoeddin, didampingi Wakil Panglima TNI…
MONITOR, Denpasar - Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, secara resmi membuka Parade Budaya Bhakti Pertiwi…
MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas…