PEMERINTAHAN

Menag: Humas Harus Proaktif dan Hadir Lebih Cepat dari Isu

MONITOR, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta seluruh jajaran humas Kementerian Agama, baik di pusat maupun daerah, untuk bekerja lebih aktif, solid, dan responsif dalam menghadapi dinamika informasi publik yang semakin cepat dan kompleks.

Arahan tersebut disampaikan Menag saat memimpin rapat rutin di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/2/2026). Menag menegaskan bahwa kehumasan tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai informasi kegiatan, tetapi harus menjadi pengelola isu dan penjaga kepercayaan publik.

“Kita tidak bisa lagi bekerja reaktif. Humas harus proaktif, solid sebagai satu korps, dan hadir lebih cepat dari isu,” tegas Menag.

Menag menyoroti luasnya struktur Kementerian Agama yang menjangkau hingga daerah, mulai dari kanwil, kantor kabupaten/kota, KUA, hingga satuan pendidikan keagamaan. Menurutnya, cakupan besar tersebut justru menjadi kekuatan jika diimbangi dengan koordinasi dan komunikasi yang kuat.

“Aktivitas kita sangat banyak, tapi yang sampai ke publik sering kali hanya sebagian kecil. Ini bukan karena tidak bekerja, tapi karena belum terkelola dengan baik secara komunikasi,” ujarnya.

Dalam arahannya, Menag menekankan pentingnya sinergi pusat dan daerah. Ia meminta humas di daerah tidak ragu menyampaikan informasi dan capaian ke pusat, sekaligus mendorong humas pusat untuk lebih aktif mengangkat praktik baik dari daerah.

Menag juga mengingatkan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam merespons isu sensitif, terutama yang berkaitan dengan layanan keagamaan dan isu keumatan. Keterlambatan klarifikasi, kata Menag, dapat membuat narasi negatif terlanjur berkembang di ruang publik.

“Kalau ada isu, jangan dibiarkan. Klarifikasi harus cepat, terukur, dan bertanggung jawab. Jangan sampai publik lebih dulu percaya pada informasi yang keliru,” kata Menag.

Selain itu, Menag mendorong humas untuk menghadirkan komunikasi yang lebih membumi, humanis, dan mudah dipahami masyarakat, termasuk generasi muda.

“Bahasa kita harus bisa menjangkau semua kalangan. Jangan hanya berbicara ke internal birokrasi, tapi juga ke publik luas,” ujarnya.

Menag juga menekankan bahwa media adalah mitra strategis pemerintah. Karena itu, humas diminta membangun hubungan yang sehat dengan media, berbasis data, fakta, dan keterbukaan informasi.

“Suara Kementerian Agama harus hadir menyejukkan ruang publik. Bukan untuk membanggakan institusi, tetapi untuk menjaga kepercayaan dan merawat harmoni di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Recent Posts

Prof Rokhmin Paparkan Roadmap Maritim 2045, Targetkan PDB Maritim 15 Persen

MONITOR, JAKARTA - Indonesia menargetkan kontribusi produk domestik bruto (PDB) maritim mencapai 15 persen dan…

4 jam yang lalu

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kemenhaj Benahi Tata Kelola dan Perkuat Layanan Jemaah

MONITOR, Jakarta - Transformasi penyelenggaraan ibadah haji dan umrah dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo…

4 jam yang lalu

Indonesia dan Malaysia Bahas Penguatan Regulasi Pelindungan Anak di Ruang Digital

MONITOR, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bersama Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil…

6 jam yang lalu

Panen Raya Padi di Indramayu, Produktivitas Meningkat 2,7 Ton/Hektare berkat Extragen dan Pupuk Berimbang

MONITOR, Indramayu - Kelompok Tani (Poktan) Gentong Jaya, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mencatat…

8 jam yang lalu

Marwan Jafar Salurkan Ratusan Ribu Liter Air Bersih, Desak Solusi Permanen Atasi Kekeringan

MONITOR, Pati - Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Marwan Jafar, menyalurkan bantuan…

8 jam yang lalu

Dorong Kemandirian, Menko Muhaimin Buka Jalan Santri Keluar dari Kemiskinan

MONITOR, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar mengajak Kementerian…

17 jam yang lalu