NASIONAL

Kemenag Ajak Insan Media Terapkan Jurnalisme Spiritual Selama Ramadan

MONITOR, Jakarta – Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Ismail Cawidu, mengajak para jurnalis mengedepankan jurnalisme spiritual dalam pemberitaan selama bulan Ramadan. Pesan itu disampaikan Ismail Cawidu dalam konferensi pers bertema Joyful Ramadan Mubarak di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

“Intensionalitas ibadahnya itu harus dilakukan dengan niat. Jadi jurnalisme diposisikan sebagai amal saleh, dilandasi kejujuran dan keberpihakan kepada kebenaran,” katanya.

Hadir juga sebagai narasumber, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad. Selaku moderator, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Thobib Al Asyhar.

Peran wartawan, kata Ismail, sejalan dengan misi dakwah melalui tulisan atau dakwah bil qolam yang pahalanya setara dengan dakwah melalui mimbar-mimbar agama. “Orang berdakwah dengan mulut, Anda dengan tulisan. Itu sama-sama pahalanya. Informasi yang baik mendatangkan keberkahan bagi kita semua,” lanjutnya.

Dalam perspektif etika, Ismail mendorong penerapan komunikasi profetik yang meneladani sifat kenabian seperti sidiq, fathonah, tabligh, dan amanah. Menurut Ismail, media perlu menghindari penyebaran informasi negatif selama Ramadan dan lebih mengutamakan jurnalisme yang membawa maslahat.

“Kita puasa informasi negatif. Betul-betul menyaring semua informasi. Jangan sampai ada informasi yang negatif. Orientasi berita harus pada kepentingan publik dan solidaritas,” katanya.

Ia juga mendorong apa yang disebutnya sebagai hope journalism atau jurnalisme harapan, yakni pemberitaan yang menonjolkan kebaikan, filantropi, solidaritas, serta transformasi moral masyarakat. Lebih jauh, Ismail menekankan fungsi sosial media sebagai ruang persaudaraan dan literasi spiritual publik. Media diharapkan membantu masyarakat memahami makna Ramadan secara lebih mendalam.

“Media sebagai ruang ukhuwah, ruang kesadaran yang menimbulkan hubungan baik. Juga membantu masyarakat memahami makna Ramadan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa fungsi kontrol tetap harus dijalankan. “Kritik konstruktif yang tetap beretika dan beradab tetap dilakukan. Kita bangun ekologi informasi damai selama bulan suci Ramadan,” tambahnya.

Ismail menyimpulkan bahwa jurnalisme Ramadan pada hakikatnya merupakan integrasi antara etika profetik, tanggung jawab sosial media, dan spiritualitas ibadah kolektif.

“Wartawan yang menyebarkan berita baik pada bulan Ramadan tidak hanya menjalankan fungsi komunikasi publik, tetapi juga berpartisipasi dalam praktik kesalihan sosial berbasis informasi,” tutupnya.

Recent Posts

Menjangkau Siberut Memperkuat Wirausaha Terdampak Bencana

MONITOR, Jakarta - Di tengah bentang Samudra Hindia, Pulau Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra…

7 jam yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Subkultur Pesantren Menjadi Identitas dalam Sistem Pendidikan Nasional

MONITOR - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag., menegaskan bahwa…

11 jam yang lalu

Analis: Listyo Sigit di KSP Perkuat Perspektif Keamanan dalam Pengawalan Pembangunan

MONITOR, Jakarta - Perpindahan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari posisi Kapolri ke Kepala Staf…

12 jam yang lalu

Panen Padi Temanggung Tembus 10,2 Ton/Ha, Komisi IV DPR dorong Pemupukan Berimbang

MONITOR, Temanggung - Produktivitas padi di demplot seluas 5 hektare di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto,…

13 jam yang lalu

Kemenhaj–Kemendagri Padankan Data Jemaah Haji, Pastikan Antrean Lebih Akurat

MONITOR, Jakarta - Dalam upaya meningkatkan akurasi, transparansi, dan kualitas pelayanan ibadah haji, Menteri bersama…

18 jam yang lalu

Analis Meyakini Kapolri Baru Mampu Melanjutkan Transformasi Polri Berkesinambungan

MONITOR - Transformasi Polri tidak boleh ikut berganti setiap kali tongkat komando berpindah tangan. Di…

18 jam yang lalu