Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kariyanto. (Foto: kemenag.go.id)
MONITOR, Jakarta – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Sumba Timur menjadi tempat belajar bersama bagi 57 siswa beragama Kristen dan Katolik dari total 217 peserta didik.
Kepala Madrasah MIN 3 Sumba Timur, Siti Aminah, menyampaikan bahwa peserta didik tersebut terdiri atas 23 siswa Katolik dan 34 siswa Kristen yang mengikuti proses pendidikan bersama siswa Muslim dalam satu lingkungan madrasah negeri.
Menurut Siti Aminah, keberagaman latar belakang agama peserta didik sudah menjadi bagian dari keseharian madrasah dan diterima sebagai kondisi yang tumbuh secara alami di lingkungan sekolah.
“Kami tidak pernah menyebut mereka sebagai non-Muslim. Kami memilih menyebut mereka sebagai anak-anak multikultural. Karena sejak awal, mereka adalah bagian utuh dari keluarga besar madrasah ini,” ungkapnya, Jumat (16/1/2025).
Salah satu bentuk pemenuhan hak pendidikan keagamaan bagi siswa multikultural dilakukan dengan menghadirkan penyuluh agama Kristen dam Katolik untuk mendampingi para peserta didik dalam pembelajaran agama sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Pendampingan tersebut salah satunya dilaksanakan pada 29 September 2025, ketika Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Sumba Timur melakukan bimbingan rohani kepada siswa-siswi MIN 3 Sumba Timur. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan karakter spiritual peserta didik serta penguatan empat pilar Moderasi Beragama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi lokal.
Penyuluh Agama Kristen yang terlibat, Febe Apriani Dubu, menilai pendampingan sejak usia dini menjadi kunci dalam menanamkan nilai kebersamaan. “Anak-anak adalah benih. Jika sejak kecil ditanamkan bahwa perbedaan itu indah dan agama mengajarkan cinta, bukan benci, mereka akan tumbuh menjadi agen moderasi sejati,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya madrasah dalam membangun lingkungan belajar yang adil dan inklusif, sekaligus membiasakan sikap saling menghormati sejak usia dasar.
Selain di ruang kelas, nilai kebersamaan juga dikembangkan melalui kegiatan Gerakan Pramuka yang melibatkan seluruh peserta didik tanpa pembedaan latar belakang agama. Dari aktivitas tersebut, MIN 3 Sumba Timur kemudian dikenal dengan Gugus Depan (Gudep) Moderasi Beragama.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kariyanto, menyampaikan apresiasi atas praktik pendidikan yang dijalankan MIN 3 Sumba Timur. “Apa yang dilakukan MIN 3 Sumba Timur adalah praktik nyata moderasi beragama, bukan sekadar konsep. Ini adalah wajah pendidikan keagamaan yang ramah, inklusif, dan memanusiakan,” ujarnya.
Menurut Kariyanto, pengalaman MIN 3 Sumba Timur menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun karakter peserta didik. “Madrasah ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak menjadi penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun karakter anak bangsa yang saling menghormati,” pungkasnya.
MONITOR, Jakarta - Provinsi DKI Jakarta kembali menunjukkan perannya sebagai magnet utama investasi dalam negeri.…
MONITOR, Jakarta — Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Hendardi, menilai pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI)…
MONITOR, Jembrana — Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan 400 dosis vaksin darurat untuk penyakit Lumpy Skin…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, menegaskan bahwa penugasan personel TNI/Polri…
MONITOR, Jakarta - Kontingen Bulutangkis Kementerian Agama berhasil menorehkan prestasi gemilang pada Kejuaraan Bulutangkis dalam…
MONITOR, Jakarta - Di tengah dinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian, sektor industri manufaktur…