BERITA

ARMADA: Spirit Sociopreneur Jadi Solusi di Tengah Tekanan Ekonomi

MONITOR, Jakarta – Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA), Aris Tama, menyoroti fenomena paradoksal ekonomi Indonesia saat ini. Meski indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi cenderung stabil, tekanan berat justru dirasakan di tingkat rumah tangga dan pelaku usaha kecil (UMKM).

Menurut Aris, daya beli masyarakat yang belum pulih serta meningkatnya biaya hidup telah menciptakan ketimpangan yang semakin nyata. Di sisi lain, munculnya berbagai model bisnis komunitas yang bersifat transaksional justru memperdalam krisis kepercayaan di tengah masyarakat.

Ekonomi Berbasis Komunitas dan Nilai
Sebagai solusi, Aris memperkenalkan pendekatan Spirit – Sociopreneur Networking. Model ini dipandang sebagai alternatif yang lebih moderat dan realistis dalam membangun ketahanan ekonomi nasional melalui penguatan komunitas.

“Model ini tidak menjanjikan kesejahteraan instan. Ia berangkat dari kesadaran bahwa ketahanan ekonomi hanya dapat dibangun melalui penguatan nilai bersama dan keberlanjutan jangka panjang,” ujar Aris kepada Media di Jakarta.

Beberapa poin utama dari pendekatan ini meliputi: Bantalan Sosial Spiritual: Memanfaatkan jejaring komunitas keagamaan, pesantren, dan jamaah sebagai penyangga sosial yang memiliki daya lenting tinggi di masa krisis.

Fondasi Etika (Amanah & Keadilan): Menempatkan integritas dan keberpihakan pada kelompok rentan sebagai rambu utama, bukan sekadar simbolik.

Pemberdayaan Riil: Fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pangan terjangkau, kesehatan, dan pendidikan melalui instrumen sociopreneurship.

Keuntungan Sebagai Sarana, Bukan Tujuan Akhir Aris menegaskan bahwa dalam konsep ini, keuntungan tetap diperlukan namun diposisikan sebagai alat untuk menjaga keberlanjutan usaha (sustainability), bukan tujuan akhir yang mengabaikan etika.

Jejaring yang dibangun dalam Spirit-Sociopreneur Networking bukanlah mekanisme rekrutmen agresif, melainkan ekosistem berbasis kepercayaan. Strategi ini diperkuat dengan sistem kerja yang terukur seperti Socio Marketing Network System.

“Prinsip ‘nilai mendahului skala’ menjadi sangat penting. Di tengah ekonomi yang rapuh, pertumbuhan tanpa fondasi nilai justru berisiko memperbesar kegagalan,” tambahnya.

Optimisme Rasional untuk Ekonomi Umat
Menghadapi tekanan ekonomi global dan krisis ekologi, Aris Tama menutup dengan pesan optimisme. Ia meyakini bahwa membangun ekonomi umat secara bertahap, sadar, dan berkeadilan dari basis komunitas adalah langkah paling konkret untuk mengatasi ketimpangan.

“Ini adalah optimisme yang rasional. Kita membangun kembali ekonomi dari bawah, dengan sistem yang tertib dan hati yang melayani,” pungkasnya.

Recent Posts

Arahan Prabowo dari Hambalang; Diplomasi Ekonomi Harus Untungkan Indonesia

MONITOR, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri terkait bidang ekonomi ke kediaman pribadinya…

1 jam yang lalu

DPR Kritik Jokowi, Tak Tanda Tangan Bukan Berarti Tak Setujui UU KPK

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Abdullah tidak sepakat dengan pernyataan Presiden ke-7…

4 jam yang lalu

Kemenag Salurkan Rp19,3 Miliar untuk Mendukung Pemulihan Aceh

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama menyalurkan bantuan penanganan bencana sebesar Rp19,3 miliar untuk mendukung pemulihan…

5 jam yang lalu

Hormati Sejarah Aceh, Wamenhaj Resmikan Pesawat Manasik di Asrama Haji

MONITOR, Jakarta - Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, meresmikan pesawat hibah dari…

6 jam yang lalu

Siswa Madrasah Tembus Kampus Dunia, Australia Jadi Tujuan Utama

MONITOR, Jakarta - Program Madrasah Goes Abroad (MGA) kian menunjukkan hasil nyata dalam memperluas akses…

11 jam yang lalu

Kemenperin Fasilitasi 8 IKM di Inacraft 2026, Raup Transaksi Rp338 Juta

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian kembali menunjukkan komitmennya untuk mendukung pertumbuhan industri kerajinan dalam negeri…

14 jam yang lalu