HUKUM

Sepakat dengan Wakil Ketua KPK, LSAK: Kita Harus Hilangkan Perilaku Korup Para Pejabat

MONITOR, Jakarta – Lembaga Studi Anti Korupsi (LSAK) sepakat dengan usul Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, terkait partai politik (parpol) diberikan dana yang lebih besar dari APBN untuk menghilangkan perilaku korup dari para pejabat ketika sudah terpilih nantinya.

“LSAK menilai, penyebab utama dari perilaku korup para pejabat adalah mahalnya sistem politik untuk menjadi pejabat, baik dari tingkat terbawah yakni kepala desa bahkan hingga tingkat tertinggi yakni pemilihan Presiden dan Wakil Presiden,” ujar Peneliti LSAK Ahmad Hariri kepada media, Jum’at (16/5/2025).

LSAK terang Hariri berpendapat, para pejabat yang menduduki jabatannya saat ini pasti mengeluarkan modal besar, mungkin ada yang dengan cara meminjam atau bahkan ada yang memberikan modal.

Menurut Hariri dengan adanya pemodal tersebut, pastilah ada timbal balik jika yang diberi modal berhasil menduduki jabatannya. Timbal baliknya bisa dengan bermacam model, ada yang mengembalikannya melalui uang kembali atau ada yang juga melalui proyek-proyek yang ada di bawah kendali jabatannya.

“Oleh karena itu, LSAK menegaskan, dengan diberikannya dana yang besar bagi parpol, diharapkan praktik-praktik mencari pemodal tersebut bisa dihilangkan karena bisa dibiaya oleh parpol yang mendapatkan uang dari APBN tersebut,” terangnya.

“Sehingga, ke depannya, kita bisa menekan atau bahkan menghilangkan perilaku korup dari para pejabat yang terpilih,” tegasnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Fitroh Rohcahyanto menyebut partai politik sebaiknya dibiayai negara. Langkah tersebut dianggap bisa menutup celah korupsi atau praktik korupsi timbal balik.

Hal ini disampaikan Fitroh dalam webinar yang ditayangkan di YouTube KPK RI, Kamis, 15 Mei. Awalnya, dia menyebut sistem politik di Tanah Air membuat pejabat yang ingin menduduki jabatan tertentu harus mengeluarkan modal besar sehingga berpotensi menimbulkan korupsi.

“Saya dengan tegas menjawab sistem politik yang menjadi faktor utama menurut saya sehingga terjadi korupsi yang cukup masif,” kata Fitroh dalam webinar tersebut.

Recent Posts

Kolaborasi Lintas Kementerian Entaskan Kemiskinan Melalui Pemberdayaan UMKM dan Ekraf

MONITOR, Jakarta — Tiga kementerian mencakup Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Kementerian Usaha…

8 jam yang lalu

Legislator Ingatkan Untuk Hitung Cermat Hibah Kapal Induk dari Italia Agar Tak Jadi Beban RI

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menyoroti rencana Indonesia menerima hibah…

9 jam yang lalu

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dinilai Hanya Memperkaya Segelintir Elite

MONITOR, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran lima persen dinilai belum mencerminkan…

10 jam yang lalu

Ketimpangan Ekonomi dan Krisis Iklim Berasal dari Struktur Ekonomi yang Sama

MONITOR, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di kisaran lima persen dalam beberapa…

11 jam yang lalu

Menaker Pastikan Hak Jaminan Sosial Korban Kecelakaan KA Bekasi Terpenuhi

MONITOR, Bekasi — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyampaikan hingga 4 Mei 2026, sebanyak sembilan dari…

11 jam yang lalu

Konsisten Dorong Transparansi Emisi Berkelanjutan, Jasa Marga Raih Trusted Diamond Achievement 2026

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk kembali menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dengan…

11 jam yang lalu