Foto: Istimewa
MONITOR, Ponorogo – Curah hujan yang masih tinggi, menyebabkan beberapa daerah di Jawa Timur dilanda banjir, namun tidak separah tahun-tahun kemarin. Berdasarkan informasi BMKG pada awal Tahun 2023, kondisi La Nina akan bergeser ke arah Netral pada bulan Februari ini, artinya intensitas curah hujan menurun sehingga pertanaman lebih aman dari ancaman banjir dan gagal panen.
Demikian juga yang dialami oleh petani di Ponorogo, yang pertanamannya sempat terkena banjir namun kekhawatiran mereka berangsur-angsur mereda akibat banjir yang menggenangi sawah mereka seluas 55 ha, telah surut dan pertanaman yang sudah berumur ± 55-65 HST aman dari gagal panen. “Kami sempat khawatir dengan hujan kemarin karena persawahan jadi tergenang air, namun alhamdulillah hari ini banjir sudah surut sehingga kami tidak perlu khawatir lagi” tandas seorang petani yang tidak mau disebutkan namanya. Hal senada diungkapkan pula oleh Paino petugas lapangan POPT, yang menjelaskan bahwa belum melakukan upaya penanganan banjir karena air surut dalam waktu cepat. “Biasanya kami bersama petani bergotong-royong membersihkan saluran air dari sampah-sampah secara berkala agar aliran air tidak tersumbat dan tidak menggenangi sawah, selain itu pada Musim Kemarau sawah yang terletak di bagian ujung saluran air tetap mendapatkan air” terang Paino.
Suwarni, Koortikab POPT Ponorogo menjelaskan bahwa banjir akibat curah hujan yang tinggi kemarin sempat menggenangi areal persawahan petani di Kelurahan Paju, Kecamatan Ponorogo seluas 55 ha, “Kelurahan Paju memang menjadi langganan banjir setiap tahunnya karena terletak pada wilayah pertemuan beberapa sungai, sehingga apabila curah hujan tinggi maka luapan air sungai akan menggenangi persawahan disitu” tambah Suwarni.
“Kondisi La Nina yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir ini menyebabkan intensitas curah hujan meningkat dari biasanya perlu diwaspadai dan diantisipasi.” Upaya penanganan banjir seperti penyaluran bantuan benih bagi lahan yang gagal panen dan mengawal klaim asuransi bagi petani peserta AUTP diharapkan dapat mengurangi beban petani yang terdampak” Ungkap Abriani Fensionita, Koordinator Substansi Penanggulangan DPI.
Dihubungi secara terpisah, Direktur Perlindungan Tanaman, Mohammad Takdir Mulyadi, mengatakan bahwa Kementan terus mengupdate data laporan banjir dari petugas di lapangan. Diharapkan laporan ini bisa menjadi benchmark bagi kami untuk mengambil keputusan yang tepat dan cepat. “Puso akibat banjir di Jawa Timur pada bulan Januari tahun ini masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu, “jelas Takdir. “langkah antisipasi dampak iklim ekstrim diantaranya dengan mapping wilayah rawan banjir, pemantauan rutin informasi BMKG sebagai Early Warning System, penggunaan varietas padi toleran genangan, optimalisasi penggunaan pompa untuk mengeluarkan air yang tergenang dari persawahan dan mengajak petani untuk mendaftarkan lahannya pada Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).” Sambung Takdir.
Hal ini sesuai dengan arahan Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian yang menyatakan bahwa semua jajaran pemerintahan harus mampu mapping wilayah rawan banjir, yang mana wilayah merah, kuning dan hijau, semua tetap waspada dan kita prediksi daerah rawan itu. Kalau mapping-nya ada, tentu persiapan nya akan lebih maksimal.
MONITOR, Ciputat - Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus menunjukkan…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR RI, KH Maman Imanulhaq mengecam keras kasus kekerasan…
MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman menyayangkan ketidakmampuan Bulog…
MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan belasungkawa kepada korban insiden kecelakaan kereta…
MONITOR, Jakarta - Transformasi koperasi di Indonesia Timur terus bergulir. Tidak sekadar entitas bisnis, koperasi…
MONITOR, Minahasa Selatan – Produk olahan sabut kelapa dari Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, berhasil…