Kamis, 21 Oktober, 2021

Jangan Parno, Ketahui Cara Kerja Vaksin Supaya Makin Yakin

MONITOR, Jakarta – Vaksinasi merupakan solusi pasti agar dunia bisa segera keluar dari pandemi Covid-19. Sayangnya sebagian masyarakat masih ragu. Agar semakin paham, mari kita mengupas tuntas perihal cara kerja vaksin dan mengapa kekebalan komunal sangat penting.

Dokter Penyakit Dalam Universitas Udayana, I Gusti Putu Suka Aryana, menjelaskan tentang bagaimana vaksinasi bekerja dalam webinar berjudul “Tips For Healthy Living Before and After Vaccination by Good Doctor” .

Dia membuat gambaran pentingnya vaksin dengan membandingkan virus polio yang sempat mewabah di banyak negara di dunia pada akhir abad ke-19. Sejak itu, imunisasi polio menjadi salah satu yang diwajibkan bagi anak-anak yang baru lahir.

“Jadi kalau kita mau menghilangkan sebuah penyakit dalam muka bumi ini, vaksinasi adalah jawabannya,” kata dr Aryana.

- Advertisement -

Dia pun menjelaskan, vaksin merupakan suatu senyawa biologis yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara menstimulasi produksi antibodi.

“Umumnya vaksin mengandung suatu zat yang mewakili kuman penyebab penyakit, tapi bukan kuman. Seringkali dibuat dari kuman yang dimatikan atau dilemahkan zat tersebut menstimulasi dalam sistem kekebalan tubuh untuk mengenalnya sebagai zat asing, lalu terpicu untuk mengeliminasinya, dan membentuk memori,” papar dr Aryana.

Memori itu, lanjutnya, akan mengingat ketika ada virus masuk sehingga sistem kekebalan tubuh dapat dengan mudah menangkal jika di kemudian hari kuman tersebut mengidentifikasi tubuh.

Proses tersebut merupakan tahapan terbentuknya kekebalan dalam tubuh manusia. Kekebalan tubuh sendiri terbagi dua, yaitu yang dipicu secara alami atau Natural Immunity, dan Artificial Immunity atau kekebalan yang didapat.

“Alami ada yang aktif jika orang itu teridentifikasi virus, dan tubuhnya secara otomatis membentuk kekebalan. Kalau pasif itu ada pertukaran kekebalan yang terjadi antara ibu hamil dengan bayi yang didalam kandungannya,” jelasnya.

Adapun Artificial Immunity yang aktif adalah melalui vaksinasi. Sementara yang pasif berarti kekebalan dimasukkan ke dalam tubuh yang disebut transit plasma konfalesmen. “Ada orang yang sudah terkena Covid, kita ambil kekebalan tubuhnya hingga orang tersebut mendapat kekebalan tubuh,” lanjut dia.

“Mau yang alami atau buatan, kalau mau alami ada konsekuensi kita akan mengalami sakit berat dan berbahaya. Jika vaksin, itu akan mengakibatkan efek yang sedikit saja. Vaksin itu akan disuntikkan, dan akan mengeliminasi virus covid yang ada di dalam tubuh kita,” tutur dr Aryana.

Dia menjelaskan, membuat vaksin sebenarnya tidak mudah karena fase-fase penelitiannya cukup panjang. Namun, dalam waktu kurang lebih satu tahun, vaksin Covid-19 sudah ditemukan. Padahal, ada sebagian penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan vaksinnya.

“Kalau polio hampir 60 tahun baru ditemukan, ebola dan lainnya butuh waktu panjang. Inilah prinsip sederhana, vaksin itu banyak platform nya. Platform nya itu bagian mana dari virusnya yang terpakai, menggunakan bahan-bahan yang bagus,” kata dia.

Sementara dari sisi efek samping vaksin, dr Aryana menjelaskan apabila dilihat dari jenisnya, semakin kuat vaksin tersebut merangsang, daya kerjanya pun semakin baik. Namun, efek sampingnya memang cukup besar pula.

“Perlu diketahui, jika efek sampingnya semakin besar biasanya lebih kuat merangsang sistem imun, safety-nya lebih besar kadang-kadang efikasinya semakin kecil. Paradigma ini semakin meluas di kalangan masyarakat,” tuturnya.

Kekebalan komunal atau herd immunity

Dalam kesempatan itu, dr Aryana juga menjelaskan konsep herd immunity. Sebagai gambaran, anggaplah dalam satu populasi yang tervaksin hanya tiga orang, kemudian hanya satu orang terkena virus Covid.

Jadi, dalam waktu singkat, satu orang itu akan menyebar ke 10 sampai 15 orang di sana. Sedangkan yang tidak terpapar hanya tiga orang yang sudah divaksin.

“Tetapi, kalau yang sudah divaksin sudah banyak ketika ada satu orang yang kena paling banyak dia akan mengenai 2/3 orang karena hampir semua sudah divaksin. Inilah penyebarannya tidak meningkat lagi, bisa segera sembuh, dan penurunannya bisa distabilkan,” ujar dr Aryana.

Dia juga mengapresiasi kinerja pemerintah dalam melakukan tahapan periode vaksinasi untuk mencapai target 80% orang yang bisa tervaksinasi. Adapun fase ini dari petugas kesehatan 1,3 juta orang, petugas publik 21,5 juta orang, lansia 63,9 juta orang dan terakhir masyarakat umum 77,4 juta orang.

“Sekarang sudah September 2021, kita sudah fase akhir semoga harapan semakin besar dan bisa hidup normal kembali,” ucapnya.

Meski demikian, dr Aryana mengingatkan agar berhati-hati dalam memberikan vaksin dengan melihat kelayakan dan mana yang lebih berisiko. Hal ini penting supaya target sasaran bisa terpantau dengan baik.

“Kalau ada penyakit akut, ada dengan obat-obatan kemoterapi ini bisa belakangan belum waktunya, prioritaskan yang sudah siap. Yang sudah kena Covid pun tunggu 3 bulan, karena dia sudah membentuk kekebalan alami dari adanya Covid tersebut,” kata dia.

“Untuk lansia juga jika sangat rentan, kita belakangan dulu, takut beresiko dan adanya gangguan-gangguan. Mungkin bisa di rumah sakit, atau oleh dengan saran dokter agar bisa terkontrol dengan baik,” lanjutnya.

Persiapan vaksin

Sebelum melakukan vaksinasi, dr Aryana menekankan sebenarnya tidak ada persiapan khusus yang perlu dilakukan. Kuncinya hanya tingkatkan imunitas tubuh, jaga protokol kesehatan, tetap berpikir positif, rileks, serta jaga asupan nutrisi seimbang.

“Tidak ada hal-hal khusus sendiri, kalau panas badan itu reaksi ringan ya minum paracetamol. Jika reaksi nya berat, maka itu semakin bagus dalam meningkatkan kekebalan, namun segera diatasi dengan obat anjuran dokter,” papar dia.

Dia juga menekankan bahwa semakin banyak yang divaksin, virus tidak akan semakin menyebar. Masyarakat tidak bisa merasa aman ketika banyak saudara yang belum vaksin.

“Karena dia berpotensi untuk menyebarkan virus, dan menjadi mutase baru sehingga yang sudah divaksin akan terinfeksi lagi,” ujarnya.

Menurut dr Aryana, semua orang bisa divaksin, sambil melihat rekomendasi dari para ahli. Apalagi, saat ini penelitian masih berjalan, dan akan ada informasi mengenai siapa saja yang boleh atau tidak boleh divaksin.

“Yang jelas, mari kita vaksin untuk menjaga sistem kekebalan tubuh kita hingga bisa kembali dalam kehidupan yang kita idam-idamkan,” kata dia.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER