Resistensi Industri Seni Banyuwangi untuk Ketahanan Indonesia

Oleh: Hervina Nurulita, MA*

MONITOR – Masa pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, akan tetapi masyarakat seni yang mulai haus akan adanya seni pertunjukkan sudah mulai tak sabar untuk menyaksikan kembali adanya pergelaran pameran, festival dan juga seni pertunjukan yang akrab diselenggarakan oleh seniman Indonesia.

Setelah sekian lama tidak ada event-event seni pertunjukkan yang dapat dinikmati, kabar gembira itu pun muncul  untuk semua penggiat industri kreatif, terutama yang bergerak di bidang seni pertunjukan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengabarkan jika event atau pelaksanaan seni pertunjukkan diperbolehkan di masa pandemi dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat. 

Di antaranya seni pertunjukkan tersebut haruslah dapat memenuhi unsur Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Selain itu penyelenggara event juga harus memperhatikan zonasi Covid-19 di lokasi acara. Kegiatan pertunjukan di kawasan zona merah Covid-19 masih dilarang untuk digelar atau bisa diadakan tapi hanya lewat virtual. Sedangkan  di zona kuning akan diterapkan kegiatan berkonsep hybrid, yakni pertunjukan langsung yang dikombinasikan dengan virtual dan zona hijau rencananya akan diperbolehkan untuk digelar seni pertunjukkan.

Diperbolehkannya pelaksanaan seni pertunjukan. Hal ini menjadi angin segar bagi seluruh pekerja seni yang aktivitasnya sempat terhenti karena terdampak pandemi Covid-19. Seperti diketahui bersama selama pandemi, berbagai tempat seni pertunjukan ditutup. Dampaknya bukan hanya ke masyarakat yang kehilangan hiburan, tetapi juga terhadap pelaku seni itu sendiri. Dari sisi ekonomi, jelas para pelaku industri itu terdampak. Namun dari sisi kreativitasnya sendiri, terjadi penurunan daya kreatif karena minimnya ruang seni untuk berekspresi. 

Hal itu pula yang sebenarnya dirasakan oleh banyak seniman seni pertunjukkan utamanya para seniman yang ada di pulau Jawa yang sangat begitu terbiasa dengan adanya seni pertunjukkan dalam acara tiap minggunya bahkan di beberapa wilayah seperti Jogja, Solo dan Banyuwangi gelaran seni pertunjukkan tak ubahnya seperti sebuah road show konser yang punya agenda tiap akhir pekan.Didapatkannya izin dari pemerintah untuk dapat secara langsung menggelar seni pertunjukkan setidaknya menjadi geliat baru bagi dunia seni yang sebelumnya “mati suri” akibat dampak pandemi Covid-19.

Industri dan Penyelamatan Seni Pertunjukan

Pada Sabtu, 27 Maret 2021,  Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memberi ruang bagi para pelaku seni daerah untuk tetap berkarya ditengah wabah pandemi Covid-19. Digelar dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, acara festival musik jalanan ditampilkan dengan apik dalam sebuah event hybrid Festival Musik Jalanan Banyuwangi, Sabtu (27/3/2021).Sepuluh grup musik jalanan asal Banyuwangi bermain dengan dengan semangat untuk menghibur pengunjung di Gesah Kafe, Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Mereka pun menampilkan kepiawaiannya dalam bermusik dan membawakan berbagai genre musik.

Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ini pun selain dapat dinikmati secara langsung juga dapat dinikmati melalui tayangan sosial media.Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memberikan acungan jempol atas kreativitas para pemusik. Ipuk menyemangati para pekerja seni musik ini untuk tetap berkiprah meski di tengah keterbatasan suasana pandemi covid 19. Adanya gelaran festival yang berstandar protokol kesehatan ini setidaknya memberi bukti jika pemerintah Kabupaten Banyuwangi sudah memberi inisiasi awal untuk serius menggarap gerak pemulihan ekonomi dari sektor seni budaya yang mengalami dampak sangat besar akibat pandemi Covid-19.

Salah satu terobosan yang coba diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi adalah melakukan seni pertunjukkan lokal dengan konsep hybrid yang secara implementasi dilakukan dengan standar protokol kesehatan, dan upaya keterlibatan elemen lain berbasis teknologi dan penggerakkan ekonomi kreatif lokal. Bagi para pecinta seni pertunjukkan yang berada di daerah lain, mereka dapat memamfaatkan berbagai kanal media sosial untuk menonton seni pertunjukkan yang mereka inginkan. Sementara disisi lain, para pecinta seni pertunjukan yang ingin langsung menikmati seni pertunjukkan lokal juga dapat menikmati pariwisata langsung di Banyuwangi dengan menginap di hotel sambal menikmati kuliner khas Banyuwangi.

Munculnya ide seni pertunjukkan dengan konsep Hybrid yang memadukan konsep seni pertunjukkan dengan model pengembangan teknologi dan industri pariwisata menjadi nilai gerak modernisasi budaya baru yang cukup menjanjikan pada masa mendatang.

Seperti yang kita ketahui, selama masa pandemi banyak hunian hotel dan tempat pariwisata yang sepi akibat adanya kebijakan pembatasan sosial (social distancing) akibat merebaknya wabah pandemi Covid-19. Setali tiga uang, dunia seni pertunjukkan juga mengalami stagnasi yang sangat akut bahkan nyaris dapat dikatakan berhenti total. Pentas seni pertunjukkan yang selama ini menjadi dunia kerja bagi para seniman budaya harus mengalami nasib yang tak menguntungkan.

Kondisi ekonomi dan ketahanan para seniman budaya pun mengalami tekanan yang sangat luar biasa. Disinilah pentingnya sebuah konsep bersama dalam menyelamatkan resistensi kehidupan para seniman lokal yang tak hanya menyelematkan ide – ide kebudayaan yang kreatif, tapi juga ketahanan ekonomi keluarga para seniman dan kepentingan industri ekonomi lokal lainnya.

Pelaku seni di masa pandemi ini harus bisa beradaptasi dengan keadaan. Mereka harus tetap berkarya, beraktivitas dan berkegiatan seni dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sementara pada sisi yang lain, Masyarakat yang bergerak di bidang ekonomi kreatif juga harus tetap memasarkan produk jasa dan barang mereka demi mendapatkan target ekonominya. Disinilah hubungan kausalitas antara industri seni dan ekonomi dapat terpadu secara selaras untuk berjalan menuju ketahanan ekonominya masing- masing.

Adanya promosi budaya yang dikemas dalam bentuk Festival dengan berbagai promosi pariwisata dan potensi industri kreatif lokal akan memberi dampak yang sistemik bagi penyelematan industri seni budaya secara keseluruhan. Implikasi promosi budaya yang akan membuat terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis seni pertunjukan. Seni pertunjukan (performing arts) bagaimana pun juga termasuk salah satu prioritas budaya yang dapat dikembangkan luas dan mendorong banyak potensi investasi ekonomi lokal secara lengkap.

Analisa Masa Depan

Ditengah situasi yang penuh keterbatasan akibat pandemi Covid-19, pengembangan kemoderanan dari industri kreatif seni pertunjukan di Indonesia menjadi hal penting yang sudah tak dapat ditawar. Peluang baru bagi pengembangan industri yang berbasis pada pengetahuan dan kemampuan kreatif warga negara akan menjadi ekselensi bagi prospek masa depan budaya Indonesia.Pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu akan menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja yang menghasilkan nilai budaya dan ekonomis. 

Dalam konteks Banyuwangi misalnya, kita dapat lihat banyaknya komunitas dan institusi seni di Banyuwangi yang menjadi penopang dalam proses ekonomi kreatif lokal. Keunggulan Banyuwangi sebagai daerah rural agraris menjadi sistem dukung yang penting bagi eksistensinya seni dan kebudayaan daerah. Salah satu kesenian dari Banyuwangi yang artistik dan tak lekang oleh zaman adalah seni pertunjukan Janger Banyuwangi.

Dalam ranah seni pertunjukkan, Janger Banyuwangi merupakan salahsatu unsur seni pertunjukkan yang sangat memberi eksistensi yang sangat luas bagi pengembangan budaya lokal secara nasional. Keterpaduan seni pertunjukan berbasis lintas budaya daerah dan kultur menjadikan seni pertunjukkan Janger Banyuwangi sebagai salahsatu unggulan dalam sektor kebudayaan Indonesia. Karena secara teknis, seni pertunjukkan teatrikal Janger Banyuwangi menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa krama dan menampilkan cerita tradisional dari daerah Jawa.

Namun dari komponen lain seperti kostum, tari, dan alat musik yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan ini memiliki kemiripan dengan seni dan budaya Bali. Gending yang menjadi salah satu alat musik yang digunakan pada kesenian tradisional ini merupakan  kesenian musik khas dari daerah Banyuwangi. Adapun, serita tentang Damarwulan dan Minakjinggo yang ditampilkan secara teatrikal pada seni Janger ini bersumber dari kesenian Langendriya dari lingkungan keraton Yogyakarta yang secara implisit memberi kompilasi pemahaman budaya Jawa yang kuat. 

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) sekarang ini telah menetapkan seni Janger Banyuwangi sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda, dan kesenian ini sedang diajukan ke UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia.Dalam analisa kebudayaan masa depan, hadirnya pengembangan kreatifitas seni akan memberi investasi yang besar bagi kontinuitas ketahanan kebudayaan Indonesia masa mendatang.

Karenanya, dalam momentum strategis pemulihan kesehatan dan ekonomi nasional akibat dampak pandemi Covid-19, kita sangat berharap jika pengembangan budaya seni pertunjukkan lokal dapat menjadi aset penting dalam proses kemajuan dan perbaikan ketahanan pembangunan Indonesia.

Penulis adalah Dosen dan Peneliti Ahli Sejarah Banyuwangi