POLITIK

DPR Minta Pemda Kaltim Tunda Pembelajaran Tatap Muka

MONITOR, Samarinda – Anggota DPR RI, Hetifah Sjaifudian, meminta kepada seluruh pemerintah daerah (pemda) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) segera mengambil keputusan untuk menunda sistem pembelajaran tatap muka guna menghindari penularan Covid-19.

“Pemkot (Pemerintah Kota) Balikpapan telah memutuskan menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka pada semester genap Tahun Ajaran 2020/2021, sehingga saya minta pemkab (pemerintah kabupaten) dan pemkot lainnya segera mengambil keputusan agar warga tidak bimbang,” ungkapnya saat dihubungi, Jakarta, Selasa (5/1/2021).

Hetifah menilai, keputusan perlu diambil karena melihat perkembangan penularan Covid-19 yang makin meningkat, kemudian daya tampung rumah sakit dan ruang isolasi juga hampir penuh.

Selain itu, menurut Hetifah, juga karena banyaknya masukan dari para petugas kesehatan, tenaga pendidik dan orang tua murid agar proses belajar mengajar untuk sementara masih diberlakukan dengan pola jarak jauh.

“Keputusan Pemkot Balikpapan ini merupakan keputusan yang bijak karena mengakomodir banyak masukan dari pemangku kepentingan, termasuk orang tua dan tenaga kesehatan,” ujar Wakil Ketua Komisi X DPR RI itu.

Apalagi, Hetifah mengatakan, keputusan itu diambil berdasarkan pada data dan survei kepada orang tua maupun wali murid yang dilaksanakan secara periodik, sehingga daerah lainnya diharapkan mengikuti langkah yang sudah diambil oleh Balikpapan.

Menurut Hetifah, kebijakan itu merupakan langkah yang tepat untuk diterapkan pada wilayah perkotaan, namun pemda lain pun bisa mengikuti dengan memperhatikan perkembangan Covid-19 dalam bulan-bulan terakhir.

“Bagi kawasan perkotaan memang rata-rata angka penularannya lebih tinggi. Sedangkan untuk daerah lainnya mungkin kondisinya berbeda. Namun demikian, kunci dalam pengambilan keputusan adalah data dan kesediaan menerima masukan dari berbagai pihak,” katanya.

Setelah kebijakan penundaan pembelajaran tatap muka diputuskan, lanjut Hetifah, langkah berikutnya yang harus diambil adalah meningkatkan kualitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui pemetaan berdasarkan kebutuhan.

“Jika memang PJJ akan terus dilakukan, kita harus fokus meningkatkan kualitasnya dan meminimalisir dampak-dampak negatif seperti learning loss dan kesenjangan. Kita harus terus kawal pemerataan akses internet, gawai dan pelatihan intensif bagi para guru,” ungkapnya.

Meski demikian, Hetifah tetap berdoa dan berharap dalam pertengahan 2021 pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan di seluruh daerah, seiring adanya vaksin yang segera tiba di Kaltim.

Recent Posts

Indonesia Gaungkan Kolaborasi Industri Masa Depan pada Forum BRICS 2026

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kembali memperkuat peran Indonesia dalam kerja sama industri global…

12 jam yang lalu

Apresiasi Kebijakan Afirmasi Pendidikan Prabowo, Rektor UIN Jakarta ajak Semua Pihak Bangun Sinergi Tri Dharma Terintegrasi

MONITOR, Jakarta - Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Asep Saepudin Jahar mengapresiasi kebijakan trasformatif…

15 jam yang lalu

Kemnaker Gandeng Tiga Kampus di Bandung untuk Pengembangan SDM, Riset, dan Pengabdian Masyarakat

MONITOR, Jakarta—Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalin kerja sama dengan tiga perguruan tinggi di Bandung, yakni Universitas…

16 jam yang lalu

Kenaikan Dollar antara Kepanikan dan Rasionalitas Ekonomi

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA* Dalam setiap episode diskursus pelemahan rupiah, satu fenomena selalu berulang…

17 jam yang lalu

Di Konferensi Perburuhan Internasional, Menaker Yassierli Paparkan Program Presiden Prabowo untuk Siapkan Tenaga Kerja Masa Depan

MONITOR, Jenewa - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli memaparkan sejumlah program Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan…

20 jam yang lalu

Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar Modus DAM dan Badal Haji, Oknum KBIHU Terancam Dicabut Izinnya

MONITOR, Jeddah -  Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkap dugaan praktik…

20 jam yang lalu