MEGAPOLITAN

15 Tahun Merasa Jadi Korban Pencitraan, Kaum Emak-emak di Depok Kini Dukung Pradi-Afifah

MONITOR, Depok – Jargon Depok Kota religius yang selalu didengungkan Walikota Depok dari PKS selama 15 tahun kembali jadi sorotan. Kali ini giliran Emak-emak di Pangkalan Jati, Cinere, yang menyorotinya.

Mereka mengaku sudah bosan dengan pencitraan yang selama ini dilakukan. Sebab pada kenyataannya Depok menjadi salah satu kota yang tingkat LGBT nya tertinggi. Depok juga tak mampu menekan tingkat prostitusi.

“Sudah 15 tahun kita dibohongi oleh pencitraan. Bilang Depok kota religius nyatanya prostitusi terjadi di Depok. Bahkan Depok termasuk kasus yang tertinggi LGBT nya. Jadi saatnya kita melek. Ibu-ibu jangan mau lagi dibohongi, kita kan juga peduli dengan anak-anak kita,” kata Ustadzah Haniffah, Sabtu (14/11) kemarin.

Ustadzah asli Depok ini mengatakan, saat ini dirinya harus mendukung Pradi-Afifah lantaran selama 15 tahun ia telah bersabar.

“Sekarang saya sadar harus ada orang yang mendorong masyarakat Depok melek. Jangan lagi terbius dengan pencitraan dan penampilan. Kenyataannya Depok hanya banyak bangun mal dan apartemen, madrasah tidak terbangun, apartemen justru jadi tempat prostitusi,” ujarnya.

Haniffah menyebut, dukungan Emak-emak Pangkalan Jati kepada Pradi-Afifah menunjukkan bahwa emak-emak pun peduli dan menginginkan perubahan di Kota Depok.

“Selama ini katanya Depok kota religius tapi nyatanya kita tidak punya MAN, tidak ada madrasah yang dibangun,” tegasnya.

Sementara itu menurut Ketua Relawan Sohib Bang Pradi Kota Depok, Purnomo, emak-emak Pangkalan Jati sudah sadar bahwa selama 15 tahun Walikota dari PKS tak ada perubahan dalam bidang pendidikan dan kesehatan di Kota Depok. Mereka pun akhirnya memilih dukung Pradi-Afifah.

“Karena program-program Pradi-Afifah sangat dibutuhkan masyarakat. Seperti pendidikan gratis, pengobatan gratis termasuk anggaran pembangunan per RW Rp 500 juta,” ujar Purnomo.

Terkait pendidikan, lanjut Purnomo, selama ini Depok didengungkan sebagai Kota Pendidikan, nyatanya pembangunan sekolah negeri jauh dari kebutuhan.

Menurutnya, masyarakat sering bingung saat ingin menyekolahkan anak-anaknya lantaran keterbatasan daya tampung sekolah negeri.

“Idealnya di setiap kecamatan ada sekolah negeri dari SD sampai SLTA. Tetapi nyatanya tidak demikian,” pungkasnya.

Recent Posts

Kemenag Siapkan Lima Program untuk Perkuat Masa Depan Santri dan Pesantren

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama mempersiapkan lima program untuk memperkuat masa depan santri dan pesantren.…

17 jam yang lalu

Jasa Marga Optimalkan Preservasi Jalan Tol untuk Jaga Keandalan dan Kelancaran Perjalanan

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk melalui anak usahanya, PT Jasamarga Tollroad Maintenance…

21 jam yang lalu

Syarat dan Cara Daftar Pelatihan Vokasi bagi Pekerja Terdampak PHK

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjelaskan persyaratan dan mekanisme pendaftaran program pelatihan vokasi bagi…

22 jam yang lalu

Dua Tahun Prabowo–Gibran, Memperkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan

MONITOR, Jakarta - Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka…

22 jam yang lalu

Menhaj Buka Expo UMKM di Yogyakarta, Dorong Produk Lokal Masuk Rantai Pasok Haji

MONITOR, Yogyakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong produk unggulan daerah masuk ke rantai…

23 jam yang lalu

Ketua IDI Lebak: Psikosomatik Bukan Sakit Pura-Pura, Stres Bisa Picu Keluhan Fisik

MONITOR, Lebak — Tekanan pikiran dan persoalan emosional tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga dapat…

23 jam yang lalu