BERITA

Anies Akhirnya Angkat Bicara soal Polemik Reklamasi Perluasan Ancol

MONITOR, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya angkat bicara terkait polemik reklamasi perluasan Ancol. Orang nomor satu di Ibu Kota ini menyebut reklamasi perluasan Ancol berbeda dengan reklamasi yang sudah ia hentikan, sesuai dengan janji kampanye saat Pilkada.

Dijelaskan Anies, masyarakat Jakarta selalu dihantui banjir, salah satu sebabnya karena ada waduk, sungai yang mengalami pendangkalan atau sedimentasi.

“Ada 13 sungai kalau ditotal panjangnya lebih 430 KM, ada lebih dari 30 waduk dan secara alami mengalami sedimentasi karena itulah kemudian waduk, sungai itu di keruk. Dikeruk terus menerus dan lumpur hasil kerukan itu dikemanakan? Lumpur itu kemudian ditaruh di kawasan Ancol dan proses ini sudah berlangsung cukup panjang bahkan menghasilkan lumpur yang amat banyak,” ujar Anies.

Anies menjelaskan ada sekitar 3,4 juta meter kubik (M3) lumpur. Keberadaan lumpur ini kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan Ancol.

“Jadi ini adalah sebuah kegiatan untuk melindungi warga Jakarta dari bencana banjir, ini berbeda dengan proyek reklamasi yang sudah dihentikan itu. Reklamasi yang saya hentikan, itu bukan proyek untuk melindungi warga Jakarta dari bencana apapun. Di sana ada pihak swasta berencana membuat kawasan komersial membutuhkan lahan lalu membuat daratan, membuat reklamasi,” terangnya.

Bahkan kata Anies, dari reklamasi yang ia hentikan, disitu bahkan ada unsur menerabas ketentuan lingkuangan hidup, ada unsur hilangnya hajat hidup para nelayan karena sebagian berhadapan dengan perkampungan nelayan misalnya di Kamal Muara, di Muara Angke lalu ini juga berhadapan dengan kawasan Cengkareng Drain dan muara sungai Angke.

“Efeknya mengganggu aliran sungai ke laut lepas. Nah kegiatan reklamasi yang 17 pulau itu (pantai) sudah dihentikan dengan cara mencabut 13 izin atas pantai/pulau sehingga tidak bisa dilaksanakan,” tegas Anies.

Sementara empat pulau yang sudah terlanjur dibangun, kata dia, harus mengikuti semua ketentuan hukum dan juga ikut memberikan manfaat bagi masyarakat.

Lanjut Anies, terkait perluasan Ancol, ini lumpur hasil pengerukan sungai dan waduk itu memang menambah lahan bagi Ancol dan penambahan lahan itu istilah teknisnya adalah reklamasi, tapi beda sebabnya, beda maksudnya, beda caranya, beda pemanfaatannya dengan kegiatan yang selama ini kita tentang reklamasi 17 pulau itu.

Lalu untuk memanfaatkan lahan yang sudah terbentuk itu yang ukurannya 20 hektar itu, Dipaparkan Anies, Pemprov DKI harus memberikan alas hukum untuk memenuhi syarat legal administratif.

“Untuk itulah kemudian keputusan Gubernur nomor 237 tahun 2020 dikeluarkan sehingga tanah itu bisa dimanfaatkan dan bisa dimanfaatkan segera untuk kepentingan publik. Mungkin jadi pertanyaan bila yang di butuhkan itu hanya lahan 20 hektar. Kenapa pemberian izinnya seluas 155 hektar?,” imbuhnya.

Jadi begini, pengerukan ini akan jalan terus, pengerukan sungai, waduk bahkan ke depan penggalian terowongan MRT, tanahnya pun akan ditimbun di tempat ini. Karena itulah ada kajiannya dan dari hasil kajian AMDAL lokasi yang dibutuhkan adalah sebesar 155 hektar, 120 hektar di sisi timur dan 35 hektar di sisi barat yang juga disediakan kawasan yang nanti akan bersebelahan dengan stasiun MRT di Ancol.

Lantas, apa alasan Anies selama 11 tahun ini berjalan tenang-tenang saja?

“Ya sederhana karena penimbunan ini tidak mengganggu kegiatan nelayan. Kawasan ini jauh dari perkampungan nelayan,” jawab Anies.

Ia pun menjelaskan, berdampingan dengan kawasan industrI Ancol dengan Pelabuhan Tanjung Priok, dengan daerah pantai Taman Impian Jaya Ancol dan terkait lingkungan hidup, pihak Ancol diwajibkan untuk melakukan AMDAL dan semua kewajiban turunannya.

“Karena itu saya tegaskan, bahwa pelaksanaan pengembangan kawasan Ancol ini memang bukan bagian dari proyek reklamasi yang bermasalah itu dan di kawasan ini akan diambil 3 hektar dari 120 yang direncanakan dari 20 (hektar) yang sudah ada hanya 3 hektar untuk membangun Museum Sejarah Nabi, lahan yang sekarang terbentuk akan dimanfaatkan untuk pengembangan, yang manfaatnya dirasakan bagi masyarakat luas,” ungkapnya.

Dengan perluasan Ancol ini, Anies pun ingin kawasan Ancol menjadi kawasan rekreasi terbaik di Asia khususnya Asia Tenggara.

Recent Posts

Bedah Buku di Munas-Konbes NU 2026, Gus Hery Tegaskan Kesiapan Mengabdi untuk Masa Depan PBNU

MONITOR, Kediri – Forum bedah buku dalam rangka pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar…

3 jam yang lalu

Sambangi UID, Senator Jihan Fahira Ajak Mahasiswa Kawal Demokrasi Substantif dan Etika Berbangsa

MONITOR, Depok – Anggota DPD RI, Jihan Fahira, mengajak mahasiswa untuk berperan aktif mengawal kehidupan…

6 jam yang lalu

UMKM Kota Mataram Sektor Perhiasan Makin Tangguh Berkat Akses KUR

MONITOR, Mataram – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melakukan kunjungan kerja ke sentra…

10 jam yang lalu

Selamat Jalan Pejuang Madrasah Diniyah Nusantara: Mengenang Dr. Sumitro, M.Si., Pendiri FKDT

Oleh: Akhmad Sururi(Plt. Sekretaris Jenderal DPP FKDT) Kabar duka menyelimuti keluarga besar pegiat pendidikan keagamaan…

13 jam yang lalu

Pemadaman Listrik Bergilir yang Makin Sering Buat Rakyat Resah, Legislator: Sengaja Ada Pembiaran

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam meminta Pemerintah dan PT PLN…

23 jam yang lalu

Tekankan Pentingnya Mitigasi Bencana Kekeringan, DPR Dorong Peningkatan Infrastruktur Ketahanan Air Nasional

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras menekankan pentingnya…

24 jam yang lalu