PERTANIAN

Tanaman Obat dorong Peningkatan Ekonomi Petani

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura memacu produksi tanaman obat di tengah pandemi Covid-19.

Selain bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tanaman obat juga berdampak baik pada peningkatan ekonomi masyarakat, terutama petani.

Demikian terungkap pada virtual literacy bertajuk ‘Tanaman Obat sebagai Peningkat Imunitas Tubuh’, Kamis (2/7/2020).

Virtual Literacy tersebut dibuka oleh Sekretaris Ditjen Hortikultura Kementan Retno Sri Hartati Mulyandari dan diikuti lebih dari 3.000 peserta secara virtual baik melalui zoom meeting maupun live syreaming melalui youtube

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Tommy Nugraha saat menyampaikan pidato kunci menjelaskan bahwa di masa pandemi COVID-19, perlu berbagai upaya untuk meningkatkan imunitas agar tubuh mampu bertahan dalam menghadapi berbagai penyakit.

“Dengan berbagi pengetahuan, bisa membuka mata mengenai pentingnya tanaman obat untuk meningkatkan imunitas,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki beragam potensi tanaman obat. Beberapa di antaranya sudah dimanfaatkan sejak zaman nenek moyang.

Kementan, katanya, akan terus memperhatikan pemanfaatan tanaman obat. Apalagi secara ekonomi, pemanfaatan tanaman obat memberi manfaat yang sangat positif.

“Tanaman obat juga bisa memberi kontribusi pada ekspor Indonesia, seperti jahe, kunyit, dan kapulaga,” kata Tommy.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah Evi Savitri mengungkapkan, sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, Indonesia punya banyak potensi tanaman obat.

“Ada setidaknya 10.000 jenis tumbuhan yang memiliki potensi sebagai tanaman obat,” katanya.

Informasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), setidaknya ada 15 jenis tanaman yang potensial untuk menangkal COVID-19.

Evi mengungkapkan, beberapa jenis tanaman obat tersebut diantaranya adalah temu lawak, kunyit, temu managga, kencur, meniran, sambiloto, dan yang banyak dicari saat pandemi COVID-19 merebak, adalah jahe.

Evi menuturkan, tanaman-tanaman obat tersebut sudah terbukti dalam pengujian laboratorium mengandung bahan-bahan yang bermanfaat sebagai imunostimulan seperti flavanoid.

“Dari uji moleculer docking, beberapa tanaman obat terbukti mampu menghambat virus Corona. Tentu masih butuh pengujian lebih lanjut,” katanya.

Menurut Evi, Kementan sudah merilis sejumah varietas unggul tanaman obat dengan produktivitas dan memiliki kandungan imunostimulan tinggi dibanding varietas yang sudah ada. Di antaranya adalah dua varietas jahe merah, jahe putih, temu lawak 3 varietas, kunyit 4 varietas, dan pegagan 2 varietas.

Sementara itu Chevi Permadi, Ketua Kelompok Tani Berkah Alam di Sukabumi, menyatakan bahwa usaha budidaya tanaman obat sangat prospektif karena permintaan yang terus meningkat.

“Apalagi saat pandemi COVID-19, kami sangat kewalahan memenuhi permintaan,” katanya.

Chevi mengungkapkan, sebagai kelompok penangkar benih, biasanya permintaan pada awal tahun (Januari-April) tidaklah banyak bahkan cenderung berkurang karena sudah melewati musim tanam.

Namun demikian, saat pandemi COVID-19 merebak, permintaan pada periode tersebut justru melonjak hingga 200%.

“Itu belum termasuk permintaan jahe untuk konsumsi,” katanya.

Secara hitung-hitungan, budidaya jahe merah menguntungkan. Chevi mengungkapkan dalam satu hektar lahan butuh investasi sebesar Rp 70,2 juta untuk kebutuhan benih, pupuk, dan tenaga kerja.

Panen yang dihasilkan bisa mencapai 15 ton bahkan hingga 18 ton jika benih dan pupuk yang digunakan berkualitas baik.
Dengan asumsi harga per kilogram jahe merah sebesar Rp10.000, maka panen jahe merah bisa meraih omset sebesar Rp150 juta.

Setelah dikurangi investasi, maka keuntungan yang diperoleh petani bisa mencapai Rp79,8 juta.

“Jika dirata-rata, penghasilan petani mencapai Rp5 juta per bulan,” katanya.

Kepala Bidang Humas Industri Jamu dan Farmasi PT Sido Muncul Tbk Bambang Supartoko menyatakan pentingnya peningkatan produksi tanaman obat. Pasalnya sebagian besar tanaman obat yang dimanfaatkan untuk industri jamu dan farmasi saat ini masih diambil dari alam.

“70% masih diambil dari alam, dan baru 30% yang berasal dari budidaya,” katanya.

Bambang menyatakan peningkatan konsumsi tanaman obat perlu dikuti dengan inovasi, baik di on farm maupun off farm.

Recent Posts

Bedah Buku di Munas-Konbes NU 2026, Gus Hery Tegaskan Kesiapan Mengabdi untuk Masa Depan PBNU

MONITOR, Kediri – Forum bedah buku dalam rangka pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar…

8 jam yang lalu

Sambangi UID, Senator Jihan Fahira Ajak Mahasiswa Kawal Demokrasi Substantif dan Etika Berbangsa

MONITOR, Depok – Anggota DPD RI, Jihan Fahira, mengajak mahasiswa untuk berperan aktif mengawal kehidupan…

11 jam yang lalu

UMKM Kota Mataram Sektor Perhiasan Makin Tangguh Berkat Akses KUR

MONITOR, Mataram – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melakukan kunjungan kerja ke sentra…

15 jam yang lalu

Selamat Jalan Pejuang Madrasah Diniyah Nusantara: Mengenang Dr. Sumitro, M.Si., Pendiri FKDT

Oleh: Akhmad Sururi(Plt. Sekretaris Jenderal DPP FKDT) Kabar duka menyelimuti keluarga besar pegiat pendidikan keagamaan…

18 jam yang lalu

Pemadaman Listrik Bergilir yang Makin Sering Buat Rakyat Resah, Legislator: Sengaja Ada Pembiaran

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam meminta Pemerintah dan PT PLN…

1 hari yang lalu

Tekankan Pentingnya Mitigasi Bencana Kekeringan, DPR Dorong Peningkatan Infrastruktur Ketahanan Air Nasional

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras menekankan pentingnya…

1 hari yang lalu