Turunnya Harga BBM: Keputusan Sulit dan Pertimbangan Moral

Oleh: Dimas Dwi Pratikno

Mahasiswa Universitas Lampung, sedang menjabat sebagai Badan Pengawas dan Konsultasi Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (BPK ISMEI)

Belum habis pembahasan terkait Covid-19. Dunia internasional masih mewaspadai virus satu ini. WHO (World Health Organization) sebagai rujukan lembaga kesehatan dunia (jika tidak berlebihan) melalui Direktur Jenderalnya menegaskan bahwa belum ada negara yang menang melawan Covid-19.

Pernyataan tersebut tentu membuat semua pemerintahan di dunia “menghela nafas”. Pasalnya pernyataan tersebut mengartikan bahwa perekonomian masih harus “ikat pinggang kencang-kencang”.

Bila dilihat secara global, banyak sektor yang terdampak oleh pandemi covid-19 ini, salah satunya ialah komoditas minyak dunia yang menunjukan tren harga menurun.

Tercatat per tanggal 24 April 2020 mengutip Reuters, harga minyak jenis Brent berada diposisi US$ 22,4 dollar/barel, sedangkan jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 17,62 dollar/barel. Kedua harga minyak tersebut saat ini telah merosot lebih dari 50% sepanjang kuartal pertama.

Tidak heran memang melihat fenomena ini. Virus corona menyebabkan banyak negara di dunia mengambil kebijakan untuk lockdown maupun pembatasan sosial, tentu saja kebijakan tersebut berdampak pada turunnya konsumsi minyak dunia. Fenomena tersebut tentu akan berdampak pada negara-negara di dunia, tidak terkecuali juga di Indonesia.

Melihat pilihan sulit
Konsumsi minyak dalam negeri lebih besar dibanding produksi minyak tahunannya. Melansir data dari British Petroleum tahun 2018 produksi minyak dalam negeri sebesar 808 ribu barrel per day (BPD) dan konsumsi 1,785 juta barrel per day (BPD) menunjukan defisit sebesar 977 ribu barel perhari.

Konsumsi minyak yang selalu naik mengindikasikan bahwa komoditas minyak menjadi komoditas yang berperan penting bagi aktivitas ekonomi di dalam negeri. Perannya sangat vital dalam mempengaruhi harga logistik dan harga barang-barang kebutuhan lainnya.

Harga minyak dunia yang turun, tentu menjadi kabar yang sangat baik bagi seluruh dunia. Namun, nampaknya tidak di dalam negeri. Pasalnya harga minyak yang turun juga menunjukan arti bahwa terdapat potensi penerimaan negara yang hilang dari produksi minyak dan desakan penurunan harga bahan bakar minyak. Keadaan ini seperti peribahasa “buah simalakama”.

Indonesia Crude Oil Price atau ICP diproyeksi akan turun juga mengingat formula penentuan harga ICP yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM mempertimbangkan harga minyak dunia.

Selain itu, dengan menurunnya ICP hal yang paling rasional untuk dilakukan adalah memangkas produksi minyak dalam negeri dan memilih untuk impor minyak sebagai stok konsumsi pasca pandemi nanti, namun pertanyaanya ialah seberapa kuat kapasitas fiskal dalam negeri? Dan mau berapa banyak stok? Ini pilihan yang cukup sulit.

Jika memilih impor dan memangkas produksi artinya pemerintah harus siap mengalokasikan belanja negara yang berlebih dan berkurangnya penerimaan pajak dari sektor minyak.

Menimbang moralitas

Pilihan yang ada memang sulit untuk diputuskan, namun mau sampai kapan mengambil keputusan dengan pertimbangan ekonomi?. Perspektif ekonomi pasar (keynessian) melihat perilaku ekonomi secara rasional, hal tersebut meniadakan nilai-nilai etika seperti moral.

Ditengah pandemi seperti ini keputusan yang paling tepat memang harus rasional dan juga tidak lupa mempertimbangkan moralitas. Bahwa insentif kepada warga negara lebih dibutuhkan dibanding mengejar capaian pertumbuhan ekonomi maupun realisasi penerimaan negara yang besar.

Hal tersebut (pertumbuhan ekonomi dan realisasi penerimaan yang besar) selain tidak wajar juga tidak mungkin saat ini.

Pemangkasan produksi adalah yang paling rasional, impor minyak saat harga murah juga rasional, dan turunnya harga bahan bakar minyak di dalam negeri adalah tindakan yang sangat bermoral.

Keputusan dengan pertimbangan moral saat ini lebih dibutuhkan masyarakat, karena dengan turunnya harga BBM akan memangkas ongkos logistik dan harga bahan kebutuhan pokok bisa turut ditekan.

Ini merupakan insentif yang dibutuhkan masyarakat untuk setidaknya bertahan selama pandemi ini sekaligus menjaga konsumsi dalam negeri.