Minggu, 2 Oktober, 2022

Penyebaran Virus Corona: Dimana Agama, Dimana Sains?

Membaca Dilema antara “yang rasional” dan “yang emosional”

Oleh: Abdul Mukti Ro’uf

Dosen Pemikiran Islam IAIN Pontianak, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Pontianak

Tiba-tiba dunia mencekam. Grafik kematian manusia di seluruh dunia terus melonjak. Amerika Serikat yang notabenenya negara paling maju teknologinya menduduki rangking tertinggi kematian warganya (19.468 kasus kematian, hingga tulisan ini dibuat, 17/4/2020).

Pandemic Covid 19 penyebab kematiannya. Virus ini terus menambah kecemasan umat manusia. Kabar sejumlah orang yang positif terpapar Covid 19 dan lantas berujung pada kematian semakin menambah kekhawatiran seluruh penduduk bumi.

- Advertisement -

Pemerintah bingung apalagi warganya. Profesi dokter dan tenaga medis di seluruh dunia berhadapan dengan dilema yang tidak mudah: satu sisi mereka harus nmenjalankan tugas profesionalnya.

Pada saat yang sama, sebagai manusia biasa, mereka harus menyelamatkan jiwanya masing-masing. Dilema itu, secara faktual mengabarkan tentang kematian banyak dokter dan tenaga medis. Meskipun banyak pula diantara mereka yang sembuh dari ancaman virus.

Para dokter dan tenaga medis adalah garda depan dalam perang melawan virus. Di tengah-tengah minimnya peralatan medis, mereka harus tetap berada di depan. Mereka disuport baik materi maupun moril oleh banyak kalangan.

Naluri “kegotong-royongan” yang merupakan watak aseli bangsa Indonesia tumbuh subur. Banyak komunitas yang terus mengalirkan donasinya.

Makhluk teramat kecil yang berdiameter antara 120 hingga 160 nanometer (hanya dapat diamati dengan mikroskop electron) telah memporak-porandakan send-sendi kehidupan manusia. Kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan praktis lumpuh. Banyak rumus-rumus sosial yang terkoreksi akbiat pandemic ini.

Meskipun dalam anggapan sains tidak ada fenomena yang tidak bisa diamati dan disentuh, Covid 19 ini telah memusingkan para saintis.
Pertanyaan-pertanyaan saintifik yang rasional-empirik atas fenomena pandemic ini belum dapat dijawab dan mengatasi problematika kehidupan manusia, setidknya dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Terlepas apakah virus ini bagian dari “desain jahat” perang dagang global antara AS dan China, ada kenyataan di depan mata yang memilukan tentang ribuan kematian warga dunia.

Jika perang dagang lebih dekat pada masalah hegomoni kekuasaan segelintir elit dunia, kematian dan kesengsaraan makhluk hidup bernama manusia menjadi masalah kemanusiaan yang melintas batas.

Atas musibah ini, banyak negara di muka bumi ini sedang bergiat sangat gigih untuk menyelamatkan rakyatnya. Seluruh kekuatan politik-struktural, kemampuan ekonomi, kekuatan keamanan, manajemen krisis dikerahkan untuk satu tujuan: keselamatan manusia.

Begitu pula dengan berbagai inisiatif warga yang bersifat partisipatoris terus menggejala dan saling bersinergi.
Banyak informal leader: tokoh masyarakat, tokoh agama, pegiat musik, influencer di sosial media tanpa digerakkan oleh struktur negara terus berjibaku untuk mengedukasi dan menjadi volenteer dengan tujuan yang sama: menyelamatkan kehidupan manusia.

Akhirnya kita tiba pada satu kesimpulan: menjaga kehidupan manusia itu adalah tindakan eksistensial manusia itu sendiri yang melintas batas dari batas geografis, agama, suku, golongan, ras, gender, dan lintas generasi.

Saking utamanya atas keselamatan hiduap manusia, Mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Microsoft, Bill Gates, mengatakan “Membawa ekonomi kembali dan menghasilkan uang lagi, itu lebih baik dari pada membawa orang hidup kembali. Lebih baik merasakan sakit akibat dimensi ekonomi tetapi meminimalkan rasa sakit pada penyakit yang mengakibatkan kematian,”

Kolaborasi sains dan agama
Wasiat tua dari seorang ilmuan Albert Einstein, yang menyatukan kekuatan agama dan sains agaknya kembali relevan dalam menghadapi wabah paling mematikan ini. Agama dan sains memang memiliki wilayah kerja yang berbeda. Agama bertugas menemukan makna, sedangkan sains bekerja untuk menemukan fakta.

Dalam susana kecemasan, karena misalnya takut akan kematian, agama dapat menjadi pemandu dan penerang untuk menimbulkan harapan (hope) dan ketenangan.

Keadaan tenang dengan penuh harapan baik ini, dalam ilmu kesehatan dapat meningkatkan imunitas tubuh yang justru menjadi obat mujarab atas serangan virus corona. Inilah bukti kolaborasi sederhana antara sains dan agama.

Betapapun mengerikannya efek wabah Covid-19 ini, ia juga memaksa kita untuk merenung. Peran dan posisi manusia sebagai makhluk sosial secara global telah benar-benar didekonstruksi atau dirombak total dari sangkar kenyamanannya.

Pertanyaannya adalah, dimana posisi agama dan peranannya, juga sains dalam mengatasi pandemi Covid 19? Jika panduan agama diasakan pada wahyu, maka sains diasaskan pada nalar manusia. Keduanya, dalam keyikinan Islam bukan dalam posisi oposional melainkan complementer.

Sains harus membantu memahami ayat-ayat Tuhan yang multi tafsir. Sementara agama harus menjadi pemandu penemuan sains kepada makna-makna hakiki dari kehidupan manusia.

Dalam kenyataan sosial kehidupan masyarakat yang plural, pandangan keagamaan yang kolaboratif antara sains dan agama tidaklah mudah.

Keragaman pandangan teologis ini sangat mempengaruhi sikapnya terhadap penanganan penyebaran wabah ini. Bagi mereka yang memiliki pandangan fatalistik (hanya berserah diri pada Allah) tanpa mempertimbangkan aspek-aspek rasional (baca: protokol kesehatan dan lain-lain) relatif akan mengabaikan anjuran untuk beribadah di rumah.

Bagi mereka, protokol itu telah memosisikan “ketakutan pada pandemi corona” melebihi dari “ketakutan pada Allah”. Suatu pandangan yang seolah benar, tetapi relatif menyesatkan logika. Padahal, protokol kesehatan sebagai upaya rasional tidak berhubungan, apalagi secara teologis dengan nilai dan praksis ketakwaan seseorang pada Allah.

Takut dalam pengertian taqwa pada Allah tidak bisa hanya semata bermodalkan keyakinan dan pengetahuan. Sebab, derajat kemulian seseorang dimata Allah sangat ditentukan oleh kualitas sinergis tiga kekuatan: iman, ilmu, dan amal sholeh.

Anjuran untuk tidak beribadah sholat berjamaah di masjid—terutama di tempat-tempat yang berstatus zona merah—karena untuk menghindari kerumunan, kegiatan pengajian, tablig akbar dan kegiatan keagamaan lain adalah rasionalitas agama itu sendiri.

Mengapa? Karena dalam doktrin maqasid syariah (tujuan diterpakannya syariah), menjaga jiwa manusia itu menjadi salah satu pilar dari syariah.

Dalam teori hukum Islam dikatakan, “dar’ul mafasid, muqaddamun ala jalbil masalih” (“mencegah kemudaratan lebih prioritas dibanding menarik kemanfaatan”). Pandangan keagamaan seperti ini bukan tanpa dasar, baik normative maupun historis.

Secara historis, Khalifah kedua, Umar Ibn Khatab mengalami keadaan yang mirip. Saat Khalifah ke-2 Umar bin Khattab menyikapi wabah Tha’un Amwas (penyakit menular) yang melanda wilayah Syam waktu itu. Umar dan rombongan yang mendengar berita adanya wabah tersebut sebelum memasuki wilayah itu, menghadapi perdebatan para sahabat: apakah akan meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah.

Sebagai pimpinan Umar memutuskan tidak meneruskan perjalanan dengan alasan: kita memilih takdir yang satu dan meninggalkan takdir yang lain. Artinya ikhtiar manusia menjadi penting dalam masalah ini.

Inilah yang sekarang dibutuhkan sehingga dapat berkolaborasi secara sinergis dengan berbagai upaya pemerintah dan masyarakat untuk mengakhiri musibah ini.

Selain itu, agama juga memberikan pedoman etis bagi manusia yang sedang dilanda krisis, apakah karena masalah ekonomi terlebih karena masalah wabah ini.

Di antaranya panduan yang disediakan al-Qur’an dalam Surah al-Baqarah Al Baqarah:155-157: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innalillahi wainna ilaihi rojiuun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Memang tidak mudah untuk memosisikan diri sebagai profil “manusia bersabar” seperti panduan al-Qur’an itu. Tetapi bisa jadi, masing-masing kita sedang diberi kesempatan untuk berlatih. Dan dalam proses latihan itu sering menjumpai kejenuhan, keletihan. Kejenuhan dan keletihan tidak bisa dianggap sebagai hal buruk karena ia bersifat manusiawi.

Justru di situlah letak ujian keimanan manusia beragama: apakah seseorang akan memilih “fujur” atau ia akan menjemput taqwa (fa’almaha fujuroha wa taqwaha). Maka beruntunglah bagi mereka yang berhasil meniti jalan taqwa dengan seluruh ujiannya.

Panduan etis agama yang memandu makna hidup manusia, pada kenyataannya harus dibarengi dengan panduan sains agar langkah-langkah rasional yang objektif dan terukur ikut serta dalam meringankan beban hidup manusia.

Sains harus terus berikhtiar untuk menemukan vaksin pandemi ini. Penemuan ini sebagaimana prinsip dalam sains, akan mengungkap materi yang masih tersembunyi. Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan keyakinan sians itu sendiri yaitu bahwa kebenaran ilmiah yang dianut sains selalu bersifat probabilitas.

Artinya, sains bukan satu-satunya perangkat yang bisa mengatasi seluruh hidup dan kehidupan manusia. Bisa jadi, wabah pandemi ini sedang “memperingatkan” manusia modern yang sedang bangga dengan proyek-proyek sains dan teknologinya. Pada saat yang sama telah melupakan dimensi lain, katakanlah aspek spiritualitas yang sejak lama diabaikan oleh “manusia modern”.

Ada banyak cara Tuhan untuk memberikan peringatan pada manusia yang lalai. Tetapi penulis selalu meyakininya sebagai penjelmaan kasih sayang Tuhan pada hambanya. Dalam pandangan Islam, sifat kasih sayang (rahman dan rahim) Tuhan itu lebih besar dari sifat-sifat lainnya.

Musibah memang selalu mendatangkan derita. Tetapi bagi orang yang beriman dan berilmu, musibah tentu akan bermakna sebagai kesempatan untuk bersabar dan menerima buah yang membahagiakan dari pemilik kehidupan: Allah subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bi shawab.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER