INDUSTRI

Wujudkan Industri Hijau, Balai Kemenperin di Semarang Ciptakan Teknologi Canggih

MONITOR, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pelaku industri manufaktur di dalam negeri untuk dapat mendukung kelestarian lingkungan hidup melalui praktek industri hijau. Hal ini sejalan dengan salah satu program prioritas yang terdapat di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Melalui implementasi industri 4.0, diharapkan dapat memperbaiki pendekatan keberlanjutan yang sudah ada sebagaimana telah disepakati bersama secara global dalam Sustainable Development Goals (SDGs),” kata Plt Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto pada Peluncuran Hasil Litbang Balai Besar Teknologi Pencegahan Pecemaran Industri (BBTPPI) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (22/1).

Eko menegaskan, program pembangunan industri hijau merupakan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

“Industri hijau merupakan sebuah ikon industri yang harus dipahami dan dilaksanakan, di mana industri dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas terhadap penggunaan sumber daya secara berkelanjutan,” jelasnya.

Oleh karena itu, Kemenperin memberikan apresiasi kepada BBTPPI Semarang selaku unit teknis di bawah BPPI yang telah menghasilkan teknologi bermanfaat bagi sektor industri agar bisa lebih ramah lingkungan. Inovasi itu adalah alat pemantauan lingkungan secara real time berbasis Internet of Things (IoT) yang terkoneksi dengan Sistim Informasi Digital (SINDI).

SINDI merupakan sistem informasi digital sebagai dashboard informasi yang terintegrasi dari beberapa layanan jasa teknis di BBTPPI Semarang. SINDI memiliki fitur pelaporan dan evaluasi hasil pengujian laboratorium yang terkoneksi, baik pelanggan sebagai pengguna jasa dan laboratorium sebagai unit penyedia analisis jasa pengujian.

BBTPPI Semarang juga menciptakan reaktor elektrokatalitik pengolah air limbah portable dan pengolahan ozonasi katalitik. Alat ini dapat dimanfaatkan untuk mengelola limbah cair dan gas yang dikeluarkan oleh industri, sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

“Jadi, melalui sistem yang dikembangkan BBTPPI ini, kami punya dua pilot project. Yang pertama sudah kami tempatkan di industri untuk memonitoring emisi secara online karena menggunakan teknologi IoT. Selain itu, sistem monitoring air limbah yang dioperasikan di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik BBTPPI,” paparnya.

Eko optimistis, melalui penerapan inovasi teknologi tersebut, dapat turut memacu daya saing industri yang memanfaatkannya.

“Dengan memastikan lingkungan terjaga baik, tentunya proses produksi akan bisa berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Eko pun meyakini, inovasi teknologi yang dihasilkan oleh BBTPPI Semarang dapat mendukung program Citarum Harum dan Bengawan Solo Bersih.

“Upaya ini akan kami prioritaskan agar bisa sejalan dengan kebijakan pemerintah, dan kami juga berharap BBTPPI menjadi satelit bagi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) 4.0,” tuturnya.

Guna mencapai sasaran tersebut, menurut Eko, perlu langkah sinergis dengan kementerian dan lembaga terkait termasuk pemerintah daerah.

“Bahkan, melalui inovasi teknologi ini, kami ingin mendorong pula pengembangan industri kecil dan menengah (IKM),” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BBTPPI Semarang, Ali Murtopo Simbolon menyampaikan, sistem monitoring udara secara real time dan online telah diaplikasikan di PT. Ungaran Sari Garments dan CV. Jadi Jaya Makmur.

“Selain diaplikasikan di perusahaan, sistem sistem monitoring udara buatan BBTPPI juga telah di ujicoba untuk memonitor kualitas udara di Semarang dan Bandung,” ungkapnya.

Untuk pengembangan selanjutnya, sistem monitoring udara ini akan didesain agar dapat dikustomisasi tergantung pada spesifikasi polutan dan emisi yang dihasilkan di industri, terintegrasi ke dalam unit kontrol proses, dan mampu menganalisis baik kecenderungan dan early warning system melalui pengembangan sistem monitoring udara secara real time dan online berbasis artificial intelligence.

Sementara itu, untuk sistem monitoring air limbah, parameter yang dapat diukur dan dimonitor secara real time dan online antara lain pH, suhu, Total Suspended Solid (TSS) atau Padatan Tersuspensi Total, Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia, dan debit air.

“Prinsip dasar sistem ini adalah hasil pembacaan setiap jenis sensor akan dikirim oleh transmitter hingga menyajikan tampilan hasil pengukuran pada display dashboard,” terang Ali.

Selanjutnya, dengan bantuan data logger dikirimkan ke server dan ditampilkan dalam interface berbasis web maupun android, sehingga pemantauan kualitas air limbah yang dibuang dapat menjadi lebih mudah. Sistem ini diatur untuk melakukan pengukuran real time 24 kali selama 24 jam.

Recent Posts

Dari Teh hingga Agrowisata, Dana Bergulir LPDB Perkuat Bisnis Puskopkar PTPN VIII

MONITOR, Jakarta - Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) PTPN VIII terus memperluas lini bisnis untuk memperkuat…

17 jam yang lalu

Kementerian UMKM Fasilitasi UMKM Aceh Bangkit Pascabencana

MONITOR, Aceh – Ratusan pengusaha UMKM terdampak bencana di Aceh mengikuti workshop pendampingan peningkatan kapasitas…

22 jam yang lalu

Kementerian UMKM Dorong Waralaba Jadi Instrumen UMKM Naik Kelas

MONITOR, Surabaya – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong pengembangan waralaba sebagai salah…

2 hari yang lalu

Soroti Dugaan Korupsi Batu Bara Kukar, LSAK: Uang Disita, Kok Pemiliknya Tidak Ditetapkan Tersangka?

MONITOR, Jakarta - Lembaga Studi Anti Korupsi (LSAK) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperjelas status…

2 hari yang lalu

MTQ Nasional XXXI, Menag: Jadikan Al-Qur’an sebagai Living Quran

MONITOR, Jakarta - Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang, Jawa…

2 hari yang lalu

Kemenhaj Umumkan Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2, Seleksi Petugas Berlanjut

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah resmi mengumumkan peserta yang berhak mengikuti Computer Assisted…

2 hari yang lalu