FLASH

Pemindahan Ibu Kota Negara; Bisa Sukses atau Gagal seperti Negara Lain

MONITOR – Indonesia melalui pemerintahan Presiden Jokowi telah memutuskan untuk memindahkan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta di Pulau Jawa ke Provinsi Kalimantan Timur. Tepatnya di sebagian wilayah kabupaten kutai kertanegara dan sebagaian wilayah kabupaten penajam paser utara.

Seperti diketahui, alasan pemindahan IKN diantaranya adalah untuk mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah, khususnya Jawa vs KTI, dan sekaligus pemerataan pembangunan serta kemakmuran antar wilayah secara proporsional. Sehingga, perekonomian Indonesia akan lebih produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan. Selain itu juga yang darurat adalah menyelamatkan Pulau.Jawa (Jakarta) dari bencana ekologis dan sosial ekonomi.

Terpilihnya Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Kukar, Propinsi Kaltim sebagai IKN baru adalah secara geografis, terletak hampir di tengah wilayah NKRI; bagian dari Aluar Laut Kepualauan Indonesia atau ALKI-II; bebas gunung berapi (Ring of Fire); dan memiliki kesiapan infrastruktur dan sosekbud yang lebih baik ketimbang propinsi di P. Kalimantan lainnya.

Namun, berkaca dari negara lain, Pemindahan Ibu Kota Negara ternyata tidak selamanya berjalan sukses sesuai harapan. Banyak negara justru dinilai gagal dalam kebijakan tersebut termasuk salah satunya negara tetangga kita Malaysia yang pindah ibu kota negaranya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya.

Sebagai catatan beberapa negara yang sukses pemindahan IKN diantaranya adalah Amerika Serikat (1800) dari New York ke Washington DC; Finlandia (1812) dari Turku ke Helsinki; Australia (1927) dari Melbourne ke Canberra; India (1912) dari Kolkata ke New Delhi; Pakistan (1967) dari Karachi ke Islamabad; dan Nigeria (1991) dari Lagos ke Abuja.

Namun juga tidak sedikit yang gagal, dengan berbagai alasan atau penyebab, yaitu: Brasil (1960) dari Rio de Janeiro ke Brasilia; Tanzania (1961) dari Dar es Salaam ke Dodoma; Malaysia (1999) dari Kuala Lumpur ke Putrajaya; Myanmar (2005) dari Yangon ke Naypidaw; dan Korea Selatan (2005) dari Seoul ke Sejong City.

Ditemui acara diskusi publik menyoal pemindahan Ibu Kota dengan tema “Relevansi Pemindahan Ibu Kota Negara terhadap Pelambatan Ekonomi dan Geopolitik Global” di KAHMI Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kamis (16/1/2020).

Pakar Ekonomi Maritim yang Guru Besar IPB, Prof. Rokhmin Dahuri meminta pemerintah agar belajar kepada negara-negara yang telah melakukan pemindahan ibu kota negara termasuk negara tetangga Malaysia dari Kuala Lumpur ke Putrajaya yang dianggap gagal karena karena pegawai pemerintah enggan pindah, dan secara de facto pusat pemerintah dan perekonomian tetap berada di Kuala Lumpur.

Adapun ukuran sukses tidaknya pemindahan ibukota negara baru menurutnya itu diukur dari pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di wilayah tersebut dan sekitarnya. Jadi pemindahan IKN nantinya tidak hanya memberi dampak ekonomi terhadap Kalimantan timur melainkan juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Pemindahan IKN juga hendaknya menjadi momentum membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru utamanya mewujudkan pemerataan di wilayah timur Indonesia sebagaimana juga tertuang dalam visi poros maritim dunia.

Recent Posts

Legislator Sambut Baik Putusan MK soal Sisa Kuota Internet Tak Hangus, Minta Operator Segera Sesuaikan Layanan

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menyambut baik putusan Mahkamah Konstitusi…

6 jam yang lalu

Waka DPR Cucun Harap Semua Anak RI Bebas Stunting dan Punya Kesempatan Sekolah yang Baik di Momen HAN 2026

MONITOR, Jakarta - Masih dalam rangka Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli,…

6 jam yang lalu

Dukung Misi Dagang Gubernur Jawa Timur, CV Intiplant Agro Lestari Optimis Perluas Jaringan Bisnis Internasional di Hong Kong

MONITOR – Langkah strategis untuk membawa produk pertanian unggulan Jawa Timur merajai pasar global kembali…

15 jam yang lalu

Babinsa Diturunkan Awasi Kepatuhan Pajak, Legislator: Lebih Baik Fokus Kejar Perusahaan yang Sering Mangkir

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI, Junico Siahaan menyoroti polemik pelibatan Bintara Pembina…

15 jam yang lalu

Integritas dan Meritokrasi Jadi Fondasi Budaya Baru Kementerian Haji dan Umrah

MONITOR, Bogor — Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan integritas dan meritokrasi…

19 jam yang lalu

Bedah UU Pesantren, Guru Besar UIN Jakarta: PDF Berhak Dapat Pengakuan dan Dukungan Setara Pendidikan Formal

MONITOR, Jakarta - Pendidikan Diniyah Formal (PDF) sebagai salah satu satuan pendidikan pesantren memiliki posisi…

20 jam yang lalu