Kamis, 28 Oktober, 2021

Lima Teror Bom Paling Mengerikan di Indonesia Sepanjang Tahun 2019

MONITOR – Sepanjang tahun 2019 ini menjadi tahun yang luar biasa dan cukup ‘menyita’ perhatian sepasang mata bagi warga tanah air. Selain harus menghadapi hajatan Pemilu Pilpres dan Pileg, sejumlah perisitiwa kejahatan luar biasa juga terjadi sepanjang tahun 2019.

Ya, salah satunya sejumlah teror yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2019. Teror yang dilakukan para terduga teroris tersebut didominasi oleh peristiwa ledakan bom bunuh diri. Setidaknya, terdapat lima peristiwa teror yang akan MONITOR rangkum sepanjang tahun 2019:

1. Ledakan Bom Pos Polisi Kartasura

Ledakan bom bunuh diri yang pertama terjadi di Pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 3 Juni 2019. Pelaku diketahui berinisial RA (22) dan memiliki pekerjaan sebagai penjual gorengan.

Berdasarkan keterangan polisi, RA telah terpapar paham radikalisme. Ia merupakan terduga teroris lone wolf atau bertindak sendiri.

- Advertisement -

Menurut polisi, berdasarkan sejumlah barang bukti yang ditemukan di rumahnya, bom yang digunakan berjenis low explosive.

Polisi menyatakan bahwa RA masih amatir. Sebab, aparat belum menemukan rekam jejak aksi pelaku. RA pun menderita luka parah akibat aksinya. Selain pelaku, tidak ada korban lainnya.

2. Ledakan Bom Sibolga

Peristiwa ini bermula dari penangkapan terduga teroris Husain alias Abu Hamzah (AH) di Sibolga, Sumatera Utara, pada 12 Maret 2019. Husain diduga tergabung dalam jaringan teroris Jamaah Ansharut Daullah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

Ia diduga telah aktif di jaringan tersebut selama enam tahun. Perannya yaitu sebagai perakit bom dan merekrut orang. Saat akan menggeledah rumah Husain di Jalan Cenderawasih, Kota Sibolga, ledakan terjadi di rumah tersebut dan melukai seorang polisi.

Polisi akhirnya memilih menjauh dari rumah tersebut. Melalui pengeras suara di masjid, petugas meminta agar istri Husain yang berada di dalam rumah menyerahkan diri bersama anaknya.

Dalam proses negosiasi tersebut, Husain juga sempat membujuk sang istri, MSH alias Solimah, untuk menyerah.

Namun, istri Husain bergeming dan memilih meledakkan diri bersama anaknya, pada 13 Maret 2019 dini hari. “Telah dilakukan negosiasi dan imbauan selama hampir sepuluh jam. Terakhir istrinya nekat untuk melakukan bom bunuh diri itu,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri kala itu, Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, 13 Maret 2019.

Total, seorang warga sipil dan dua aparat kepolisian menjadi korban akibat rentetan ledakan tersebut. Selain Husain, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri diketahui setidaknya menangkap tujuh terduga teroris terkait JAD Sibolga.

3. Teror Penusukan Wiranto

Pada tahun ini, peristiwa teror juga pernah melibatkan pejabat negara. Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, ditusuk terduga teroris berinisial SA alias AR saat tiba di Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang pada 10 Oktober 2019. Tak hanya Wiranto, Kapolsek Menes Kompol Daryanto juga ditusuk saat mengamankan pelaku.

Menurut polisi, SA hanya simpatisan JAD. SA diketahui merupakan rekrutan salah satu tokoh sentral JAD, yakni Abu Zee. Namun, SA tidak masuk dalam struktur jaringan tersebut. Dalam melakukan aksinya, SA bahkan turut mengajak istrinya, FA, dan anaknya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pasangan suami istri tersebut, diketahui masing-masing orang menggunakan satu senjata.

Namun, meski sudah diperintahkan SA untuk melakukan serangan, anaknya mengurungkan niat. “Tapi anaknya mengurungkan niatnya karena dia tidak berani. Yang berani melakukan itu Abu Rara sendiri dan istri,” kata Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, 17 Oktober 2019.

Kini, sang anak yang berinisial R menjalani rehabilitasi di Rumah Aman Kementerian Sosial. Usai kejadian itu, Densus 88 menangkap total 40 terduga teroris selama 10-17 Oktober 2019. Jumlah itu termasuk pasangan suami istri pelaku penusukan terhadap Wiranto.

Menurut polisi, kelompok tersebut berkomunikasi secara terstruktur, sistematis, dan intens melalui media sosial. Bahkan, mereka juga disebutkan aktif menggunakan Telegram.

4. Ledakan Bom Polrestabes Medan

Mendekati penghujung tahun 2019, Indonesia kembali digemparkan dengan peristiwa bom bunuh diri. Peristiwa itu terjadi di Markas Polrestabes Medan, Sumatera Utara, pada 13 November 2019. Pelaku diketahui berinisial RMN (24), yang kesehariannya berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol). Ia pun diduga telah terpapar radikalisme. Dalam menjalankan aksinya, RMN dibantu dua rekannya untuk membuat bom.

“Dalam proses investigasinya, pemeriksaan terhadap beberapa orang terdekat tersangka tersebut, baru terungkap siapa-siapa yang berperan untuk mempersiapkan saudara RMN itu melakukan suicide bomber,” tutur Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, 18 November 2019.

Hingga 19 November 2019, polisi telah menetapkan 30 tersangka terkait peristiwa bom bunuh diri tersebut.

Termasuk di dalamnya, tiga orang yang meninggal dunia, yakni RMN dan dua orang yang ditangkap di Desa Kota Datar, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang. Para tersangka terdiri dari 3 orang perempuan dan 24 laki-laki.

Mereka memiliki peran yang bermacam-macam, mulai dari bendahara, perakit maupun perekrut. Namun, secara keseluruhan, hingga 2 Desember 2019, Densus 88 telah menangkap 92 terduga teroris usai peristiwa bom bunuh diri itu.

5. Ledakan Bom di Monas

Sebuah ledakan terjadi di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (3/12/2019). Pihak kepolisian menyebut ledakan yang melukai 2 anggota TNI itu disebut berasal dari granat asap.

Hingga saat ini, penyelidikan masih dilakukan oleh tim kepolisian untuk mengetahui kronologi di balik ledakan.

Belum diketahui apakah peristiwa ini merupakan bagian dari aksi terorisme atau bukan. Namun, peristiwa ini menarik perhatian publik karena terjadi di kawasan Ring I, dekat dengan Istana Negara dan berada di seberang salah satu kementerian.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER