Mengintip Popularitas Slogan “Wonderful Indonesia”

Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), M. Ichsan (dok: istimewa)

Oleh: M. Ichsan*

Tourism branding “Wonderful Indonesia” merupakan representasi eksotisme alam dan budaya yang dimiliki oleh negeri +62 ini. Jauh sebelum tourism branding ini muncul, para pelancong dunia sebut saja W Basil Worsfold, dalam bukunya “A Visit To Java” bercerita tentang Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) tahun 1893, dan kebudayaan Jawa dari mulai masuknya agama Hindu, Budha sampai dengan Islam dan tidak ketinggalan cerita masa era kolonial seperti Portugis, Belanda dan Inggris.

Masih tentang Worsfold, saya mengutip kata yang menarik ketika ia melihat candi borobudur, “jumlah tenaga kerja serta keahlian yang dibutuhkan untuk membangun Piramida Besar di Mesir jadi tak berarti sekiranya dibandingkan dengan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah candi bukit yang penuh pahatan indah di pedalaman Jawa.” Ini berarti Eksotis bentangan alam dan budaya Indonesia sudah diakui oleh dunia terlebih istilah Mooi Indie “Hindia Belanda yang molek” yang diberikan oleh bangsa Eropa menjadikan Negeri kita berhasil menarik wisatawan asal Eropa pada saat itu untuk berkunjung.

Menyadari akan potensi slogan “Mooi Hindie” yang dahulu pernah populer, maka Nawacita yang digaungkan oleh Presiden Joko Widodo mulai dari 2014 telah memberikan perhatian besar terhadap perkembangan sektor pariwsata. Dengan keinginan membangun 10 Bali Baru dan dengan tourism branding Wonderful Indonesia diharapkan dapat menaikan citra positif pariwisata nasional.

Dukungan Pemerintah dalam hal ini KEMENPAREKRAF RI, melalui arah kebijakan regulasi yang berpihak, harus juga diimbangi oleh komitmen yang kuat dari unsur swasta yaitu para pelaku usaha untuk berinvestasi di lima destinasi wisata prioritas Bali Baru. Membangun pariwisata bukan hanya masalah anggaran yang digelontorkan, peningkatan pelayanan bagi wisatawan yang berkunjung juga merupakan hal yang tak kalah penting.

Salah satu yang sudah terealisasi yaitu Pemberlakuan bebas visa bagi 94 negara dan pembenahan pelayanan paket perjalanan bagi wisatawan mancanegara dilakukan agar mereka merasa puas dan nyaman sehingga bisa membagikan pengalaman berwisata menarik di negara asalnya

Lalu sudah sejauh mana daya tarik slogan Wonderful Indonesia mampu menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung?

Per Januari hingga Oktober 2019 saja, tercatat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung mencapai 13,62 juta. Jumlah ini tidak sesuai target dari perencanaan dan h├árapan Kemenparekraf RI yang menargetkan 20 juta Wisman di tahun 2019, dengan menerapkan skema pemasaran border tourism, tourism hub dan Low Cost Terminal (LCT). Sedangkan bila dibandingkan dengan negara tetangga terdekat kita Malaysia, masih kalah jauh dimana pada tahun 2018 sudah mencapai angka 25 juta kunjungan wisman dan sekarang Malaysia dengan tourism branding mereka “Malaysia Truly Asia” sedang mengkampanyekan menuju target Visit Malaysia 30 juta wisman di tahun 2020.

Maka jika dilihat dari size, sustainability dan spread Indonesia belum bisa mengungguli Malaysia namun kita patut memberikan apresiasi bahwa sektor pariwisata kita telah menunjukan jati diri sebagai sektor yang diperhitungkan.

Dalam hal penambahan devisa pun sektor pariwisata menempati urutan ke empat setelah ekspor migas, batubara dan kelapa sawit. Tapi saya yakin, di tahun 2020 lewat tangan dingin Pak Wishnutama selaku Menparekraf RI, 3 hal tersebut Size, Sustainability dan Spread dapat dikejar sehingga Wonderful Indonesia bukan hanya sekedar slogan saja. Jauh dari itu, mampu mengangkat citra positif wajah destinasi pariwisata nasional di mata dunia.

*Penulis adalah Ketua PB HMI periode 2018-2020 dan Mahasiswa Paska Sarjana USAHID jurusan Pariwisata