Tak Perlu Dibandingkan, Muhammad dan Sukarno Dua Tokoh Besar Pemimpin Revolusi

245
Putri Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri (dok: CNN)

Oleh: Fadhli Harahab*

Pertanyaan Sukmawati Soekarnoputri di forum diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’ beberapa waktu lalu, patut disayangkan.

Sebab, pertanyaan semacam itu sungguh tidak pantas terlontar dari mulut seorang intelektual, budayawan, publik figur atau juga tokoh nasional.

Sebagai seorang yang diidolakan, Sukmawati seharusnya menjaga marwah dalam berkata-kata. Minimal Sukma mampu mengontrol bahasa yang digunakan dalam forum terbuka.

Tercatat, Putri Bung Karno ini sudah dua kali bersinggungan dengan kasus yang sama, penodaan agama. Kasus pertama, Sukmawati membandingkan suara azan dengan kidung ibu indonesia, yang berakhir SP3 dari kepolisian. Kedua, persoalan yang sekarang sedang ramai-ramainya diberitakan media massa. Membanding-bandingkan Nabi Muhammad dengan Proklamator Indonesia, Ir Sukarno.

Khilaf? Mungkin saja. Tetapi, menurut saya kekhilafan ini sangat fatal. Menyinggung tokoh sentral umat islam Nabi Muhammad SAW.

TAK ADA YANG PERLU DIBANDING-BANDINGKAN

Bagi penulis, kedua tokoh besar ini merupakan anugerah bagi kaumnya. Mereka ditakdirkan lahir sebagai pahlawan, tauladan, dan tokoh pembebasan bagi kaum tertindas.

Kedua tokoh ini, memiliki visi dan misi yang sama, bagaimana manusia merdeka dari segala bentuk penindasan manusia lainnya.

Berbekal Akhlak yang mulia, tutur sapa yang ramah, Muhammad mampu membebaskan kaumnya dari perbudakan zaman jahiliah. Menyatukan suku-suku arab di bawah panji islam.

Begitu juga Sukarno, kegelisahan terhadap kondisi bangsanya yang terjajah, membuat dirinya ikut berjuang memerdekakan tanah airnya. Menyatukan segala perbedaan kaumnya di bawah bendera merah putih.

Lantas, apa yang mesti dibanding-bandingkan di antara kedua tokoh ini. Muhammad dan Sukarno telah mencatatkan nama besar mereka dalam sejarah sebagai pemimpin besar revolusi.

Bedanya, Muhammad terlahir sebagai pemimpin besar revolusi pada abad Ke 5 Masehi, sementara Sukarno di abad 20. Muhammad di Mekkah-Saudi Arabia dan Sukarno di Surabaya-Indonesia.

BUNTUT PENGGUNAAN DIKSI YANG KURANG TEPAT

Menurut penulis, penggunaan korelasi diksi dalam pertanyaan Sukmawati menjadi biang dari kegaduhan ini. Sukmawati terkesan memaksakan, membandingkan Sukarno yang hidup di abad 20 dengan Nabi Muhammad yang hidup di abad ke 5.

Perbedaan waktu yang cukup panjang ini membuat perbandingan tersebut sangat tidak relevan. Ditambah lagi, figur Nabi Muhammad merupakan orang yang sangat dimuliakan umat islam, sehingga apapun yang dinilai melecehkan nabi akan mendapat reaksi dari pengikutnya.

Padahal, jika diperhatikan, Sukmawati dapat menggunakan diksi lain yang lebih tepat untuk membandingkan Sukarno. Misalnya, Mahatma Gandhi tokoh nasional India.
Nelson Mandela tokoh nasional Afrika Selatan atau Kemal Ataturk tokoh nasional Turki.

Sayangnya itu tidak digunakan oleh Sukmawati dan lebih memilih Diksi Nabi Muhammad. Ibarat kata ‘Mulutmu Harimaumu’, kini Sukmawati harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah diucapkannya.

*Penulis Adalah Direktur Lintas Kajian Agama dan Kebudayaan (LKAB) Nusantara