Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah
MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan bahwa tidak bisa kemudian dalam penanganan permasalahan yang terjadi di Papua maupun Papua Barat, menjadikan kegiatan intelejen atau campur tangan asing sebagai kambing hitamnya.
“Kalau kita mengidentifikasi adanya aktivitas intelijen asing di salah satu bagian dari negara kita, maka itu tidak bisa menjadi kambing hitam. Karena, seharusnya semua itu sudah diantisipasi dan sudah menjadi bagian dari tugas operasi intelijen dan pejabat keamanan dan pertahanan negara agar kegiatan itu dilakukan kontra intelijen,” kata Fahri melalui pesan singkatnya, di Jakarta, Senin (2/9).
“Sehingga, keberadaan mereka tidak menjadi bagian dari yang merusak keamanan dan kondisivitas negara kita,” tambahnya.
Seperti diberitakan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan soal adanya campur tangan pihak asing atau luar negeri yang ikut memanasi kondisi di Papua.
Ia pun mengingatkan agar semua pemangku kepentingan untuk tidak terus menerus menjadikan isu adanya campur tangan asing, sebagai alasan dalam penangana kerusuhan di Papua.
“Saya mohon pihak lain itu jangan dijadikan terus-menerus sebagai pelempar isu sebenarnya, ambil gambar besarnya ambil kesimpulan yang jujur melalui tahapan-tahapan yang sudah saya usulkan agar pemerintah betul-betul mau mendengar aspirasi dari masyarakat Papua dan berbicara dari hati ke hati,” sebut dia.
Menurut dia, masyarakat Papua saat ini lebih cenderung memerlukan percakapan dan jalan pikiran daripada bebangunan jalan-jalan fisiknya, yang justru tidak dilalui masyarakat, seperti halnya jalan tol.
“Tetapi semua punya pikiran, karena itu semua ingin bercakap dan ingin agar masalah Papua ini selesai sekali untuk selamanya,” terang dia.
Masih dikatakan Fahri, selama 21 tahun reformasi seharusnya pendekatan dalam penanganan permasalahan Papua pun juga harus mengalami perubahan secara signifikan.
“Seharusnya pendekatan kita kepada Papua itu juga mengalami perubahan dari pendekatan keamanan menuju pendekatan kemanusiaan yang basisnya adalah asimilasi menyeluruh dan total. Dari mulai cara kita berpikir, cara kita berbicara, cara kita membangun relasi sosial, dan khususnya bagi negara, cara negara yang menegakkan kebijakan bagi masyarakat Papua,” papar salah satu insiator Garbi itu.
Di sisi lain, Fahri juga mengingatkan, jangan dalam penanganan permasalahan di Papua dengan pendekatan secara kekayaan sumber daya alam (SDA) nya saja, yang kemudian diperhitungkan untuk dijadikan sebuah alasan pembenaran.
“Seharusnya negara tidak perlu perhitungan dengan mengganggap itu sebagai alasannya, tetapi integrasi, karena mandat dari para pendiri bangsa kita untuk mengintegrasikan wilayah paling timur Indonesia itu kepada NKRI,” tandasnya.
MONITOR, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa penyerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) menjadi…
MONITOR, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak semata-mata dipicu oleh…
MONITOR, Jakarta - Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo,…
MONITOR, Jakarta - Keberhasilan Bank Indonesia tidak cukup diukur dari capaian indikator kinerja yang melampaui…
MONITOR, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyerahkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis kepada Tentara…
MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membuka Program Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026 Batch 2…