Jaga Kondusifitas, Polisi Diminta Tindak Tegas Provokator di Kasus Papua

62
Staf Khusus (Stafsus) Presiden Lenis Kogoya. Foto: Ist

MONITOR, Jakarta – Staf Khusus (Stafsus) Presiden Lenis Kogoya meminta agara aparat keamanan segera menindak tegas organisasi masyrakat (Ormas) yang melakukan tindakan pelanggaran hukum, termasuk oknum-oknum yang melakukan provokasi.

Terutama, terkait dengan penyerangan yang terjadi di Asrama Papua, di Surabaya, Jawa Timur.

“Saya minta kepolisian, setiap asrama di mana minta dijaga. Ormas manapun yang menganggu, provokatornya harus ditangkap,” kata Lenis kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (20/8).

“Siapapun dia, yang kejadian kemarin, siapapun yang melakukan bahasa apapun, Kapolri harus diperiksa dong. Jangan dibiarkan,”tambahnya.

Tidak hanya itu, Lenis menghimbau agar Ormas-ormas untuk mengendalikan diri dan tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya.

Dikatakan dia, dalam menyampaikan orasi memang tidak dilarang, tetapi sebaiknya penyampaian orasi tersebut tidak melukai perasaan orang lain atau etnis tertentu.

“Menyampaikan aspirasi di muka umum boleh. Undang-undang melindungi. Namun, jangan mengkhianati sesama, apalagi nama-nama binatang, suruh pulang lah. Itu yang membuat marah orang Papua,” paparnya.

Sementara itu, ikhwal dengan permintaan maaf Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa atas kejadian di Surabaya dan Malang?. Ia memberikan apresiasi, namun tetap kasus tersebut harus diusut secara hukum.

“Ya, itu antara pemerintah sudah meminta maaf. Namun, pelakunya kan bukan pemerintah. Oknum. Kami ingin tahu oknum ini siapa dan siapa di belakang itu. Nanti kalau dibiarkan ke depan akan terjadi hal yang sama,” pungkasnya.