Usai Bertemu Jokowi, Prabowo Tetap Ingin Pulangkan Habib Rizieq

52

MONITOR, Jakarta – Pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Joko Widodo pada Sabtu (13/7) lalu disambut baik oleh banyak kalangan. Dalam pertemuan itu, keduanya sepakat untuk menghapuskan istilah cebong ataupun kampret yang selama ini mempolarisasi masyarakat.

Meski demikian, Prabowo tetap berusaha menjadi mitra kritis bagi pemerintah. Hal itu ditegaskan oleh eks Koordinator Jubir BPN Dahnil Anzar Simanjuntak.

“Sikap Pak Prabowo saya kira sama dengan seluruh rakyat Indonesia, yakni siap membantu dan mengkritik pemerintahan Jokowi, membantu bila program pemerintah berpihak kepada rakyat, mengkritik keras bila merugikan rakyat,” kata Dahnil dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/7).

Dahnil menjelaskan, meskipun kalah dalam perhelatan Pilpres 2019, Prabowo tetap membuka ruang dialog dengan kubu pemerintah saat ini. Namun ia menegaskan, agenda rekonsiliasi kemarin tak membahas soal transaksi jabatan ataupun kursi Menteri.

“Rekonsiliasi dalam pemaknaan mengubur dendam politik, memastikan gagasan dan ide baik bisa diadaptasi pemerintah saat ini adalah penting, itu yang dikehendaki Pak Prabowo, dalam politik tidak boleh menutup dialog (unlock), tidak ada pembicaraan spesifik transaksi jabatan dan kursi menteri,” tuturnya.

Bahkan pascarekonsiliasi, Prabowo tetap mengupayakan agar peran ulama terus berkibar di Tanah Air termasuk juga mengharapkan kepulangan Imam Besar FPI Habib Rizieq ke Indonesia. Hal itu dia sampaikan secara resmi ke Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Upaya pak Prabowo ikut mengubur dendam politik, dan memastikan ulama-ulama kita bisa kembali berdakwah dengan guyub, termasuk kepulangan Habib Rizieq, sudah beliau sampaikan secara resmi melalui Pak JK,” terang Dahnil.