JABAR-BANTEN

Bandung Barat Siap Mengembangkan Tanaman Obat Skala Nasional

MONITOR, Bandung Barat – Bandung Barat merupakan salah satu daerah potensial untuk pengembangan hortikultura khususnya sayuran. Kabupaten ini kaya dengan bawang merah, cabai, tomat, buncis, kacang panjang. Tanaman obat juga berpotensi besar, hanya saja memerlukan perhatian khusus.

“Potensi lahan yang kami miliki untuk budidaya tanaman obat berada di lima kecamatan seperti Cipongkoh 20 hektare, Gunung Haru 100 hektare, Sindang Jerta 100 hektare, Cililin 200 hektare dan Rongga Jerta 60 hektare,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bandung Barat Ida Nurhamida.

Ida menyebutkan lokasi tersebut sangat potensial untuk pengembangan jahe, kunyit dan kapulaga. Petani sangat antusias mengembangkan karena kondisi unsur tanah yang mendukung.

“Kami sangat mendukung pengembangan tanaman obat. Apabila tahun depan akan dijadikan prioritas nasional, Kabupaten Bandung Barat siap untuk menjadi salah satu sentra pengembangan tanaman obat,” tambahnya.

Yono, ketua kelompok tani Harapan Desa Batulayang, Kecamatan Cilincing mengungkapkan bahwa saat ini sebagian petani menanam jahe emprit, jahe gajah, kunyit serta kapulaga.

“Tetapi hanya spot spot saja, karena kami terkendala modal. Di sini 1 kg jahe bisa menghasilkan 30 kg, 1 kg kunyit bisa menghasilkan 35 kg, sedangkan kapulaga 1 rumpun bisa menghasilkan 300 – 500 gram,” terang Yono.

Kasubdit Tanaman Obat, Wiwi Sutiwi sangat senang sekali melihat potensi pengembangan tanaman obat di lokasi ini. Dirinya yakin daerah ini cocok sebagai lokasi pengembangan dengan skala lebih besar.

“Kita akan memperluas area pengembangan tanaman obat, ke depan akan jadi prioritas nasional. Di samping itu khasiat tanaman obat tak kalah dengan obat kimia bahkan tidak ada efek sampingnya,” ungkap Wiwi.

Dihubungi terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab menyampaikan bahwa pengembangan tanaman obat pada 2020 akan diarahkan untuk pengembangan areal tanam baru.

“Hasil produksi nanti akan kami link-kan dengan industri jamu yang telah berjalan, seperti Sido Muncul, Gujati, Air Mancur dan masih banyak lagi. Apabila wilayah tersebut punya potensi yang cukup bagus maka tidak menutup kemungkinan bahwa ke depannya kami akan alokasikan APBN untuk pengembangan kawasan tanaman obat di wilayah itu,” ungkap Ismail.

Recent Posts

Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji Khusus Berhak Lunas 1448 H/2027 M

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi merilis Daftar Jemaah Haji…

3 jam yang lalu

OASE III PTKIN di UIN Sunan Kalijaga, Mahasiswa Kembangkan Inovasi Pengelolaan Limbah dan Pemanfaatan Sumber Daya Berbasis Ekoteologi

MONITOR, Yogyakarta - Kompetisi OASE III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berbagai cabang…

3 jam yang lalu

OASE III PTKIN 2026 Berakhir Gemilang: Bukti Kampus Islam Siap Bersaing di Kancah Sains dan Teknologi Global

MONITOR, YOGYAKARTA — Ajang bergengsi Olimpiade Agama, Sains, dan Riset Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri…

23 jam yang lalu

Belajar dari Kampus Peringkat Kedua Nasional THE, PTKIS Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Internal

LPM UIN Sunan Kalijaga Berbagi Strategi Implementasi SPMI Berdasarkan Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026 MONITOR,…

2 hari yang lalu

Soroti 7 Persoalan Tata Kelola, Rokhmin Dahuri Dorong Reformasi Cagar Biosfer Indonesia

MONITOR, Wakatobi - Pengakuan UNESCO terhadap suatu kawasan sebagai cagar biosfer tidak otomatis menjamin keberhasilan…

2 hari yang lalu

Hasil Ubinan BPS, Panen Padi di Cirebon Tembus 9,2 Ton per Hektare berkat Aplikasi Pureplant

MONITOR, Cirebon - Hasil panen padi petani di Blok Makam Kidul, Desa Ujunggebang, Kecamatan Susukan…

2 hari yang lalu