MONITOR, Jakarta – Kebutuhan masyarakat Afrika atas alat-alat kesehatan dan obat-obatan sangat tinggi, tetapi akses mereka masih terbatas.
Karena itu, menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk meneruskan penetrasi ke pasar Afrika, dengan memperkuat branding yang salah satunya melalui ikut partisipasi di pameran besar kesehatan Africa Health, Johannesburg, Afrika Selatan.
Hal ini disampaikan oleh Dubes RI di Pretoria, Salman Al-Farisi dalam keterangan tertulisnya, yang dimuat, Sabtu (1/6).
Menurut dia, setidaknya terdapat 4 (empat) perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam pameran kali ini, yakni PT. Biofarma, PT. Dexa Medica, PT. Phapros, dan CV. Kurniatama Lestari.
Dikatakan dia, Paviliun Indonesia yang berlokasi strategis di salah satu hall, berhasil menarik minat para pengunjung yang datang. KBRI Pretoria dan ITPC Johannesburg memanfatkan pameran ini secara maksimal untuk mengenalkan produk-produk Indonesia lebih jauh, termasuk informasi pariwisata. “Delegasi Indonesia yang mengenakan baju batik dan pakaian daerah seperti baju demang dan kebaya berhasil menjadi ciri khas yang membedakannya dengan peserta lainnya,” terang dia.
PT Biofarma, sebagai produsen vaksin dan anti-serum Indonesia yang telah mendistribusikan produknya ke 40 negara Afrika, dalam pameran ini membawa contoh vaksin campak, hepatitis B, polio, dan meningitis. “Perusahaan swasta, PT Dexa Medica, menampilkan antara lain produk obat flu, sirup penambah imunitas anak, obat alergi, diabetes, hingga pereda kembung dan mual.”
Tidak ketinggalan, sambung dia, produsen obat kenamaan Antimo, PT Phapros, mempromosikan berbagai jenis obat, antara lain guna pengobatan tubercolosis, suplemen kesehatan, dan obat-obatan berbasis herbal untuk hipertensi.
Sedangkan UMKM CV. Kurniatama Lestari memperkenalkan produk-produk kesehatan tradisional seperti teh herbal, kopi herbal, hingga perlengkapan spa seperti body scrub dan massage oil.
“Dalam rangkaian pameran dimaksud, KBRI Pretoria berhasil mempertemukan rombongan delegasi Indonesia dengan otoritas kesehatan setempat, SAHPRA (South African Health Products and Regulatory Authority), dan calon mitra kerja potensial (distributor dan perusahaan farmasi) diantaranya dari Afrika Selatan, Tanzania, Mozambik hingga Botswana.”
“Tidak hanya memasarkan produk, KBRI Pretoria juga menjembatani upaya para delegasi untuk membangun kerja sama pengembangan produk farmasi antara lain melalui joint production, joint venture atau joint research and development dengan pihak setempat,” paparnya.
Obat-obatan dan peralatan medis asal Indonesia diketahui telah merambah berbagai negara di Afrika. KBRI Pretoria terus mendorong penguatan kehadiran Indonesia di pasar Afrika, salah satunya melalui keikutsertaan pada pameran kali ini. Africa Health merupakan pameran bidang kesehatan terbesar di benua Afrika yang menghadirkan berbagai pelaku usaha bidang
kesehatan, farmasi, hingga produsen pembuat alat-alat kesehatan. Kegiatan ini setiap tahunnya berhasil menjaring lebih dari 10.000 pengunjung dan diikuti oleh 560 peserta pameran dari 39 negara. Selain Indonesia, terlihat juga partisipasi dari produsen kuat obat-obatan dan alat-alat kesehatan, antara lain, dari Amerika Serikat, Jerman, RRT, India, Jepang, Austria, Turki, dan Korea Selatan.
MONITOR, Depok - Pondok Pesantren Vocational Al-Ma’mun menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan…
MONITOR, Jakarta - Di tengah percepatan perubahan teknologi, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan tantangan perubahan iklim…
MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian terus memperkuat ketahanan dan daya saing industri perhiasan nasional di…
MONITOR, Jakarta - Kapuspen TNI Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, S.E., M.Han secara resmi membuka…
Serang - Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang, Muhammad Akbar Maulana, memberikan…
MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong percepatan transformasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif…