Bawaslu DKI Periksa Sopir Grab Pembawa Formulir C1, M Taufik Tunggu Giliran

4349
Ketua Bawaslu DKI Jakarta Muhammad Jufri (dok: Arah.com)

MONITOR, Jakarta – Pihak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta mengaku sudah meminta keterangan sopir pembawa formulir C1 asal Boyolali yang dirazia aparat kepolisian di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6) lalu.

Bahkan pihak Bawaslu menyebut sudah mendapat petunjuk untuk menguak kasus penemuan formulir C1 tersebut.

“Kami sudah meminta keterangan sopir grap yang membawa formulir C1 tersebut. Dan kami akan terus melakukan investigasi dalam kasus ini dengan meminta keterangan tambahan dari pihak-pihak lain,” ujar Ketua Bawaslu DKI Jakarta, M. Jufri, saat dihubungi wartawan, Rabu (8/5).

Terkait keterangan tambahan yang dimaksud, kata Jufri, bukan tidak mungkin pihak Bawaslu akan meminta keterangan Ketua Sekertaris Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi dalam hal ini M. Taufik.

“Semua unsur yang terkait dalam masalah ini akan kami minta keterangannya. Untuk itu, kami lihat dulu kalau ada kaitannya kita mintai keterangan ini kan masih berjalan semuanya ya,” kata Jufri.

Kalau pun ada pemeriksaan yang dialamat kan kepada M Taufik, kata Jufri, hal tersebut guna meluruskan dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta ini dalam kasus ini.

Sebab disebutkannya, dari ribuan formulir C1 yang dikemas dalam dua kardus. Salah satu kardus terdapat tulisan ‘Kepada YTH Bapak Toto Utomo Budi Santoso Direktur Satgas BPN PS Jl Kertanegara No 36 Jakarta Selatan’ dan ‘Dari Moh Taufik Seknas Prabowo-Sandi Jl HOS Cokro Aminoto no 93 Menteng Jakarta Pusat.’

“Iya mungkin diklarifikasi apa betul nama dia itu jangan-jangan cuma di tempelin orang kita kan belum tahu,” pungkasnya.

Seperti diketahui, M Taufik membantah jadi otak di balik pengiriman ribuan formulir C1 tersebut. Bahkan Ketua DPD Partai Gerindra Jakarta ini mengaku sudah difitnah dalam kasus ini.

Taufik pun mengatakan kalau dirinya tak mungkin melakukan kecurangan ini. Dia menuding orang lain yang mengirim ribuan formulir C1 dengan mencatut namanya.

“Kalau mau ngibul pakai tata krama ngibul,” kilah Taufik.