PERTANIAN

Saatnya Petani Brebes Menerapkan Budidaya Bawang Merah Ramah Lingkungan

MONITOR, Brebes – Produksi bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) cukup besar di Indonesia terdapat di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Komoditas bawang merah merupakan sumber pendapatan dan berkontribusi terhadap pendapatan daerah. Brebes memberikan andil hingga 30 persen dari total produksi nasional atau mencapai 1,4 juta ton lebih.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan intensif diusahakan petani di Kabupaten Brebes dan sekaligus menopang ekonomi rumah tangga. Pola tanam bawang merah di Brebes ditanam dengan menggunakan pola biasa, dua hingga tiga kali dalam setahun atau hanya sekali bergantian dengan padi.

Upaya peningkatan produksi sering terkendala serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berupa hama dan penyakit yang menyebabkan gagal panen atau hasil panen berkurang. Salah satu tindakan pemeliharaan tanaman yang diyakini dapat mengurangi kerugian akibat serangan OPT adalah penggunaan pestisida. Keyakinan tersebut cenderung memicu penggunaan pestisida dari waktu ke waktu.

Pestisida adalah bahan kimia beracun. Pemakaian pestisida berlebihan dapat menjadi sumber pencemar bagi bahan pangan, air dan lingkungan hidup. Pestisida menjadi bagian tidak terpisahkan dari budidaya pertanian Indonesia, tak terkecuali di Brebes. Pestisida berlebihan menjadi kendala bagi produksi bawang merah di Brebes.

Pada umumnya petani menyemprot tanamannya dengan pestisida secara intensif yang kemungkinan dapat meninggalkan residu pada umbinya. Frekuensi aplikasi pestisida mencapai 3 – 5 kali dalam seminggu dengan menggunakan lebih dari dua jenis pestisida, kadang mencapai tujuh jenis sekaligus dengan cara dioplos.

Sekitar 50 persen lahan rusak karena terpengaruh penggunaan pestisida berlebihan. Akibatnya tanah produksi menjadi ‘sakit’ dan tak bisa menghasilkan panen optimal.

Kecenderungan menggunakan pestisida kimia dibenarkan Dasuki, petani bawang merah yang bertani sejak 2005. Petani yang merupakan Ketua Kelompok Tani Bengkok di Desa Kedung Bokor, Kecamatan Larangan, Brebes ini menyatakan sulitnya mengubah kebiasaan petani.

“Iya, walaupun sosialisasi mengenai pentingnya pengendalian OPT dengan bahan pengendali OPT ramah lingkungan sudah seringkali disampaikan oleh petugas POPT setempat tetap tidak mengubah pola kebiasaan para petani,” ujar Dasuki.

Dirinya menyadari penggunaan pestisida secara masif tadi berdampak pada meningkatnya biaya produksi, belum lagi saat ini banyak pestisida palsu beredar di Brebes.

Kasubdit Pengendalian OPT Sayuran dan Tanaman Obat, Nadra Illiyana bersama Koordinator POPT Kab. Brebes, Maryadi serta POPT di Kecamatan Larangan, Raswin kembali mengingatkan petani meninggalkan kebiasaan penggunakan pestisida kimia sintetik.

“Perubahan praktek pengendalian OPT secara konvensional ke sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) perlu dilakukan secara bertahap melalui lahan percontohan budidaya ramah lingkungan yang terintegrasi serta sosialisasi yang intensif. Hal ini memang tidak mudah karena butuh waktu dan proses agak panjang,” ujar Nadra saat melakukan pendampingan.

Namun, lanjut Nadra, ikhtiar melakukan budidaya bawang merah dengan pengendalian OPT ramah lingkungan ini perlu perhatian lebih untuk mengubah tradisi agar tanah di Brebes lebih sehat.

Pada kesempatan tersebut sekaligus dilakukan sosialisasi bahan – bahan pengendalian OPT ramah lingkungan berupa feromon dan perangkap lampu untuk mengendalikan ulat bawang.

“Kementan meminta kepada semua BPTPH untuk melaksanakan pengendalian OPT secara pre – emtif dengan memanfaatkan bahan pengendali OPT ramah lingkungan yang sudah banyak dihasilkan oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP). Lakukan serta monitoring secara intensif terhadap pertanaman hortikultura sehingga gangguan OPT tidak mengganggu produksi dan mutu produk hortikultura,” ujar Direktur Perlindungan, Sri Wijayantie Yusuf.

Ditjen Hortikultura, lanjut Yanti, mendorong petani untuk menerapkan budidaya ramah lingkungan dengan mengaplikasikan lebih banyak bahan organik dan bahan pengendali biologi mulai dari persiapan lahan, pemeliharaan sampai panen.

“Hal ini tentunya perlu kebersamaan dan keinginan yang kuat dari semua pihak untuk bisa memaksimalkan budidaya bawang merah yang lebih ramah lingkungan,” tegas Yanti.

Recent Posts

Menaker: Magang Nasional Perkuat Kesiapan Kerja Generasi Muda

MONITOR, Jakarta — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan Program Magang Nasional menjadi bagian dari upaya…

2 jam yang lalu

Wujudkan Ekosistem Layanan UMKM Terpadu, Aplikasi SAPA UMKM Diluncurkan

MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Kementerian PPN/Bappenas melakukan soft launching…

14 jam yang lalu

Propam Polri Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Wujudkan Asta Cita Lewat Panen Raya Jagung di Kalbar

MONITOR, Bengkayang — Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Kalimantan Barat bersama Polres Bengkayang…

16 jam yang lalu

Jelang Puncak Haji Bus Shalawat Berhenti Sementara

MONITOR, Makkah — Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia terus mematangkan persiapan layanan menjelang fase…

18 jam yang lalu

Raker dengan KKP, Komisi IV DPR Soroti Tata Kelola hingga Keadilan Ekonomi Nelayan

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, menyampaikan apresiasi sekaligus sejumlah catatan…

1 hari yang lalu

Menaker Lantik 976 ASN, Tekankan Semangat Belajar, Integritas, dan Kekompakan

MONITOR, Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengambil sumpah/janji dan melantik 976 Aparatur Sipil…

1 hari yang lalu