Novel Baswedan Dituding Berpolitik, Ini Kata Jubir KPK

1999

MONITOR, Jakarta – Dua kelompok massa yakni dari Aliansi Pemuda Mahasiswa Pengawas KPK dan Korps Mahasiswa dan Pemuda NKRI (Kompan) menggelar aksi demonstrasi di depan gedung KPK Jakarta. Mereka menuding KPK sudah tidak independen menyusul isu penyidik senior Novel Baswedan sebagai orang partai politik.

Bersamaan dengan aksi tersebut, peringatan dua tahun teror terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, Novel Baswedan oleh massa yang mengatasnamankan Wadah Pegawai KPK juga tengah digelar di depan Gedung Merah Putih KPK Jalan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

Acara peringatan Dua Tahun Novel dijadwalkan berlangsung pukul 13.00 WIB hingga 18.00 WIB dan diimeriahkan dengan beragam acara seperi Panggung Rakyat : Aksi Damai, Orasi, Deklarasi Anti Korupsi dan Musik. Kemudian pada pukul 19.00 WIB, akan ada Sarasehan Budaya di Lobby Gedung Merah Putih KPK, oleh Cak Nun.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah yang kebetulan tengah berada diatas panggung menjawab berbagai tudingan dalam aksi tandingan itu. Febri menegaskan bahwa KPK adalah institusi yang independen.

“KPK adalah institusi yang independen. Kami pastikan itu. Sikap kita sama. Kami tegaskan seluruh pimpinan, staf dan seluruh pegawai KPK, yang berjumlah lebih dari 1.600 orang tidak boleh terafiliasi dengan partai politikndan juga politik praktis,” tegas Febri.

Terkait isu yang berkembang, bahwa ada salah satu pengurus partai menyebutkan Novel orang kita, Febri memastikan itu tidak benar atau hanya klaim.

“Jadi jika ada yang mengklaim ada orang yang dekat dengan Novel atau KPK, itu klaim sepihak. Sikap KPK sudah jelas. Ada isu-isu, itu ingin KPK ditarik ke ranah politik dan KPK menolak,” ujarnya.

“Kita tidak melarang. Demonstrasi yang menolak KPK juga kami dengar karena itu aspirasi publik yang dijamin Undang-Undang,” pungkasnya.