MRT, Bukti Keberhasilan Jokowi Wujudkan Mimpi ‘London Underground’ di Jakarta

1010
Presiden Jokowi didampingi Menhub, Gubernur DKI, dan Ketua DPRD DKI meninjau Depo MRT, di Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (6/11)

MONITOR, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap berhasil mewujudkan mimpi Jakarta dengan wajah transportasi massal yang modern. Wujud mimpi ini tak lepas dari keberhasilan mantan Gubernur DKI Jakarta itu meresmikan trasportasi massal seperti Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta.

Sekjen DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni mengatakan, keberhasilan Jokowi meluncurkan MRT di Ibukota mengingatkannya pada saat London meluncurkan Kereta Api Bawah tanah atau London Underground atau yang sering disebut Tube.

Menurut Toni, meski saat itu cuaca di London dikabarkan sangat dingin, namun tak menyiutkan antusias warga London untuk keluar rumah hanya untuk mencicipi tranportasi massal yang membanggakan tersebut. Kata pria yang akrab disapa Toni ini, peristiwa itu terjadi pada 1863 atau 155 tahun yang lalu.

“Tidak kurang dari 38.000 orang pada hari itu dengan riang gembira mencoba transportasi baru yang mengangkut mereka dari Paddington ke Farringdon,” ujar Toni, Minggu (24/3/2019).

Kini, tutur Toni, DKI Jakarta sebagai Ibukota Indonesia berhasil mewujudkan mimpi yang pada 155 tahun lalu peristiwa serupa pernah terjadi di London. Menurutnya, mimpi MRT di Jakarta bermula dari semangat Jokowi saat memimpin DKI Jakarta.

Menurut Toni, Jokowi dianggap berhasil mewujudkan mimpi ‘London Underground Tube’ di Jakarta yang saat ini tampak dalam bentuk trasportasi massal MRT. Toni menganggap, Jokowi yang memutuskan berkiprah di level kepemimpinan nasional sebagai Presiden dengan pendampingnya Jusuf Kalla terus mengawal program transportasi massal dan akhirnya berhasil melauncing MRT.

“Pada titik ini rakyat Jakarta tahu bahwa bebas macet bukan mimpi di siang bolong. Mereka sadar sekarang ada kehadiran pemerintah yang serius mengelola transportasi di kota mereka. Tidak ada alasan, bagi yang memimpin Jakarta saat ini untuk tidak meneruskan program Jokowi,” ujarnya.

Di sisi lain, Toni mengaku khawatir pekerjaan besar yang sudah dirancang Jokowi untuk mengejar ketertinggalan selama 155 tahun membenahi transportasi Jakarta akan berhenti ketika Jakarta dipimpin oleh seseorang yang mentah, belum punya pengalaman mengelola adminstrasi pemerintahan sipil.

Atau dengan kata lain, kata Toni, Jakarta dipimpin seorang Gubernur motivator yang mungkin akan keliling dari kampung ke kampung beretorika meyakinkan rakyat bahwa satu-satunya cara mengatasi frustasi akibat kemacetan adalah menumbuhkan rasa kesabaran di hati setiap warga Jakarta.

“Rasanya, retorika tidak akan pernah bisa membenahi kota. Meski diberikan kesempatan 155 tahun lamanya,” pungkas pria yang menjabat sebagai wakil sekretaris Tim Kampanye Nasional pasangan Jokowi-KH. Ma’ruf Amin ini.