Panen dan Tanam Serentak, Lumajang siap jadi Lumbung Bawang Putih Baru

1042

MONITOR, Lumajang – Tak hanya terkenal sebagai sentra pisang mas kirana, pisang agung dan salak, Kabupaten Lumajang menyimpan potensi besar menjadi sentra produksi bawang putih nasional.

Pasalnya, Lumajang memiliki bentang lahan yang secara teknis dan agroklimat sesuai untuk ditanam Bawang Putih yaitu di ketinggian diatas 800 mdpl. Wilayah tersebut adalah Kec Senduro, Pasrujambe dan Gucialit. Lumajang dikenal memiliki dataran yang subur karena dikelilingi tiga gunung yaitu Semeru, Bromo dan Lembongan. Ketinggian wilayahnya bervariasi antara 0 – 3.676 m dpl.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa Indonesia harus berdaulat dalam urusan pangan. “Selama puluhan tahun kebutuhan bawang putih nasional tergantung dari impor, padahal hanya butuh 78.000 ha Indonesia untuk swasembada, potensi lahan kita tersedia untuk memenuhi itu” tukas Amran.

Bupati Lumajang Thariqul Haq dalam sambutannya saat menerima rombongan Ditjen Horti, Kementan, menyampaikan bahwa Kabupaten Lumajang siap membuka diri dari berbagai pelaku usaha yang mendukung pembangunan pertanian di wilayahnya. “Perijinan akan saya permudah, prosesnya akan saya percepat, kalau ada yang menghambat silahkan lapor saya” sambut Bupati muda dengan penuh semangat.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, saat melakukan Panen dan Tanam Bawang Putih di Desa Argosari Kecamatan Senduro, Kamis (29/11) menyebut lokasi tersebut sangat menjanjikan untuk pengembangan bawang putih. “Saya melihat potensi Lumajang sebagai sentra bawang putih sangat besar. Ketinggian disini lebih dari 1.900 mdpl. Iklimnya cocok. Potensi lahannya bisa mencapai 1.000 Ha. Saya menilai petani disini juga antusias menanam bawang putih”, ungkap Prihasto optimis.

Menurut pria yang akrab dipanggil Anton itu, Lumajang akan diorbitkan menjadi salah satu penyangga bawang putih Jawa Timur. “Skema pembiayaan untuk program swasembada bawang putih ini ada ada 2 yaitu melalui APBN, atau melalui Wajib Tanam dan Berproduksi Importir penerima Rekomendasi Impor Produk Hortikultura atau RIPH. Saya yakin Lumajang bisa”, ujarnya.

Kegiatan panen bawang putih di Senduro dilakukan di lahan milik kelompok tani Kayu Manis yang bekerjasama dengan PT Haniori seluas 9,2 Hektari. Produktivitas panen mencapai 9,6 ton per hektar, lebih tinggi dibanding produktivitas nasional tahun 2017 sebesar 9,09 ton per hektar.

Dalam waktu bersamaan juga dilakukan Gerakan Tanam Bawang Putih seluas 12 hektar. Kegiatan tersebut merupakan kemitraan antara Kelompoktani Argotani dengan PT Aman Buana Putra dan CV Bawang Mas menggunakan benih varietas Lumbu Hijau.

Rangkaian acara panen dan tanam bawang putih juga dihadiri Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Lumajang, Kepala Dinas Pertanian Lumajang, Kepala BPTP Jatim, BPSB, PPL, Importir, Kepala Desa, Dandim dan Kapolsek.

Kepala Dinas Pertanian Lumajang, Imam Suryadi, saat dimintai keterangan membeberkan luas tanam bawang putih di wilayahnya tahun 2018 bisa mencapai 200 hektar. Yang sudah masuk saat ini ada 6 importir yaitu PT Haniori, PT Bawang Mas, PT Aman Buana Putera, PT Fajar Mulia Transindo, PT Kota Makmur dan PT Maju Jaya Niagatama”.

Menurut Anton, seluruh hasil panen bawang putih di Lumajang akan dijadikan benih untuk musim tanam berikutnya. “Kebutuhan benih per ha 600 kg, dengan luas tanam 2018 mencapai 200 ha, diperkirakan akan menghasilkan benih sekitar 600 ton. Jumlah benih demikian bisa ditanam di lahan seluas 1000 ha” tambah Anton.
“Untuk menjadi benih bermutu perlu ada pengawalan dari BPSB dan POPT setempat” tukas Anton.

Lumajang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bawang putihnya sendiri apabila luas areal tanam mencapai 300 ha. Swasembada bawang putih di Lumajang tidak mustahil dicapai karena potensi lahannya mencapai 1.000 Hektar.

Karepe, petani bawang putih Senduro mengaku senang bisa menanam bawang putih bekerjasama dengan importir. “Lha dulu itu kami pernah tanam bawang putih sekitar tahun 1980 pakai benih varietas lumbu kuning. Waktu itu saya ingat hasilnya mencapai 25 ton/ha. Lha kalau sekarang kok pemerintah punya program swasembada, tentu kami sangat senang”, ungkap Karepe semangat.